Kamis, 12 April 2012

Ibuku dimana?

Menjelang Ashar, saya baru saja melepas lelah di mesjid GKN usai berkumpul dengan beberapa anak. Radio mesjid tanda waktu Ashar akan masuk telah dinyalakan, saya pun memperbaharui wudhu, menggunakan mukena, dan sempat menelepon Kak Nieta menyampaikan kalau saya sedang di mesjid.

Tak lama setelah saya menutup percakapan via ponsel dengan Kak Nieta, berasa goyang. 'Mungkin karena belum makan' pikir saya. Namun semakin kencang dan menyadari kalau saya bukan sedang pusing,tapi gempa.

Karena seringnya merasakan gempa, saya sempat berpikir, 'mungkin sebentar lagi berhenti'
but no..no..no.. Semakin kencang. Kaca-kaca mesjid bergetar, lantai mesjid terasa benar bergoyang. Langsung saya melepas mukena dan bergegas keluar mesjid.

Saya berdiri di luar, terlihat beberapa orang berlari ke arah sp.surabaya. Wajah-wajah panik, orang-orang mengambil kendaraan dan pulang, teringat keluarga di rumah pasti. Cemas tergambar jelas dari raut wajah.

Yang ada di pikiran saya,
ibu dan adik saya. Harus segera pulang menjemput keduanya. Berulang kali saya menelepon, connection error. Rasanya air mata sudah berdesak-desakkan ingin keluar.

Sampai di taman makam pahlawan, lalu lintas sudah semrawut, mulai macet. Kecemasan membuat saya terasa lebih cepat menyelip dari tumpukan kendaraan.

Melewati SPBU Seutui menuju taman sari-gedung tsunami, itu arus kendaraan tak terkontrol, semua berebut ingin mendahului, dan saya? Menjadi minoritas kendaraan yang melawan arus. Semua menuju arah neusu-mata'ie, saya ke arah ulhe lheu. Pantai. *karena pulang lewat blouwer.

Rasanya semua terjadi begitu cepat. Pikiran saya cuma satu. Rumah. Jemput ibu dan adik kemudian segera ke tempat kakak di Mata'ie. Namun menjadi begitu sulit. Saya melawan arus di tumpukan kendaraan,nyaris tidak bisa bergerak maju.

Di tengah kekalutan saya, tiba-tiba bertemu teman. Rumahnya di Ulhe Lheu, anak-anak beliau masih kecil di rumah. Sempat bingung, bagaimana ini?
Saya memutuskan menjemput anak-anak teman saya di Ulhe Lheu. Maha Besar Allah, begitu teman saya naik di boncengan motor saya, bismillah, tujuan adalah Ulhe Lheu. Setelah itu, rasanya Allah membukakan sela-sela jalan untuk motor saya terus melaju meski melawan arus.

Teman saya terus mendoakan anaknya, suaranya terdengar mulai terisak, semoga kami masih diberi kesempatan menjemput anak-anak. Entah bagaimana ceritanya, saya bisa mengendarai motor di atas trotoar jalan dan melewati sela gerobak pisang bakar dengan cepat. Karena nggak akan bisa bergerak maju jika tetap berada di badan jalan. Di pandangan saya, tiba-tiba jalan begitu lempang. Allahu akbar..

Melewati jalan masuk menuju rumah, saya kuatkan hati, saya yakin, insya Allah, pasti Allah yang akan menjaga keluarga saya. 'Ya Allah, saya titipkan ibu dan adik padaMU' pinta saya berulang kali.

Langit cerah. Melewati pantai Ulhe Lheu, air laut tak tampak surut. Sedikit lebih tenang, namun tetap was-was.

Jemput anak-anak, bawa ke mata'ie lewat lambada. Padat luar biasa. Karena semua orang hanya ke satu tujuan yang sama. Sampai simpang dodi, sudah banyak polisi mengarahkan ke mata'ie-lambaro, jalan arah seutui-kota mulai ditutup. Mulai tambah cemas, 'Ibu dan adik saya sudah sampai mana? Sudah di mata'ie belum ya?'

sampai di simpang 3 lampu merah keutapang, makin cemas. Sepeda motor diarahkan polisi ke mata'ie, mobil diarahkan lurus ke lambaro-airport.

Satu jam-an kemudian baru sampai pemancar TVRI Mata'ie. Teman dan anak-anak turun tempat saudara. Saya bergegas ke tempat kakak.

Lewat toko kakak,tutup. Naik terus ke atas mata'ie, rumahnya kosong. Panik. Rasanya ingin menangis. Pada dimana mereka? T_T

Segera saya putar haluan. Saya harus pulang! Apalagi orang di mata'ie ada yang bilang mau ke bandara. Rasanya mau nangis saja mendengarnya.

Kembali melawan arus. Orang-orang ke Mata'ie, saya ke arah kota. Sendirian. Dengan memikul tas cukup berat. Sepanjang jalan, beberapa kali ditanya 'mengapa balik,dik?'
'jangan dulu, tinggal saja di sini dulu'

'mau jemput ibu dan adik' jawab saya selalu.

Sempat bercakap dengan seorang bapak saat terhenti sejenak. Dengan mata berkaca, bapak itu menyampaikan bahwa beliau juga tak bisa menjemput anaknya di Jambo Tape. Sedih, bapak itu juga nyaris menangis..:'( Rumah saya kosong. Daerah rumah saya sudah sepi banget. Nobody home. Tak ada tempat saya bertanya, di mana ibu dan adik saya. Luar biasa cemas. Airmata sudah berdesak-desakan hendak keluar. Ponsel nyaris mati lowbatt. Yang bisa connect malah jaringan internet, tapi untuk menelepon dan sms nggak bisa. Listrik mati.

Akhirnya saya ke Lampeunerut, tempat kakak sepupu saya. Ternyata ibu dan adik saya juga tidak ada. Kemana lagi saya harus mencari. Dimana mereka. Saya mulai tambah kacau perasaan.0
Saya pulang lagi, uda lemas. Alhamdulillah bertemu tetangga yang pulang. Katanya, ibu dan adik saya dibawa ke rumah di Mibo dengan keluarga om Budi. Alhamdulillah, lebih tenang rasanya hati saya.

Saya masuk rumah. Gelap. Lapar. Masak mie instan. Makan dalam gelap. Saat itu perasaan saya melow sekali. Terdengar suara helikopter mondar mandir memantau keadaan dari udara. Saya masukkan mukena, kaus kaki bersih,sikat gigi+odol, dan jaket dalam tas. Akhirnya, tertidur di sudut dinding ruang depan. Dan terbangun saat mendengar suara ibu dan adik saya. Alhamdulillah..malam ini saya masih berkesempatan bertemu mereka.

Pkl.22.00wib
Dalam gelapnya suasana malam tanpa listrik, pasca gempa, aroma 26 Desember 2004 silam masih tercium pekat. Tapi, langit malam ini sungguh sangat indah sekali. Begitu banyak bintang terang bertaburan memadati luasnya langit. Subhanallah.. :')

Tidak ada komentar: