Minggu, 19 Oktober 2008

Sumpah Demi Allah..

“Teh, teteh tau sumpah demi Allah itu apa?”

Yah..kira2 seperti itulah pertanyaan Alfath yang diajukan pada tetehnya di salah satu episode “Rinduku CintaMu” yang ditayangkan pada selama Ramadhan. Sejak episode ini, sa jadi senang menikmati tayangan Ramadhan yang satu ini, mungkin berbeda dgn sinetron2 Ramadhan yang suka “nyeleneh” ceritanya..

Dari sini, kita bisa belajar tentang kesederhanaan, hidup dengan penuh keikhlasan, bagaimana timbal balik antara orang tua dan anak2 dalam kehidupan SAMARA, adab bertetangga, bagaimana cara menanggapi dan menyelesaikan masalah dalam kacamata Islam, dan banyak lagi, lebih ke kehidupan nyata bermasyarakat dan alur cerita yang ringan dan LOGIS..(kebanyakan tayangan program televisi di Indonesia khan ga logis, ga mendidik, ga bernilai dan ga berbobot, bikin males!). Dan yang terpenting, ada pelajaran yang bisa kita dapatkan darinya.

Semoga beranjak dari tulisan ini, sa tidak disangka sebagai promotor tayangan tsb..;)

Ceritanya, alfath, seorang bocah SD menemukan seorang Bapak yang terluka parah di kakinya, namun alfath tidak mengetahui bahwa luka tersebut adalah luka tembak, alfath-pun membawa bapak tsb ke sebuah pondok, setiap hari alfath membawa makanan dari rumahnya untuk Bapak tsb, membawa pakaian dan kain sarung, dengan diam2 tentunya tanpa sepengetahuan orang tuanya, ketika Bapak tsb demam tinggi karena lukanya infeksi, alfath meminta obat di Bidan Desa, namun tidak diberi dgn alasan alfath tidak sakit..(Ya, alfath mmg tidak mengatakan untuk siapa obat yang dipinta tsb), akhirnya alfath nekat mengambil obat tsb, hingga membuat si Bidan Desa marah dan melaporkan perbuatannya pada kedua orangtua alfath.

Walaupun orang tuanya “menyidangnya” atas perbuatannya, alfath hanya mengakui perbuatannya, mengakui bahwa yang selama ini mengambil makanan di dapur adalah dirinya, mengakui bahwa yang mengambil pakaian dan kain sarung ayahnya adalah dirinya, namun, ia tidak membuka mulut terhadap alasan mengapa ia melakukan itu semua. Pelajarannya lagi, orang tuanya begitu memahaminya, dan percaya anaknya jujur karena telah dididik dengan kejujuran, dan membuka kesempatan waktu untuk alfath kapanpun ia ingin dan mau menceritakan alasannya. =)

Sayangnya alfath tidak mengetahui bahwa ternyata Bapak yang ditolongnya itu adalah seorang pembunuh yang lari dari penjara, dan luka di kakinya adalah luka tembak ketika ia melarikan diri dari penjara.

Kenapa alfath tidak pernah menceritakan “teman” barunya itu pada orang lain, temasuk pada kedua orang tua dan tetehnya?

Karena, alfath telah BERSUMPAH DEMI ALLAH sesuai kesepakatan bersama Bapak itu untuk merahasiakan keberadaan Bapak tsb di pondok yang sekarang dinaunginya.

Walaupun pada saat itu alfath belum mengetahui apa yang dimaksud dengan bersumpah demi Allah? Namun ia begitu keukeuh memegang janji dan amanahnya, hingga akhirnya ia menanyakan pada tetehnya dan mendapatkan penjelasan jelas dari ayahnya maksud dari Bersumpah demi Allah, ia hanya mengatakan “tidak ada apa2” ketika ayahnya menanyakan kenapa ia bertanya tentang itu.

Hingga pada suatu siang, ketika ia ke warung untuk suatu hal, dan orang2 membicarakan tentang pembunuh yang lari dari penjara itu, alfath-pun jadi mengetahui, bahwa orang yang ditolongnya adalah seorang penjahat.

Lantas, apakah saat itu juga alfath langsung mengkhianati janjinya? Amanah yang dititipkan padanya untuk merahasiakan keberadaan pembunuh itu?

Tidak, alfath tidak membocorkannya pada orang2 sekampung..

Lalu, bagaimana respons alfath ketika mengetahui kebenaran status orang yang telah ditolongnya?

Marah? Tentu saja.

Merasa dibohongi?

Pasti!

Alfath langsung mendatangi Bapak tsb, marah..protes..kenapa dibohongi??

Sedemikian marahnya, Bahkan mengancam akan mengatakan pada orang2 sekampung ttg keberadaan Bapak tsb.(Sungguh, ni session yang paling menyedihkan sepanjang episode, hks2.sampai nangis waktu nontonnya!(”,)).

Lalu, bapak itu pun menjelaskan dgn kesungguhan, knapa ia sampai lari dari penjara, tak lain dan tak bukan adalah karena keinginan yang begitu besarnya untuk bertemu ibunya yang telah sakit2an, ia ingin meminta maaf pada ibunya sebelum terlambat, karena selama ini betapa ia selalu dan senantiasa menyakiti ibunya…setelah bertemu ibunya, ia berjanji akan segera menyerahkan diri ke polisi.

Alfath tidak mungkin mampu sendirian memapah bapak tsb ke rumah ibunya, untuknya alfath meminta bantuan tetehnya..awalnya, tentu saja tetehnya menentang, hingga akhirnya tetehnya bersedia ikut membantu Bapak tsb bertemu dgn ibunya.

Nurut sa, ceritanya sungguh luar biasa…

Betapa bangga dan bahagianya memiliki anak seperti mereka.

Dari sini, bisa belajar mendidik anak, bagaimana di usia yang demikian belianya, si anak bisa bersikap demikian bijak, tidak gegabah, dan begitu memegang amanahnya, tentu saja semua itu tak lepas dari bagaimana didikan dari kedua orang tuanya, right?

Belajar, bagaimana memegang amanah, belajar banyak hal..

Semoga, ketika kita menjadi orang tua bagi anak2 kita nanti, kita dapat menjadi madrasah terbaik untuk anak2 kita, melahirkan dan mendidik mujahid/ah yang shaleh/ah, cerdas, bijak, amanah, dan bertanggung jawab, bukan hanya terhadap dirinya dan keluarganya, tapi juga terhadap orang lain. AminYaaRabb.

2 komentar:

ardian pram mengatakan...

Iya nihhh bagus sinetronnya
tapi jarang nonton juga eeuyy
mhhhh, he3x emang jago
Dedi Mizwar bikin cerita ...

Semoga mke epan makin banyak sineas-sineas yang memberikan tontonan yang mendidik buat masyarakat

Sarah Mellina mengatakan...

ia, sa jg nonton na kadang2, alnya malem banget tanyangannya..

ia, semoga..^_^
alnya yg skarang banyak banget yg nyeleneh,