Jumat, 04 Oktober 2013

H- 2w

Tak terasa 36 minggu sudah dilalui. Ya, menurut prediksi dokter, insya Allah lebih kurang tiga minggu lagi saya akan melahirkan anak pertama kami. Moment USG kali ini benar-benar membuat saya ingin menangis. Bagaimana tidak, selama tujuh bulan kehamilan, baru di bulan kedelapan ini BB (Berat Badan) calon bayi kami berada di garis normal, 2,3kg. Setelah sebelumnya, selalu bobotnya berada lumayan jauh dari garis normal, kurang 400gr-600gr. Sedih sekali. Di bulan kedelapan ini pula, Alhamdulillah, posisi kepala bayi saya juga sudah berada di bawah, setelah sebelumnya selalu berada di atas, membuat saya khawatir tidak dapat melahirkan secara normal.

Tak terasa 36 minggu sudah saya menjalani kehamilan ini. Rasanya? Amazing. Haru, bahagia, semua campur aduk jadi satu. Kehamilan yang membuat saya semakin mencintai orang tua, suami, dan sahabat-sahabat saya. Bagaimana tidak, mereka selalu menguatkan saya "tak semua ibu hamil bisa jadi super women".

Seringkali saya stres ingin bekerja, ingin punya penghasilan agar tak memberatkan suami saya, agar dapat membantu keluarga saya. Selalu berusaha untuk kuat, hasilnya ... selalu berujung KO. Semakin saya memaksakan diri, semakin membuat kondisi saya lebih parah, ujung-ujungnya saya tambah stres. Merasa depresi sendiri dengan kondisi saya.

Sejak awal kehamilan, bisa dibilang saya selalu bedrest, terutama empat bulan pertama, dimana berat badan saya seharusnya bertambah, saya malah kehilangan bobot hingga sepuluh kilogram karena hiperemesis. Seharian hanya bisa menghabiskan segelas teh hangat. Tak lebih. Muntah dari pagi sampai malam, banyak bergerak sedikit langsung keluar flek, tak bisa duduk akhirnya hanya bisa berbaring. Bulan-bulan pertama kehamilan, saya tak lepas dari obat penguat kehamilan, obat anti kontraksi, dan obat-obat lain yang membuat saya semakin semaput rasanya.

Pernah di semester pertama kehamilan, saya mengikuti suami ke Jakarta untuk suatu keperluan, alhasil, saya pendarahan. Saat itu saya benar-benar takut. Takut kehilangan buah hati kami. Suami tak kalah cemas. Meski berusaha ditutupi, saya dapat melihat dengan jelas kecemasan di wajahnya, merasakan hal yang sama. Alhamdulillah, setelah mendengar detak jantung calon buah hati kami saat di RS, rasanya bahagia dan lega sekali. Subhanallah... itulah pertama kalinya saya dan suami mendengar detak jantungnya. Haru ....

Hingga minggu ke-36 kehamilan ini, tak cukup hanya rasa terima kasih yang dapat saya berikan untuk suami saya. Mengingat selama menjalani kehamilan pertama ini, bisa jadi beliau-lah yang paling lelah. Lelah mengurusi saya. T_T

Mengurus semua keperluan saya, mengambil alih semua tugas-tugas saya, mencuci, menyetrika, memasak, mencuci piring, menyapu, merawat saya, menyuapi saya, sampai membersihkan muntah saya yang kadang tak terkontrol hingga mengotori tempat tidur *nangis

Setiap pagi sebelum ke kantor, beliau selalu menyuapkan teh hangat sesendok demi sesendok untuk saya, menyiapkan biskuit dan teh hangat cadangan selama ia di kantor, meletakkan di sisi tempat tidur yang bisa tangan saya jangkau tanpa harus duduk. Setiap istirahat siang, ia menempuh jarak tak kurang dari setengah jam perjalanan dari kantor ke rumah hanya untuk menyuapi saya makan, membantu saya berwudhu, menyiapkan nasi dengan sayur bening, menyuapkan saya meski seringkali semua kembali termuntah setelah selesai makan. Pulang kantor pun, beliau masih mengurusi saya, membersihkan badan saya, menyalin pakaian, memijit kaki dan kepala saya agar saya merasa lebih enakan. Beliau juga men-downlod berbagai film animasi yang lucu-lucu agar saya tak bosan. Hampir sembilan bulan sudah beliau melakukan semua itu untuk saya.Fabbiayyi alaa irrabbikuma tukadziban, ucapan terima kasih sungguh tak cukup rasanya untuk beliau, suami saya .... T_T


Sejak memasuki semester kedua, jantung saya mulai sering sakit. Di bulan ke-tujuh kehamilan saya lalu, saat bobot bayi kami masih 1040gram, posisinya sudah turun ke pinggul, saya diharuskan bedrest, tidak boleh banyak bergerak, khawatir jika lahir prematur bobotnya masih terlalu kecil. Namun, suami saya selalu menyemangati, meyakinkan saya, kalau saya pasti kuat, saya pasti bisa melalui masa-masa kehamilan ini. Dan ia benar, setiap kali merasakan gerakan calon bayi kami, semakin aktif, membuat saya semakin kuat karena perasaan bahagia. Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban .... :')

Insya Allah, satu atau dua minggu lagi buah hati kami dijadwalkan lahir, semakin hari ada rasa semakin khawatir, apakah saya mampu melahirkan normal? Suami saya kembali tak pernah bosan dan lelah meyakinkan kalau saya pasti bisa, senantiasa memberikan afirmasi positif, berbicara pada calon bayi kami, meng-sugesti saya bahwa melahirkan adalah proses alami, saya pasti bisa melahirkan dengan nyaman, sehat. Insya Allah, Allahumma Aamiin .... :-)

Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban ... Sujud syukur saya telah Allah anugerahkan seorang suami yang luar biasa kesabaran dan lembut hatinya, memberi saya kesempatan untuk merasakan menjadi calon dan seorang ibu, Insya Allah ... semoga saya dapat menjaga amanah dan anugerah indah ini dalam koridor keridhaan-Nya, Allahumma Aamiin.



7 komentar:

buzzerbeezz mengatakan...

Semoga lancar ya Sa sampe lahiran. Haru banget ceritamu..

rainy safitri mengatakan...

cemungudh... Sarah hebat, Sarah bisa! :)

Fardelyn Hacky mengatakan...

Semangat ya Sarah

Sarah Mellina mengatakan...

hihihi, sa ga tau gimana cara replay langsung comment di blog *dong2

nuhun,P Ari , semoga demikian pula atas mba nennis senantiasa dalam kesehatan hingga melahirkan nanti .... :-)

mba ingeeee ... , hatur nuhun uda setia menemani sejak awal kehamilan, tambah cinta, ih .... :-*

makasih k eki ... kakak keren kali, sering baca blog kakak juga :-)

alex moore mengatakan...

Apakah Anda membutuhkan pinjaman jika ya maka hubungi kami sekarang melalui email: am.credito@blumail.org

adisty nur anggita mengatakan...

Subhanallah....sbnrnya spechless baca tulisan sa ini...
tp, inilah br namanya greatMom&DAd
Barakah hingga saat pertemuan nanti ya... buat keluarga...sa, suami dn aisyah...yg tlah jd bukti Maha kasih sayang dan pertolongan Allah trus juga tentang ketangguhan ummi abiinya...
its precious soo inspiring sa...

adisty nur anggita mengatakan...

Subhanallah...T.T spechless
ini baru great Mom&DAd...
aisyah bener2 bukti Mahanya kasih sayang Allah dn juga tentang ketangguhan ummi abiiny...barakallahulakum...
its so precious soo inspiring sa...