Tampilkan postingan dengan label Diantara Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diantara Kita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Januari 2016

Pengalaman Pertama Aisyah ke Dokter Gigi

Pagi ini, Aisyah dan Bunda sudah bersiap. Kemarin bunda sudah request appointment di Alia Dental Care. Yup, aisyah akan melakukan kunjungan dokter gigi pertamanya. Aisyah dapat nomor antri pertama, Pkl. 08.00 wib Alhamdulillah.


Kami tiba di Alia Dental Care Pkl. 07.50 WIB dan dokter sampai Pkl. 08.00 WIB. Meski beliau tepat waktu, begitu melihat kehadiran kami, beliau mengatakan "Maaf, saya terlambat" sambil tersenyum. Kesan pertama yang menyenangkan. 😊


Setelah mendapatkan kesan pertama dari dokter yang menyenangkan, selanjutnya lebih menyenangkan, lho. Jam konsultasi pasien tidak dibatasi. Aisyah sendiri ditangani selama 2 jam.

2 jam? Enggak salah, nih? Kok, lama banget? Gigi Aisyah bermasalah? Perlu tindakan serius?

Alhamdulillah, no... no... no... Gigi aisyah sejauh ini masih baik-baik saja. Lha,terus ngapain aja dong sampai 2 jam baru kelar?

Prosesnya. Proses yang menyenangkan.

Awalnya, Bunda mengisi form yang berisi beberapa pertanyaan seputar aisyah sebagai pasien. Ini juga nanti jadi bahan konsultasi dan evaluasi untuk bunda dari dokternya.

Bertemu dokter, aisyah enggak langsung diajak ke ruangan dokter, tapi main dulu sama bunda dan Bu Dokter. Yup, di sini ada ruangan bermai yang asik banget. Ada boneka, mainan edukatif, sampai buku anak yang bikin betah lama-lama.

Salah satu sudut "ruang konsultasi" di Alia Dental Care

Aisyah asyik sama buku anak yang ada di ruang konsultasi.

Di ruangan ini, sambil bermain dokter melakukan pendekatan dengan anak. Aisyah diajak mengobrol, meski awalnya diam, akhirnya aisyah menanggapi.

"Aisyah suka makan kue" kata Aisyah
"Wah, kue-nya enak ya" sahut dokter
"Iya" jawab Aisyah

Setelah makan kue, aisyah diberi sikat gigi dan diajari menyikat gigi yang benar di gigi boneka dulu.

Aisyah ikut praktek sikat gigi boneka. Ini saat boneka belum mau didekati πŸ˜…

Setelah Aisyah enjoy dan merasa nyaman sama dokter, mulut aisyah uda mau dibuka dan giginya uda mau dilihat sama dokter, kemudian aisyah diajak jalan-jalan ke ruangan dokter yang bunda suka, bunda suka ciamik.

Saking bunda ikut asik ngobrol tapi konsultasi, sampai lupa foto waktu aisyah duduk di kursi periksaπŸ˜…πŸ˜.

Awalnya Kami heran, sudah 30 menit berlalu, kok pasiennya hanya Aisyah? Belakangan kami baru menggetahui, kalau pasien nomor antri selanjutnya akan dihubungi perawat saat pasien sebelumnya telah selesai. Jadi, begitu aisyah selesai, perawat langsung menghubungi pasien selanjutnya.

Alia Dental Care khusus menangani pasien anak dari usia 0 tahun sampai 12 tahun.

Dari sini, bunda tahu kalau dokter ingin memberikan kesan pertama yang baik terhadap kunjungan ke dokter gigi. Tidak menimbulkan trauma. Ke dokter gigi itu menyenangkan. Ke dokter itu tidak menakutkan. Menurut bunda, ini penting. Aisyah sampai enggak mau pulang, lho! Aisyah cerita ke ayah, kalau ia pergi ke dokter gigi, main, baca buku, sikat gigi boneka, bu dokter baik, aisyah senang, dan lain-lain. Saat ditanya, "aisyah nanti kita ke dokter gigi lagi, ya?" Langsung dijawab "Okey!" sama Aisyah. Alhamdulillah. 😘

Daaaaaaan, inilah dokter gigi pertama Aisyah yang baik dan menyenangkan.
drg. Ayu Alia Sp.KGA (Pediatric Dentist)

Kita juga bisa baca artikel seputar kesehatan gigi anak di blog https://aliadentalcare.wordpress.com/author/pediatricdentistbatam/

Sabtu, 03 Oktober 2015

Asyiknya Hobi Aisyah!

Akhir-akhir ini Aisyah lagi senang banget sama kelinci, mulai dari kelinci hidup yang kami pelihara sampai buku cerita tentang kelinci yang saban hari "dibacanya" enggak bosan-bosan. Buku tentang lain suka juga, sih... tapi, yang bikin betah berlama-lama dengan muka serius atau cerita dengan antusias, untuk saat ini ya buku-buku tentang kelinci.

mau tidur ambil buku, di samping tempat tidur khusus beberapa buku pilihan Aisyah.

Alhamdulillah, Aisyah suka membaca. Kami membiasakan diri membacakan aisyah berbagai buku sejak Aisyah bayi sekarang kalau ditanya,
"Aisyah suka baca buku?"
-suka
"Asyik, ya?"
-iya
"Aisyah hobi ya baca buku?"
-iya

hihihi, macam uda ngerti apa itu hobi ya,Nak? :-D

Setiap pagi ikut belanja, pulangnya masuk rumah langsung ambil buku duduk di lantai "baca" buku serius

Bunda lebih tenang masak dan beres-beres rumah saat Aisyah asyik sama bukunya daripada sama mainan lain, lebih tahan lamaaa antengnya.

Ajak Aisyah pilih buku yang diinginkannya, tumpuk samping kursi anginnya, insya Allah, aman!

Apalagi kalau ditambah cemilan, makin anteeeeng sampai bunda selesai masak dan beres-beres :-D

Bunda uda beres semua, temani aisyah baca sambil dengarin aisyah cerita versi aisyah tentang buku yang dibacanya

mulutnya sampai segitunya :-D

Masih senang baca buku bareng ayah atau bunda juga :-)

Alhamdulillah, Aisyah 23 bulan sudah punya hobi yang baik, semoga bertahan hingga tua, membaca buku yang baik dan bermanfaat. Barakallah, Aisyah... semoga yang Aisyah senangi senantiasa barakah dan bermanfaat, baik untuk sendiri maupun orang lain. We love you, dear :-)

note : menulis ini, saya semakin rindu sama flp aceh. Kak Beby, Kak Aini, Kak Fida, Kak Mala, Mba Inge, Kak Riza, Ade, semuanya.

Sabtu, 05 September 2015

Acara 17-an 2015

Setiap tahunnya, di Perumahan tempat kami bermukim saat ini 17-an agustus punya agenda bazar, berbagai lomba, dan jalan santai dengan banyak doorprize, dari yang kecil sampai barang elektronik yang cukup besar.


Kami mengikuti jalan santai, dreescode tahun ini baju merah, untung Aisyah punya baju merah oleh-oleh dari Batam :-D Alhamdulillah, Aisyah cukup kuat jalan mengikuti rute yang ditetapkan. Setiba garis finish, masing-masing dapat sepaket sarapan dengan menukarkan kupon peserta sambil ikuti pembagian hadiah doorprize.

Lamaaaa, nomor kami bertiga tidak keluar sebagai pemenang doorprize, sampai sayang ekpresi Aisyah yang entah bingung atau sedih melihat anak-anak lain yang duduk di sekitar kami hampir semua sudah memegang hadiah. Ayahnya sudah menghibur," ini just for fun, jangan sedih kalau kita enggak dapat berarti belum rezeki kita."

Tak lama setelah ayah aisyah menghibur Aisyah, jreng...jreng... nomor aisyah disebut panitia dan dapat doorprize tempat minum tupperware. Alhamdulillah, Aisyah senang bukan main. Senyum-senyum terus :-D


Disusul nomor undian bunda Aisyah dapat raket nyamuk, Alhamdulillah... :-)

Setelah dapat hadiah, hayuuu kita pulang. Hihihi, enggak ding, kami memang kebagiannya pas di akhir-akhir acara. Waktu pun sudah menjelang dzuhur, bunda belum masak makan siang, bunda pun kode untuk makan di luar *modus

Aisyah tertidur kecapean

Minggu, 30 Agustus 2015

Bayam yang Ditinggal Mudik

H-1 mennjelang lebaran Idul Fitri, saya dan Aisyah-putri kami, pulang ke rumah orang tua saya di Batam karena ayah saya sakit dan kondisinya mengkhawatirkan. Syafakallah syifaan ajilan, Abusyik Aisyah :'(

Di Jepara, kami-saya dan suami, menanam beberapa jenis tanaman yang biasa digunakan untuk memasak, seperti jahe, serai, cabai, dan sayuran, salah satunya bayam. Setelah kondisi ayah saya mulai membaik, suami menyusul ke Batam sekalian menjemput kami balik ke Jepara.

Lebih kurang sembilan hari di Batam, kami balik Jepara, walaupun saya masih berat mengingat kondisi ayah saya belum stabil. Sesampai di rumah Jepara, saya terkejut melihat kondisi halaman rumah kami seperti hutan belantara. Rumput yang tumbuh memenuhi sela-sela semen, daun kering, dan tanaman yang ukurannya jumbo-jumbo. Kami memang menitipkan kunci rumah pada tetangga agar bisa tolong menghidup-matikan lampu teras, Alhamdulillah, tetangga kami ternyata juga tolong menyirami tanaman kami.

Subhanallah, keesokannya minggu pagi kami gotong-royong membersihkan halaman, menyiangi rumput, juga menebas sayuran bayam yang tingginya uda sampai dua meter hingga akarnya sedikit mengangkat semen di halaman. Bayam dari benih yang tercecer.


Daun bayamnya yang super lebar saya olah menjadi keripik bayam, setoples besar dan aisyah doyan banget, yummy! Alhamdulillah 😊

Sabtu, 03 Januari 2015

Mesjid bersih hati pun jernih

Masih seputar Semarang, sepulang dari kopdar KPBA di rumah Kak Taro-Lestari sudah memasuki waktu dzuhur, jadilah kami mampir di mesjid terdekat. Lihat kiri-kanan jalan, bertemulah dengan Mesjid Raya Candi Lama di sisi jalan wahidin 109 Semarang.


Memasuki halaman mesjid, saya langsung kagum dengan pengelolaannya. Tampak sekali mesjid ini hidup saat saya membaca papan besar kegiatan rutin, mading yang update info, dan beberapa koran hari ini. Selain itu, baru kali ini saya mendapati mesjid yang memiliki klinik dengan beberapa dokter spesialis, tempat travel, mini market, serta yang paling spesial ada tempat kajian akhwat di lantai dua selain kantor Baitul Mall mesjid.



Saat memasuki tempat wudhu dan toilet, saya senang sekali. Toilet bersih dan harum, begitu pula tempat wudhu. Tak ada genangan air, lumut, atau pekakas yang berserakan. Bersih! Selain itu, ada keran khusus cuci kaki di depan pintu keluar-masuk toilet-tempat wudhu yang terhubung dengan tempat sholat wanita. Ini jarang sekali saya temui. Jadi, kita tidak perlu khawatir ada najis yang tertinggal atau jejak tapak kotor sebelum memasuki lantai mesjid.


mukena juga tergantung rapo, bersih, dan harum.

Saya pribadi, senang sekali setiap mendapati mesjid yang bersih seperti ini. Tidak menimbulkan uneg dan prasangka terhadap pengelola mesjid.
"Kok tempat wudhu-nya lumutan, ya? Kamar mandinya bau."
"Hambal mesjidnya banyak debu, emangnya enggak ada yang bersihin?"
"Mukenanya kotor dan bau banget, untung bawa sendiri, kalau enggak beneran bikin enggak kusyuk saking baunya."
dll, dst...

Astaghfirullah...

Begitulah... apakah mungkin teman-teman merasakan hal yang sama saat mendatangi mesjid yang kurang terurus?
Ah, mesjid bersih itu memang dambaan setiap muslim, selain memberi perasaan lebih nyaman, insya Allah ibadah tenang, hati senang... enggak pakai su'udzon sama pengelola mesjid. Betul... betul... betul?:-)

Sabtu, 29 November 2014

Yuuuk, ke tempat Si Moo!

Di Kudus ada salah satu tempat favorit yang selalu diusahakan mampir kalau lagi ada pinjaman kendaraan jalan-jalan, tempat Si Moo- peternakan susu sapi muria. Aisyah senang main ke sana, melihat sapi perah yang gemuk-gemuk dan tentunya menikmati susu sapi segar dengan aneka pilihan rasa.

salah satu sudut di Peternakan Sapi Muria

Kebetulan, kemarin ada teman kantor Ayah Aisyah melaksanakan resepsi pernikahan di Pati, jadi pulangnya mampir ke tempat si Moo, secara dari Jepara-Pati kan melewati Kudus. Kedatangan kali ini si Moo lagi malas-malasan, Aisyah enggak tau kenapa ... padahal biasanya kalau Aisyah datang si Moo lagi main-main (hihi). Mungkin si Moo belum makan, mungkin juga karena sedang hujan membuat si Moo ingin santai, pinginnya sih main hujan, tapi enggak dijiinin sama Bapak pengawas, nanti Moo flu katanya. =-D

Para Moo di Peternakan Susu Sapi Muria, Kudus.

Selain melihat-lihat si Moo, Aisyah juga suka melihat banyak gambar hasil karya kakak-kakak TK dan SD yang dipajang di dinding dekat kandang peternakan. Bagus-bagus, lho! Sepertinya, peternakan ini juga sering mengadakan lomba menggambar dan mewarnai tingkat TK dan SD. Hasil gambar dan mewarnai terbaik dipajang di dinding peternakan.

Hasil karya lomba menggambar dan mewarnai di Peternakan Sapi Muria, Kudus.

Di sana juga ada menjual ular cobra dan biawak, tapi kami belum pernah melihatnya, hihihi, horor. :-D

Kita juga bisa melihat "isi pabrik" susunya. Waa, ada beberapa wadah besar untuk memanaskan susu. Susu yang disediakan juga ada berbagai rasa, lho... selain original, ada coklat, strawberry, melon, kopi, madu, atau sirup aneka rasa buah.

Melihat Dapur Susu Sapi Muria

Kami biasa membeli yang rasa original seharga Rp. 4000,-/gelas, coklat tawar Rp. 4.200,-/gelas, dan coklat manis Rp. 4.400,-/gelas. Susu aneka rasa itu dihasilkan dari susu sapi murni dicampur bubuk coklat, kopi, madu, aneka buah, atau sirup. Kalau Aisyah sih suka yang original aja. :-)

Hujan membuat aroma di sekitaran tempat kami duduk menjadi lebih "harum" dari biasanya. Maklum, lokasinya dekat kandang si Moo. Akhirnya, kami memutuskan untuk bungkuuus bawa pulang. Waktu berjalan pulang, kami berpapasan sama mobil yang membawa makanan si Moo. Makan yang banyak ya, Moo ... supaya sehat dan kuat!

rumput buat si Moo

Sampai rumah, Aisyah langsung menikmati susu sapi segarnya, Alhamdulillah ... Yummy!

Segelas susu segar original

Selasa, 25 Maret 2014

LDR

Kata teman-teman LDR itu enggak enak, pasti-lah, ya ... dua hari suami dinas keluar kota aja rasanya uda gimanaaa gitu, biasa siang makan bareng, sore cerita-cerita, malam ngobrol-ngobrol, hari itu enggak ada. Meski bisa ngobrol via telepon tapi kan terbatas. Terbatas waktu, pulsa, aaah, pokoknya kehadiran itu enggak tergantikan, deh.


sumber gambar : google-lukmanfauzan.blogspot.com

Nah, enggak lama lagi saya harus siap-siap LDR-an sama suami, hks...hks.. sebenarnya rasanya beraaaaaat banget, tapi mau gimana lagi, demi kelanjutan nasib rumah tangga kami (halah), yaaa, mau enggak mau LDR adalah win-win solution untuk kami saat ini.*miris

Saya selalu teringat nanti suami makannya gimana? waktu puasa gimana? kalau kangen gimana? kalau suami sakit gimana? yang bersih-bersih rumah, rapikan pakaian? sarapannya, makan siang, makan malam? kalau rindu masakan saya gimana? (hihi, yang terakhir mah saya aja yang ge-er :-D). Pokoknya banyak pikiran yang berseliweran di kepala. Intinya saya khawatir, meskipun suami pernah nge-kost teuteup aja, seperti kata suami, selama nikah ia bergantung banget dengan saya. Sejujurnya, saya juga bergantung banget sama suami.

Sebenarnya saya ingin marah, tapi buat apa? cuma bikin stres sendiri. Berapa lama LDR-an? Belum tahu, mungkin setahun, dua atau tiga tahun. Semoga tidak terlalu lama, Aamiin.

Okey, sekarang saya harus semakin menyiapkan mental saya dan terutama Aisyah, karena Aisyah sangat dekat dengan ayahnya, saya juga baru kali ini bakal berjauhan dengan suami, hks..hks.. sebenarnya mengingat hari perpisahan yang semakin dekat membuat saya berkali-kali ingin menangis. Saya harus kuat... harus kuat... harus kuat!


Teman-teman yang pernah LDR-an dengan suami, bolehkah berbagi cerita bagaimana menjalani hari-hari? menyimpan rindu dan mengasuh balita tanpa suami di dekat kita? :-)

Musim Rambutan

Sudah hampir tiga bulan ini di Jepara-tempat domisili saya setahun terakhir sedang musim rambutan. Sebenarnya biasa aja kali, ya... musim rambutan kan terjadi di setiap daerah. Namun, ada yang membuat saya lumayan heran. Biasanya,jika musim rambutan di Banda Aceh, Batam, atau Medan paling banter yang saya lihat cuma sekitar tiga atau empat mobil pick up saja yang menjual rambutan dalam jumlah massal, kalaupun tempat khusus jual buah ada menjual rambutan hanya beberapa ikat saja.

Di Jepara ini yang mengangkut rambutan bukan hanya mobil pick up, tapi truk, container box, sampai semi fuso yang ban mobilnya ada selusin itu setiap hari layaknya seperti mengangkut pasir, rambutannya sampai menggunung, Subhanallah ... benar-benar membuat saya terheran-heran.



Foto : Pick up dan Truk pengangkut rambutan

Rambutan-rambutan itu diperoleh dari masyarakat dengan cara mencicil. Biasanya, masyarakat membawa rambutan menggunakan sepeda motor sekitar sepuluh sampai dua puluh ikat kemudian dijual ke pemilik mobil besar itu. Setelah mobil penuh, baru deh jalan. Makanya tak heran kalau jalanan jadi macet total kalau sore-waktu pelaksanaan transaksi. Ya, semua transaksi jual beli dilakukan di tepi jalan. Kebetulan setiap tahun pusat kolektif rambutan berada di sepanjang jalan depan rumah kontrakan kami, tak heran kalau sore depan rumah jadi pasar dadakan.


Foto : Rambutan hasil kolektif :-D


Kok bisa ya rambutannya sampai sebanyak itu? Sebenarnya wajar sih, saya perhatikan setiap rumah di Jepara ini halamannya luas-luas dan masing-masing rumah minimal ada dua pohon rambutan di halamannya. Rumah kontrakan saya sendiri, ada empat pohon rambutan di halaman depan dan satu pohon di halaman belakang, masing-masing pohon buahnya bisa mencapai 500-an buah. Subhanallah, banyak sekali kan?

Wah, berarti harga rambutan di Jepara murah dong,ya? Menurut saya, masih cukup mahal. Satu ikat rambutan harga pasarannya Rp.35.000,- sampai Rp.20.000,- isinya sekitar 40-an buah. Sebab harganya yang masih cukup mahal, banyak masyarakat yang menjual sendiri rambutannya di tepi jalan aka tidak menjual pada pemilik mobil besar.


foto : Penjual Rambutan

Rambutan sebanyak itu dibawa kemana aja? Awalnya saya mengira ada pabrik rambutan kaleng di Jepara atau Semarang yang menampung rambutan sebanyak itu. Ternyata, rambutan-rambutan itu didistribusikan ke Semarang, Bandung, sampai ke Jakarta.

Nah, untuk jenisnya juga bervariasi lho... Menduduki posisi pertama itu rambutan jenis lengkeng. Padahal dari segi bentuk sangat tidak menarik, warnanya umumnya hijau dan kecil, tapi rasanya seperti buah lengkeng, makanya harga rambutan jenis ini yang paling mahal dijual, pasarannya Rp.35.000,-/ikat. Kemudian rambutan binjai. Kulitnya merah, buahnya besar, dagingnya tebal dan manis dengan biji yang kecil, harganya Rp.30.000,- sampai Rp.25.000,-/ikat. Selanjutnya rambutan biasa dihargai Rp.20.000,-/ikat.



foto : rambutan jenis lengkeng

FYI, di Jepara ini orang-orang menyebut rambutan yang manis dengan BUAH ACEH, sedangkan untuk sebutan rambutan adalah buah rambutan yang asam.

Minggu, 02 Maret 2014

HANYA CINTA YANG BISA

Alhamdulillah karena pertolongan Allah, tanggal 23 Oktober 2013 lalu saya dapat melahirkan putri pertama kami dengan selamat setelah berjuang selama dua hari di ruang bersalin. Rasa syukur, haru, bahagia bercampur jadi satu. Menjadi seorang ibu adalah rezeki paling indah dari Allah.

Kebahagiaan saya semakin bertambah ketika ternyata Rumah Sakit tempat saya bersalin menerapkan program IMD ( Inisiasi Menyusu Dini), Subhanallah… rasa bahagia saat IMD membuat saya lupa kalau saya sedang “diobras” saat itu, benar-benar tak terasa sakitnya. Padahal saya dijahit selama DUA JAM karena banyaknya robekan saat persalinan. Setelah bayi saya selesai IMD baru terasa sedang dijahit, tapi untung sudah hampir selesai.Rasa bahagia bisa menyusui putri kami di jam pertama kehadirannya membuat saya tenang, se hingga rasa sakit saat penyelesaian jahitan tak terlalu saya rasakan.

Bisa IMD pasca bersalin bukan berarti setelahnya berjalan mulus. Saat dipindah ke ruang rawat inap, tubuh saya tak bisa digerakkan. Tulang belakang saya dari tulang ekor sampai leher rasanya seperti mau patah jika digerakkan. Kata dokter, tulang belakang saya mengalami trauma. Padahal, bayi saya sudah menangis kejer. Perawat, mertua, dan ipar saya mendesak saya untuk memberikan sufor.

Alhamdulillah, suami pro ASI. Sejak saya hamil, kami rajin membaca artikel tentang keutamaan ASI. Beliau menyemangati saya kalau saya pasti kuat, pasti bisa. Beliau memberanikan diri menggendong putri kami dan mendekatkannya pada saya. Melihat wajah mungilnya, rasa cinta terasa membuncah dalam dada saya, saya mencoba menahan sakit dan menggendongnya dengan posisi setengah berbaring. Alhamdulillah, saat menyusui saya tidak merasakan sakit di tulang punggung dan bisa menyusuinya hingga ia tertidur. Subhanallah, hanya cinta yang bisa ….

Dua hari kemudian, saya pulang ke rumah. Tempat tidur di rumah tentu tak sama dengan yang di Rumah Sakit bisa di setting sesuai posisi nyaman kita. Saya belum bisa duduk sendiri, harus dibantu orang lain, suami sudah mulai masuk kantor. Setiap kali akan menyusui, posisi saya setengah berbaring, akhirnya putri kami, boro-boro mau menyusu, ia malah nangis kejer setiap kali saya gendong. Mendengar putri saya nangis, ibu mertua saya langsung datang dengan sufor dan mengambil putri saya dari gendongan saya. Hal ini membuat saya depresi berhari-hari. Saya stres setiap kali mau menyusui. Akhirnya, saya mogok menyusui sampai beberapa hari. Tapi, setiap kali melihat putri saya diberi sufor, hati saya sakit sekali, saya menangis.

Lagi, peran suami sangat menentukan. Beliau tak bosan memberi sugesti dan support pada saya dengan penuh kelembutan. Mengingatkan kembali komitmen awal kami untuk memberikan ASI Eksklusif untuk putri kami. Komitmen untuk menyusuinya hingga lulus S3 ASI.
Saya kembali membaca berbagai pengalaman para bunda yang menyusui anaknya dari beberapa group pro ASI yang saya ikuti. Bukan hanya saya yang memiliki “kendala” saat menyusui. Tapi, jauh lebih banyak yang semangat dan sukses menyusui hingga dua tahun bahkan lebih. Padahal, kebanyakan dari mereka adalah working mom. Masa saya yang full time mom enggak bisa, sih?

Support suami dan pengalaman para bunda yang saya baca membuat saya kembali semangat untuk menyusui putri kami. Semangat untuk menjalani fisioterapi. Minimal saya harus bisa duduk benar untuk menyusui anak saya. Tak mudah memang, bukan sekali dua setiap kali saya gendong putri saya malah nangis kejer sampai badannya hampir membiru. Sempat down lagi karena khawatir. Tapi, saya sangat mencintai putri saya. Saya ingin memberikan yang terbaik dan ASI adalah yang terbaik menurut saya.

Tapi bagaimana ya, baru digendong saja sudah nangis kejer … :’( Akhirnya, saya memberikan ASIP untuk putri saya. Nah, ternyata memberikan ASIP juga enggak gampang. Awal-awal memompa, saya hanya dapat sekitar 20ml-50ml dari kedua PD. Padahal saya sudah banyak minum dan makan sayur serta buah. Haduh, ini juga membuat stres “jangan-jangan ASI saya sedikit”.

Baca- baca lagi, “Oh, ternyata harus rajin dipompa agar ASI-nya banyak. Harus rileks dan positive thinking, karena ASI itu kerja otak. Diproduksi sesuai permintaan. Semakin banyak permintaan, semakin banyak diproduksi.” Saya coba jalani, konsisten memompa setiap 2-3 jam sekali. Alhamdulillah, semakin lama ASIP yang saya hasilkan dapat semakin banyak, bisa hingga 350ml sekali pompa. Subhanallah, hanya cinta yang bisa ….

Tujuh minggu pasca melahirkan, saya baru bisa jalan sedikit-sedikit dan sangat pelaaan sekali. Saya bertekad, harus bisa menyusui langsung. Ternyata, menyusui itu memang enggak mudah saudara-saudara …. Kurang cukup jika hanya dengan modal semangat. Butuh tekad yang kuat, butuh kesabaran yang tak terbatas, butuh kuping yang tebal, butuh dada yang lapang melebihi lapangan sepak bola, dan yang terpenting butuh cinta yang unlimted.

Kenapa?
Karena hanya cinta yang bisa membuat tekad kita enggak terkikis saat bertabrakan dengan kendala-kendala saat menyusui. Karena hanya cinta yang bisa membuat kesabaran kita seperti tak ada habisnya untuk berusaha menyusui buah hati kita. Karena hanya cinta yang bisa membuat kuping kita kebal dengan omongan orang tentang komitmen kita memberikan ASI pada buah hati kita. Karena hanya cinta yang bisa membuat kita berlapang dada dengan tanggapan sinis, kritik tajam, omelan orang-orang di sekitar yang mungkin menganggap kita enggak mampu menyusui, ASI kita sedikit, enggak bagus, sampai enggak sayang anak karena dibiarkan menangis. Karena hanya cinta yang bisa membuat kita mencari informasi dan menambah wawasan sebanyak-banyaknya tentang ASI sehingga akhirnya kita bisa mematahkan opini orang-orang tentang komitmen kita untuk menyusui buah hati kita. Dan, karena cinta Allah-lah yang membuat kita bisa meng-goal kan niat menyusui kita hingga sukses.

Alhamdulillah, sejak usia delapan minggu ‘Aisyah Hilmiya Ahmad – putri kami, sudah menyusui langsung dan tidak mau lagi dikasih ASIP. Bahagianya… hanya cinta yang membuat segalanya menjadi nyata! :-)

Buat bunda yang masih berjuang untuk menyusui, saya ingin berbagi tips dan trik-nya berdasarkan pengalaman saya, yaitu :
- Banyak Membaca. Cari info sebanyak-banyaknya tentang ASI. Manfaatkan teknologi untuk search dan gabung di group yang pro ASI. Ini berguna banget buat mempertahankan komitmen kita untuk menyusui dihadapan orang-orang yang enggak terlalu pro ASI.
- Tenang. Ini penting banget saat menyusui langsung. Meskipun awalnya bayi nangis kejer saat kita gendong, namun kalau kita tenang, Insya Allah ia juga akan tenang. Kalau kita panik saat dia nangis, maka bayi kita akan semakin nangis kejer, seperti kontak batin gitu.
- Bahagia dan Positive Thinking. Berusaha untuk bahagia dan positive thinking kalau ASI kita pasti cukup. Kalau kita pasti bisa menyusui bayi kita. Jangan stres, meskipun mungkin puting kita masuk, rata, atau payudara kita tidak besar, yakinlah, itu enggak ngaruh, selama terus berusaha untuk happy and positive thinking, Insya Allah ASI kita enggak akan kurang.
- Rajin. Baik menyusui langsung atau pun ASIP, kuncinya rajin. Rajin menyusui dan atau rajin memompa ASIP. Ingat! ASI itu sesuai permintaan. Semakin sering/banyak permintaannya, semakin banyak produksinya.
- Evaluasi. Kegiatan menyusui juga perlu evaluasi lho … Pengalaman saya saat menyusui langsung, bayi saya pernah beberapa kali tidak BAB selama dua minggu. Padahal setiap hari saya rajin pijat ILU dan membuat gerakan seperti ngayuh sepeda pada bayi saya. Walaupun katanya kalau perutnya enggak keras dan bayinya enggak rewel, berarti aman, saya tetap khawatir juga. Untuk itu, perlu evaluasi 3F (Fluid, Food, Fitness). Ayo check, dimana “salahnya”.

Itu dulu dari saya, semoga bermanfaat. Ayo, semangat lulus S3 ASI! 

Kamis, 27 Februari 2014

Menularkan Kebiasaan Membaca Sejak Dini

Di sosial media yang saya ikuti, saya ada bergabung di beberapa group yang menurut saya dapat menambah pengetahuan positif dan bisa sharing problem serta solusi dengan para member lain maupun pakar dibidang yang berkaitan dengan group tersebut. Nah, bukan sekali dua kali lho, di group tertentu terjadi "kerusuhan" diantara member karena tidak membaca tuntas article atau informasi yang diposting. Kalau yang begini ini, comment-nya bisa sampai ratusan.

Seringnya juga, member bertanya hal-hal yang sudah berkali-kali ditanya member lain dan sudah berkali-kali pula dijawab. Padahal kalau ia mau scrool ke bawah atau baca-baca file di group, pasti ketemu jawabannya, di google juga banyak. Ada juga yang sudah membaca tapi masih gagal paham dan memicu kerusuhan. Begini ini bisa jadi karena jarang membaca. Terus terang, saya termasuk orang yang terganggu ngerasa gimana gitu sama yang beginian, hihihi.

Berangkat dari secuil kasus tersebut, saya berusaha tidak menjadi "si malas membaca" dan saya juga tidak ingin anak-anak saya menjadi golongan si mame (si malas membaca, red). Untuk itu, sejak awal kehamilan saya sudah mulai mencicil buku buat investasi anak-anak saya. Jangan salah, lho ... buku itu investasi jangka panjang. Makanya saya miris banget lihat orang tua yang lebih pelit untuk beli buku buat anak-anaknya daripada beli baju. Di samping itu, biar saya ada bahan bacaan juga karena selama hamil saya di rumah saja, sedangkan saya tidak membawa satu buah pun buku anak koleksi saya ke Jepara (nyesel), kalau dikirim ongkirnya beraaaaat mahalnya.

Oya, satu lagi... saya tuh senang banget lihat anak-anak teman di FLP Aceh yang gemar membaca, seperti anak Kak Fida- Hamdi dan Ahza, anak Kak Beby - Sulthan, Geubrina, Genta, anak Kak Aini- Akib, dan lain-lain. Pokoknya senang aja lihat anak-anak asik baca buku daripada asik nge-games (online) atau nonton televisi siaran indonesia yang kebanyakan enggak benernya (ini menurut saya lho,ya ....). Saya ingin anak-anak saya nantinya dapat seperti mereka. Aamiin.

Setelah saya baca-baca, ternyata membacakan buku untuk bayi bisa merangsang penglihatannya. Waaa, makin lancar nih kedip-kedip sama suami buat beli buku, hihihi.

Saya mulai membacakan buku cerita bergambar untuk 'Aisyah-putri saya, sejak ia berusia lima minggu. Awalnya, 'Aisyah belum focus, masih noleh kesana-kemari. Namun, lama-lama setiap dibacakan buku cerita, ia selalu melihat ke arah buku dengan serius.


Alhamdulillah, 'Aisyah termasuk anak yang teratur. Mulai dari tidur, ngASI, hingga poop selalu di waktu yang sama setiap hari. Misalnya pagi ia selalu bangun menjelang shubuh. Sekitar Pkl.7.30wib setelah ayahnya berangkat kerja mandi, kemudian dibacakan buku, hingga sekitar Pkl.8.15-9.00wib ia pasti tidur sampai menjelang ayahnya pulang makan siang.

Pernah saat saya kena flu berat, saya tidak membacakan buku cerita untuknya. Alhasil, 'Aisyah tidak tidur sampai Pkl.10.00wib. Begitu saya bacakan buku,tak lama ia tertidur. Oleh karena itu, saya berusaha untuk konsisten membacakan buku untuknya setiap hari. Biasanya pagi hari setelah dimandikan, dibacakan buku, setelah itu cukup dimiringkan posisi tidurnya (sekarang uda bisa miring sendiri), tak sampai lima menit biasanya ia langsung tertidur. hihihi, Alhamdulillah, enggak perlu kompeng atau di puk-puk.


Posisi tidur favorit 'Aisyah :-D

Khusus weekend, ayahnya yang bertugas membacakan buku cerita .... :-)


kalau ayahnya yang membacakan lebih seru :-D

Sejak usia dua bulan, 'Aisyah sudah mulai rajin ngoceh-ngoceh. Setiap selesai dibacakan buku atau lucunya kalau buku yang sama sampai berulang kali, ia akan mengoceh panjaaaang sekali, seolah-olah ia menceritakan kembali apa yang baru dibacakan atau protes atas buku yang dibacakan berulang kali.


Sekarang, setiap kali melihat saya memegang buku, 'Aisyah semangat sekali. 'Aisyah juga sudah bisa dibacakan buku sambil duduk dan membalik halaman bukunya sendiri, hihihi, kebetulan lembaran bukunya tebal. Alhamdulillah, barakallah ... semoga 'Aisyah senantiasa menjadi insan senang membaca dan cinta buku ya, Nak .... Agar enggak sering missunderstanding sama informasi yang ada. Allahumma Aamiin. :')



ekspresi 'Aisyah (4 bulan) saat baca buku, selalu antusias, Alhamdulillah .... :-)

hihi, ini tulisan makin ke bawah makin enggak nyambung sama awalnya, hihihi.


Rabu, 26 Februari 2014

Finnally, I have a baby girl - be a mommy, Alhamdulillah ....

Akhirnya, bisa nge-blog lagi... hihihi, sok sibuk :-D

Setelah dua hari berada di ruang bersalin, Alhamdulillah karena pertolongan Allah, pada 23 Oktober 2013 dengan penuh semangat dan perjuangan,sa melahirkan putri pertama kami dengan selamat serta sehat *terharu

Kalau diingat-ingat waktu proses lahiran, rasanya campur aduk. Lucu, terharu, bahagia, nano-nano. Sebenarnya, usia janin baru masuk minggu ke-38, tapi usia kehamilan uda masuk minggu ke-41. Bingung kan, ya? Iya, ternyata usia kehamilan dan usia janin berbeda sekitar tiga mingguan. Pasalnya, usia kehamilan kan dihitung berdasarkan hari pertama dan terakhir (hpht) haid, sedangkan usia janin adalah usia kehamilan dikurangi dua minggu (kira-kira begitulah kata dokter kandungannya dulu, hihi).

Mendekati hpl(hari prediksi lahiran), sa sama suami (cie..) rajin periksa ke dokter. Kalau biasanya sebulan sekali, menjelang hpl jadi seminggu sekali. Nah, selama hamil kan kami sudah hunting tempat lahiran yang sesuai dengan kriteria kami (halah), seperti yang pro ASI, peralatan lengkap (ini mah maunya sa buat jaga-jaga kalau ada hal yang enggak diinginkan), pelayanan baik, tenaga medis standby.

Bukan apa-apa, di Jepara susaaaaah banget dokter. Kalau di Banda Aceh, Medan, atau Batam banyak pilihan dokter kandungan dan beberapa Rumah Sakit/Rumah Bersalin yang mudah dijangkau, di Jepara dokter kandungan cuma ada tiga orang yang tempat prakteknya dimana-mana. Jadi satu tempat, ntah klinik atau RS swasta jatahnya cuma sekitar satu jam doang dengan pasien yang banyaaaak. Boro-boro consult, kita belum kelar, pasien lain uda disuruh masuk, bayarnya mahal pakai banget, kita di ruangannya enggak sampai lima menit. (_ _!)

Di RSU perawatnya judes minta ampun, enggak pakai senyum. Pernah tuh ya dikatain "kalau enggak mau sakit ya jangan hamil" duuuh, siapa juga yang mau sakit,Mbak? saya juga maunya sehat-sehat aja :'(

Di Bidan, rada gimana gitu ... tapi mungkin enggak semua bidan "enggak asik" kali,ya? Pertama datang komunikatif banget. Duh, uda okey, uda sreg. Eh, kedua datang kayaknya lagi enggak mood bidannya. Perut sa ditekan-tekan sampai sakiiiit banget keluar air mata. Terus uda jelas di USG sama dokter hamil tiga bulan katanya masih sebulan. Ganti bidan lain, disuruh makan ARI- ARI KUCING. Gileeee, katanya sih biar janinnya kuat. Huhuhu, kenapa enggak makan ari-ari harimau aja sekalian, kan lebih garang (_ _!).

Akhirnya, dapat info dari teman yang istrinya juga orang Aceh, uda kenal sejak di Banda Aceh dan sekarang tinggal di Jepara juga. Di rekomendasikan dokter kandungan waktu istrinya hamil dulu. Kesanalah kami. Eng ing eng, agak grogi juga, duuuh, yang hamil kok masih muda-muda banget, usia bumil rata-rata 15th-20th. Sa bumil paling tua di situ, hihihi, tapi Alhamdulillah, dokternya ramah dan komunikatif banget, enggak buru-buru, jadi kami boleh tanya ini itu sampai puas, waktu USG beliau juga jelasin ke kami apa aja yang bisa dilihat dari monitor itu. Bayarannya juga enggak mahal. Pokoknya setiap pulang periksa selalu senang, hihihi. Sampai lahiran sama beliau juga di kudus.

Kenapa sampai ke Kudus? Ya, karena dr. Najib- dokter kandungan sa itu praktek utamanya di RS. Aisyiyah Kudus. Sekitar tiga minggu sebelum lahiran kami ke RS Aisyiyah Kudus periksanya. Pelayanannya ramah dan memuaskan. Peralatan lengkap. Bidan, perawat, dokter semua standby 24 jam, rumah sakitnya juga bersih. Klop deh.

Terakhir, sabtu itu kami ke Kudus periksa kandungan. Pulangnya sempat ngambek sama suami (huhuhu, maafkan istrimu ya, suamiku... ), gara-garanya kan dokter nyaranin rawat inap, karena baby-nya sudah masuk pinggul. Memang belum ada pembukaan, belum sakit, belum ada tanda-tanda mau lahiran. Tapi, mengingat pinggul sa sempit dan usia kehamilan sudah masuk minggu ke-41, khawatir sama baby-nya. Idealnya lahiran di minggu 38-40.

Memang sih, sa setuju sama suami,selama air ketuban masih bagus dan cukup, tali pusar masih baik, baiknya enggak usah rawat inap dulu. Tapi, emang dasar bumil itu sensitif, ya... (alesan), suami salah ngomong "ada kok yang hamil sampai tiga tahun baik-baik aja" (siapa ya waktu itu lupa sa, imam syafi'i apa,ya?). Waaa, entah kenapa dengarnya langsung sebeeeeel, "itu kan beda. Emang mau sa hamil sampai tiga tahun enggak lahir-lahir? bla..bla..bla.. " panjang sambil nangis-nangis, sebel sampai rumah :-D

Eh, enggak berapa lama sampai rumah, waktu ke kamar mandi, keluar darah banyaaak banget. Haduh, mau lahiran ini. Hihihi, malah nangis lagi. Alesannya sih karena malu sama suami, masa uda habis ngomel-ngomel ngambek, tiba-tiba minta tolong, jadi nangis karena enggak enak sama suami :-D

Singkat cerita, kami siap-siap, ambil tas berisi perlengkapan kami dan baby yang emang sudah disiapin jauh-jauh hari buat dibawa ke RS. Hubungi dr.Najib. Balik Lagi ke Kudus.

Eits, tapi kok perut sa enggak mules. ya? Malah semangat banget rasanya mau lahiran, hihihi. Akhirnya kami mampir ke hypermart dulu, beli kue bekal nanti di RS sekalian makan siang. Sampai RS, ternyata masih pembukaan dua. Suami ngurus kamar dan administrasi RS,sa tunggu di IGD. Masih bugar banget, tapi langsung diinfus sama perawatnya :'(

Sekitar setengah jam kemudian dibawa ke ruang bersalin. Sa kira ruang bersalinnya satu ruangan satu orang, ternyata satu ruangan ada sekitar sepuluh orang dan full. Waaa, bakal seru nih lahiran bareng-bareng. :-D

Pembatas masing-masing tempat tidur kan cuma gorden gitu. Sampai sore sa belum sakit, masih pembukaan dua. Padahal kiri kanan uda dari tadi nangis dan teriak-teriak. Duh, dari tenang jadi mulai horor juga. Sebelah kiri akhirnya lahiran dengan penuh kehebohan. Disusul sebelah kanan sa beda banget suasana lahirannya, ibu itu ngeden sambil sesekali bisa ngobrol sama dokternya, asik banget kayaknya. Malam, ganti pasien baru kiri-kanan, sa masih pembukaan dua. Besoknya, pagi, siang, sore, masiiiiih pembukaan dua enggak nambah. Enggak ngerasa sakit. Padahal sudah habis dua botol infus.

Menjelang maghrib, sa dipindah ke tempat tidur yang pas depan meja bidan jaga, biar mudah dikontrol gitu. Sa maunya jalan-jalan dulu, tapi karena uda pakai baju bersalin dan repot gotong-gotong tiang infus akhirnya tiduran lagi. dokternya sudah bolak-balik telepon bidannya tanyain sa. Tapi, ya masih pembukaan dua.

Akhirnya, tiba juga disesi cerita yang agak horor. Pembukaan enggak nambah-nambah, jadi "dipaksa" nambah sama bidannya pakai GUNTING. Huwaaaa, sakit sih, tapi masih bisa ditahan. Pfhh, dibantu sampai pembukaan empat. Dikasih lagi obat perangsang kontraksi, lama masih enggak berasa sakit. Gunting lagi sampai pembukaan enam, delapan, sepuluh bukan secara alami, tapi digunting. Hihihi.Alhamdulillah, selain sakit digunting itu, sa enggak ngerasa sakit banget waktu kontraksi mau lahiran. Bidannya bolak-balik lihatin kondisi sa di tempat tidur sekitar lima sampai sepuluh menit sekali. Sampai bilang "Bu, kok tenang sekali? Kalau mau nangis gapapa, Bu ..." Lha, gimana mau nangis, wong sakitnya cuma lebih sakit sedikit dari diare, gitu ... (hihihi, ini hikmah sering diare kali,ya?).

Setelah pembukaan sepuluh itu, baru berasa kayak muleeees banget. Sampai keluar keringat dingin. Alhamndulillah, suami ada di samping sa. Beliau menenangkan dan memberikan afirmasi positif, "melahirkan itu adalah proses alami, Insya Allah sa bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, lancar" berulang-ulang beliau sugesti sa hingga sa merasa rileks. Ketika sa merasa rileks, Subhanallah, sakitnya jadi jauuuh berkurang.

Dokter dan tiga orang bidan yang membantu sa lahiran. Rame pokoknya. Pasalnya, meski uda pembukaan sepuluh, bayinya belum turun juga. Sa uda makin mules ... uda miring biar bayinya cepat turun, enggak juga. Finally, perut sa ditekan dari atas ke bawah kuat banget sambil ngeden dua kali langsung bayinya keluar. Alhamdulillah, rasanya plooooooong banget.

Begitu lahir, langsung IMD (Inisiasi Menyusu Dini), Subhanallah walhamdulillah ... rasanya bahagiaaa sekali, I have a baby girl, be a mommy. Saking bahagianya, sa enggak ngerasa lagi dijahit. Padahal, sa dijahit sampai dua jam lebih, dari Pkl. 19.00wib sampai Pkl.21.30wib karena banyaknya robekan.

Buat teman-teman yang mau lahiran, sa mau berbagi tips berdasarkan pengalaman melahirkan pertama ini, jadi pelajaran juga buat sa melahirkan anak kedua dan seterusnya nanti :-D

-Tilawah. Sambil menunggu pembukaan bertambah, daripada galau jauh lebih baik waktunya dipakai buat tilawah, hati jadi tenang, pikiran jadi positif, dan perbanyak doa.
- Relaks. Ini penting banget waktu melahirkan. Meski mungkin terasa sakiiiit banget, tapi kalau kita ngerasa rileks, sakit yang dirasa akan jauuuuh berkurang.
- Sugesti Positif. Ini juga penting. Yakinkan diri berulang-ulang, kalau melahirkan adalah proses alami. Hal ini membantu tubuh dan pikiran kita menjadi tenang, sehingga kita Insya Allah bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, dan lancar. Sugesti positif ini sa mulai sejak usia kehamilan masuk tujuh bulan, diulang-ulang setiap hari sesering mungkin, hingga masuk ke alam bawah sadar kita.
- 4T (Tasbih,Tahmid, Tahlil, Takbir). Daripada teriak-teriak enggak jelas, malah bikin heboh, panik, kacau,plus menguras energi yang harusnya dihemat buat ngeden nanti, lebih baik kita istighfar dan 4T. Selain membuat kita lebih bisa mengontrol diri dan rasa sakit, yang dengar juga lebih enak :-D
- Ikuti instruksi dokter atau bidan. Seberapa inginnya kita ngeden, jangan lakukan sebelum diinstruksikan dokter atau bidan. Seberapa pun susahnya menahan spontanitas mengangkat (maaf) pantat untuk mengurangi rasa sakit. Jangan lakukan, karena akan memperlebar robekan yang artinya membuat jahitan menjadi banyak. Dan ikuti instruksi lainnya, seperti jangan boros napas seolah habis lari ratusan kilo, dan lain-lain.


Semangat melahirkan dengan nyaman dan indah. A Special Moment.

Kamis, 09 Mei 2013

Catatan Pernikahan II : Kumis Sepotong

Alkisah, kami- saya dan suami (cie) belum memiliki cermin meski sepotong kecil. Bagi saya, tiada masalah, toh sejak sebelum nikah saya memang jarang bercermin. Namun, hal itu ternyata menjadi masalah serius bagi suami saya yang hobi bercermin :D
Pasalnya, untuk mencabut kumisnya, cermin adalah salah satu benda yang sangat dibutuhkan.

Singkat cerita, di suatu sore, suami saya sudah sangat tidak nyaman dengan keadaan kumisnya yang semakin subur dan lebat, mungkin khawatir berubah menjadi hutan rimba hingga dapat mengurangi kecakapan dalam berkomunikasi jika kumis tumbuh sampai menutupi bibir seperti tirai (:D *sang istri ngebayangi jika kumis sepanjang tirai jendela) , padahal beliau salah satu frontliner di kantornya.

Akhirnya, beliau pun meminta saya untuk mencabut kumisnya pakai genset eh pingset.
"Hah? Pakai pingset? Kenapa ga dicukur aja?"

"Ga enak, nanti cepat panjang lagi, biasa dicabut"

Setelah negosiasi harga (lho?) Akhirnya saya dengan ikhlas serta berlapang dada mencabutkan timbunan kumis suami saya.

....
1
5
10
... dst
Selesai sudah sebelah bagian kumisnya saya cabut.
Ketika akan mulai mencabuti bagian yang sebelah lagi, tiba-tiba saya merasa sangat mual, lemas, pandangan berkunang-kunang, dan menghentikan pekerjaan mulia tersebut dengan terpaksa. Buru-buru baringan sebelum pingsan lagi.

Sampai keesokan pagi saya masih kurang sehat hingga belum dapat melanjutkan penyelesaian tugas mulia tersebut. Kebetulan itu hari sabtu, Suami tak kerja jadi masalah sepotong kumis yang belum dicabut itu bukan menjadi masalah serius. Namun, ternyata kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Menjelang siang, ibu mertua saya, meminta suami saya untuk pergi ke beberapa tempat. Suami pun segera pergi dengan motor. Point nya, beliau lupa dengan sepotong kumisnya yang masih utuh belum dicabut. Saya pun tak teringat dengan nasib kumisnya tersebut. Tidur.

Kira-kira setengah jam kemudian suami saya pulang, masuk kamar, membangunkan saya sambil memegang pingset. Dengan wajah penuh pengharapan, suami saya meminta saya menyelesaikan kumis yang sisa sepotong lagi itu. Saya belum sadar penuh, hingga saat saya benar-benar membuka mata dengan jelas, saya baru menyadari innocent sekali wajah suami saya dengan sepotong kumisnya, sebelah lebat sebelah bersih. Ternyata, orang-orang pada senyum-senyum melihatnya. Suamiku, maafkanlah .... *sungkem



Tulisan ini sudah atas persetujuan suami *istri baik :P

Catatan Pernikahan I : Menikah dengan orang yang dicintai atau mencintai orang yang menikahi?

"Kamu bahagia, Sa?" Tanya seorang sahabat pada obrolan santai kami saat sebulan usia pernikahan saya.

Saat itu, saya menjawab "Ya" dengan keyakinan ... jujur, belum 100%

"Apakah saya bahagia?" Hati kecil saya mengulang pertanyaan teman saya.

Sahabat saya tersebut, mungkin bukan tanpa alasan menanyakan hal tersebut, beliau tahu ... pernah ada kisah sendu, rindu, pilu, ragu beberapa waktu sebelum saya memutuskan untuk menikah. Sebuah langkah besar, kilat, dan tak terduga. Bahkan, bagi saya pribadi.

Hati kecil saya tak hanya sekali mengulang pertanyaan tentang kebahagiaan tersebut. Hingga hari ini, siang ini, jam dan menit serta detik ini, saya semakin mantap dengan jawaban betapa bahagianya saya. Bahagia menjadi seorang istri, menantu,ipar, dan bahaia sebagai calon ibu, insya Allah ....

Bagaimana bisa saya tidak bahagia memiliki seorang suami yang begitu sabar, menyayangi saya, dan menerima saya apa adanya. Begitu banyak kekurangan saya, keburukan, masa lalu yang ternyata tak seindah surga. Meyakinkan saya, bahwa hari ini dan selanjutnya adalah melangkah ke depan, bukan ke belakang. Menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi, insya Allah .... tak menuntut saya untuk bisa melakukan ini-itu, menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi sempurna. Meyakinkan saya,meski saya tak sempurna, saya tetap bidadarinya .... fabiayyi alaa irrabbikuma tukadzdziban .... lantas, adakah lagi alasan bagi saya untuk tak bahagia hidup bersamanya?

Jumat, 08 Juni 2012

Event : Aceh Menulis

Dear, para ibu dan guru,calon ayah bunda, teman-teman mahasiswa, adik-adik pelajar, dan para ananda sekalian.. insya Allah, pada tanggal 16-17 Juni 2012, FLP (Forum Lingkar Pena), PIPEBI (Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia), dan IWABA (Ikatan Wanita Bank)akan mengadakan event ACEH MENULIS di Auditorium Bank Indonesia Banda Aceh yang berisi berbagai rangkaian acara istimewa, apa sajakah?

Rangkaian Acara :
1. Lomba menulis cerpen untuk tingkat SD kelas 4-6 dan SMP
2. Workshop menulis cerpen untuk tingkat SD kelas 4-6 dan SMP
3. Workshop menulis pictorial book untuk para ibu dan guru, mahasiswa/i, dan umum
4. Lomba mewarnai untuk anak usia 5-7 tahun
5. Lomba menggambar dengan latar Bank Indonesia untuk anak usia 8-12 tahun
6. Bazar buku, dan bazar lainnya

PERSYARATAN TEKNIS LOMBA MENULIS CERPEN
• Peserta yang mengikuti lomba menulis cerpen telah terdaftar sebagai peserta workshop menulis cerpen dengan membayar Rp50.000
• Peserta terbagi dua kategori; A: Kelas 4-6 SD
B: SMP
• Tema tulisan
a. Kategori A
– Peserta boleh memilih membuat cerita tentang segala hal yang disukai tentang Aceh, misalnya makanan kesukaan, wisata favorit yang oernah dikunjungi, tarian Aceh, pengalaman menjasi anak Aceh, atau apapun hal-hal yang dialami selama tinggal di Aceh.
- Peserta boleh membuat cerita tentang ayah bunda.

b. Kategori B
- Persahabatan
- Petualangan
*Lebih disukai cerita yang mengandung unsur kekhasan Aceh

Workshop anak akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Sabtu/16 Juni 2012
Waktu : Pukul 13.30-17.00WIB
Tempat : Auditorium Bank Indonesia
Pembicara : Ali Muakhir, penulis cerita anak. Pemegang rekor MURI dan peraih penghargaan IKAPI sebagai penulis paling produktif.

• Cerita boleh ditulis tangan ataupun diketik sebanyak 2-3 halaman A4
• Spesifikasi teknis pengetikan
- Huruf Times New Roman 12, spasi 1,5
- Panjang halaman 2-3 halaman kertas A4
- Sertakan nama, judul, dan kategori lomba.
• Karya dikirimkan paling telat tanggal 12 Juni 2012, diserahkan ke;
- TB PARAMITHA, jala Twk. Hasyim Banta Muda (jalan SMA 2- Depan Dinas Kebersihan), Kampung Mulia, Banda Aceh.
- Woroeng Multimedia, jalan T. Nyak Arief, Lorong PBB no. 3 & 5, Belakang BRI Darussalam, Banda Aceh.
- E-mail : aceh.menulis@gmail.com

- Hadiah lomba:
- Pemenang 1-6 akan mendapatkan trophy ,tabungan, paket buku keren dan my first Al-Qur’an. Lima belas cerpen terbaik berpeluang untuk dibukukan.


PERSYARATAN LOMBA MEWARNAI PICKBOOK DAN MENGGAMBAR
• Peserta lomba mewarnai pickbook adalah anak usia 5-7 tahun
• Peserta lomba menggambar adalah anak usia 8-12 tahun
• Membayar uang pendaftaran sebesar Rp15.000
• Membawa sendiri meja, crayon, dan alat gambar lain.
• Kertas gambar disediakan oleh panitia.
• Tema lomba menggambar merupakan suasana dan harus menyertakan gamabr gedung Bank Indonesia

• Lomba mewarnai diadakan pada:
Hari/tanggal : Sabtu/16 Juni 2012
Tempat : Gedung Bank Indonesia
Waktu : pukul 11.30-13.30WIB

• Lomba menggambar diadakan pada:
Hari/tanggal : Minggu/17 Juni 2012
Tempat : Gedung Bank Indonesia
Waktu : pukul 09-12.00WIB

• Hadiah lomba: pemenang 1-6 akan mendapatkan trophy, tabungan, dan bingkisan.


WORKSHOP MENULIS CERITA ANAK
• Peserta adalah ibu dan para guru, mahasiswa/I, dan umum.
• Biaya pendaftaran Rp75.000 untulk umum. Rp50.000 untuk guru dan mahasiswa/i.

• Workshop akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Minggu/17 Juni 2012
Waktu : Pukul 09.00-15.00WIB
Tempat : Auditorium Bank Indonesia
Pembicara : Ali Muakhir, penulis cerita anak. Pemegang Rekor MURI dan peraih penghargaan IKAPI sebagai penulis paling produktif.


Tempat Pendaftaran :
TB PARAMITHA
Jalan Twk.Hasyim Banta Muda/Jalan SMA 2-depan Dinas Kebersihan, Kampung Mulia-Banda Aceh

WAROENG MULTIMEDIA
Jl. T. Nyak Arief, Lorong PBB No 3 & 5 Belakang BRI Darussalam.


Jangan sampai ketinggalan yaaa..hayuu segera kabari teman-teman, tetangga, ponakan kita.. ^_^


Untuk info-info dapat meninggalkan comment atau menghubungi nomor panitia berikut;
CP :
Inge : 0812 69 88984
Aini : 0812 69 39344
Sarah:0812 69 30588




Minggu, 19 Februari 2012

Siap Berprestasi Hingga Usia Senja

Kebanggaan bukanlah kebanggaan
Karena cahaya itu akan redup
Kecuali cahaya yang bersinar
Meninggikan kalimah-Nya

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Setelah selesai mengisi suatu acara Muslimah di sebuah masjid agung di suatu kota 2 tahun yang lalu...

Tiba-tiba... ada seorang wanita separuh baya datang menghampiri saya... lalu berkata:
“Saudariku... bisakah kita berbincang-bincang sebentar?”

Dengan senang hati saya jawab
“Alhamdulillah... saya senang bu, mari...”

Seorang ibu itu pun langsung memulai pembicaraannya, sambil... tersedu-sedu dan mata berkaca-kaca:
“Saya seorang ibu dari 8 anak, suami saya meninggal 5 tahun silam... Dengan usia saya yang semakin senja, masih bisakah saya berprestasi? Saya malu... di usia senja saya belum berprestasi. Saya tidak mempunyai kemampuan apa-apa selain menjadi ibu rumah tangga saja... Lingkungan saya pun sepertinya tidak mendukung saya mengembangkan diri... karena bukan lingkungan Islami...”

Rasa terharu menyelimuti... tak kuasa melihat mata beliau yang berbinar... terhias ketegaran...

Lalu... saya menghangatkan suasana... dengan memegang tangan beliau, sambil menjawab pertanyaannya:
Ibu yang disayangi Allah...
‘BERPRESTASI’ milik kita bersama, bukan hanya milik kaula muda yang masih bersekolah saja. Esensi atau hakikat ‘BERPRESTASI’ adalah SEJAUH MANA KITA MAMPU BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN...???!!

... Seandainya kita punya harta, maka sejauhmana kita mampu memanfaatkan harta kita demi kepentingan diri, keluarga, dan orang lain.
... Seandainya kita mempunyai anak, maka sejauhmana kita mampu menjadikan dan mendidik anak-anak supaya dapat bermanfaat bagi orang lain.
... Seandainya kita mempunyai ilmu, maka sejauh mana kita mampu menjadikan ilmu itu ‘BERNILAI’ atau bermanfaat bagi orang lain, meskipun yang kita ketahui hanya sedikit.

“Saya hanya bisa masak saja saudariku...” ujar beliau...

“Justru itu bagus bu...” saya tersenyum...
“Ibu yang disayangi Allah... Bukankah ibu bisa baca tulis Al-Qur’an? Bukankah ibu bisa masak? Semua itu bisa menjadi ‘MODAL’ untuk ‘BERPRESTASI’, apalagi ibu tinggal di lingkungan yang tidak Islami..., kalau ibu mampu... Ibu bisa masak tiap hari senin dan kamis untuk yang berbuka puasa sunat di mesjid lingkungan ibu... dan ibu pun bisa mengajarkan baca tulis Al-Qur’an pada anak-anak atau para muslimah di lingkungan ibu...”
“Naah... itulah ‘PRESTASI’ di sisi Allah... Orang yang mampu bermanfaat bagi orang lain...”

Lalu... Ibu itu pun memegang erat tangan saya sambil mengucapkan terima kasih... tersenyum bahagia... dan sepertinya beliau banyak ide yang cemerlang...
Rasanya... tidak begitu bagus kata-kata yang pernah saya sampaikan pada beliau, apalagi beliau jauh lebih berpengalaman daripada saya dalam mengarungi arus dan getirnya kehidupan... hmm... BELIAU SUNGGUH HEBAT... BELIAU BER-AZZAM KUAT... Orang yang bertanya ternyata jauh lebih hebat daripada orang yang ditanya...
KEINGINAN yang KUAT untuk merubah diri menjadi labih baik itulah yang menjadikan beliau menjadi SOSOK YANG HEBAT...

Subhanallah... Subhanallah... Allahu Akbar...
***
Dua tahun pun berlalu...
Beliau menjadi sosok wanita Muslimah yang sesungguhnya... Seorang Muslimah yang tangguh, meskipun berada pada lingkungan yang ‘semrawut’ dan ‘awam terhadap Islam’, beliau mampu bersinar dan menyulap lingkungannya menjadi lingkungan Islami... ALLAHU AKBAR...!!

Beliau mengurus ANAK YATIM PIATU di rumahnya...
Mendirikan PERPUSTAKAAN ISLAMI untuk anak-anak di sekitar daerahnya...
Mendirikan KUTTAB (Tempat Belajar Baca Tulis Al-Qur’an) dan Tahsin Qur’an...
Mendirikan Lembaga Pembinaan Kewirausahaan...
Tidak hanya itu... Beliau menjadi uswah bagi lingkungan di mana beliau tinggal, di usia senja... tapi tak henti-hentinya berusaha tahfizh Qur’an dan Hadits, beliau hafal beberapa juz dari Al-Qur’an, dan setengah dari kitab Bulughul Maram.
Beliau menjadi ustadzah... Pendidik sejati!!
Subhanallah...

Masih banyak kemampuan kita yang dapat kita lakukan untuk umat...
Lalu, SIAPKAH KITA HIDUP BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN...???
Inilah HAKIKAT PRESTASI...!!!
Subhanallah... Wallahu Akbar...

Ya Allah,
Jadikan harta kami yang sedikit menjadi manfaat,
Jadikan ilmu kami yang sedikit menjadi manfaat,
Jadikan potensi kami yang sedikit menjadi manfaat,
Teguhkan kami untuk berusaha bermanfaat bagi orang lain.
Aamiin Ya Allah Ya Rabbal ‘aalamiin

Sabtu, 21 Januari 2012

Faktanya, Soekarno-Hatta Sangat Jarang ke Masjid!

Berawal dari celotehan ponakan seorang kawan, “Om, tahu gak, siapa pahlawan masjid?” Si om sempat dibuat bingung dengan pertanyaan ponakan yang masih bocah itu. Saat kawan saya melontarkan pertanyaan yang sama pun, saya sempat bingung. Siapa, ya, pahlawan masjid? Mungkinkah itu ketua DKM, pengurus DKM, imam besar, ustad yang sering kasih pengajian, atau para jamaahnya. Setelah menyerah, si bocah menjawab innocent, “Ya, Pattimura, dong!” Haaa, saya langsung melongo (dengan ekspresi datar selama 10 detik). Hmmm, betul juga itu bocah, memang pahlawan yang sering “nongkrong” di masjid paling banyak biasanya Kapitan Pattimura yang berpose gagah dan berwibawa (meski lebih mendekati garang) dalam duit Rp1.000,- yang mendekam dalam kotak amal jariyah.



Kotak amal jariyah (dalam bahasa Sunda, disebut koropak) adalah salah satu “aksesori” wajib yang biasanya ditemukan di masjid-masjid, baik masjid kecil (langgar, mushala) hingga masjid raya sekalipun. Yaitu, tempat yang digunakan untuk “menampung” uang dari para jamaah masjid yang dermawan. Bentuk kotak amal jariyah, ya sesuai namanya–kotak–biasanya juga berupa kotak, meski ada juga yang dimodifikasi jadi berbagai bentuk, seperti bentuk kubah masjid, mobil-mobilan (dikira penitipan anak, kali, ya?), kotak beroda, bahkan ada juga yang bentuknya keranda jenazah. Mungkin, dengan demikian, orang akan lebih termotivasi untuk bersedekah mengingat dihadapkan pada keranda jenazah mini. Dan, yang paling penting, kotak amal jariyah harus memiliki lubang yang panjangnya sekitar 5 cm dan lebar yang hanya beberapa mili. Yang penting, uang koin dan kertas yang dilipat bisa masuk. Jangan terlalu lebar, apalagi sampai bisa dimasuki tangan. Bahaya!



Kotak amal jariyah selalu tersimpan dalam keadaan terkunci. Jika tidak dikunci, dikhawatirkan memancing tangan-tangan jahil untuk mencicipi kriminal. Kotak amal jariyah, ada yang disimpan secara permanen di satu posisi, misalnya di bagian depan pas pintu masuk atau di beberapa penjuru masjid. Ada pula kotak amal jariyah yang kemunculannya bersifat insidental, misalnya kotak amal jariyah yang biasa “keliling” saat shalat Jumat, saat pengajian, saat acara-acara PHBI, dan beberapa acara yang biasa diadakan masjid. Isinya? Tentu isinya adalah uang. Saya belum pernah menemukan kotak amal jariyah di masjid yang isinya selain dari uang, semisal permen, rokok, surat pengaduan, atau apapun yang bisa masuk lewat lubang keci. Uangnya pun beragam nominal, terdiri dari uang logam dan kertas.



Kebetulan, bapak saya adalah ketua DKM di salah satu masjid jami (tingkat dusun). Biasanya, selepas ibadah shalat Jumat setiap minggunya, beliau dan para pengurus suka “membongkar” kotak amal jariyah yang sudah keliling mulai shaf depan hingga shaf belakang. Biasanya, saat kotak amal jariyah melintasi shaf awal, akan berjalan lambat. Namun lama-lama, saat melintasi shaf ujung, kotak amal jariyah berjalan semakin cepat. Apalagi jika satu shaf diisi bocah SD, kotak bakal berjalan ngebut ekspress, sama sekali gak berhenti. Setelah dibongkar, maka akan keluarlah banyak “pahlawan” dari si Kotak Amal Jariyah itu. Meski perwajahan para pahlawan itu dalam kondisi yang berbeda-beda, ada yang masih mulus, ada sudah lusuh, kusut, kucek, bau mesin ATM atau bau tomat.



Jumat pekan lalu, iseng-iseng saya ikut nimbrung bapak “membelah” duren, ups, kotak amal jariyah. Ingin membuktikan, celotehan ponakan kawan saya di atas, benarkan Pattimura adalah pahlawan yang “rajin” ke masjid. Setelah dibuka, kotak terdiri dari uang kertas dan logam. Saya cuma memerhatikan para pengurus DKM menghitung. Alhasil, yang pertama tentu masih didominasi oleh Kapitan Pattimura, kedua Pangeran Antasari, ketiga Pangeran Diponegoro, keempat Sultan Mahmud Badarudin II, kelima Oto Iskandar Di Nata, dan … di posisi keenam, hanya ada seorang I Gusti Ngurah Rai. Hmmm, nampaknya masih ada yang kurang. Saya coba berpikir keras–seperti mengingat-ingat sesuatu–dan yaaa, saya sadar bahwa para punggawa negeri, sang Proklamator Soekarno-Hatta nampaknya tidak hadir pada Jumat kali itu.



Isi kotak amal sudah selesai dihitung. Meski hasilnya cukup besar dari segi angkanya, saya yang baru sekali itu ikut nimbrung “membongkar” kotak amal jariyah, kecewa karena founding father negeri ini ternyata tidak ikut shalat Jumat waktu itu. Ternyata, tidak ada yang jamaah yang berkenan memasukkan “Soekarno-Hatta” ke dalam kotak amal jariyah. Tapi, saya yakin itu bukan karena keengganan, melainkan “para pahlawan tersebut” sudah jarang dimiliki para tetangga saya, dan termasuk saya dan keluarga. Meskipun ada, tentu jadi barang langka. Saya saja melihat mereka nyelip di dompet saya sangat jarang. Dalam sebulan, paling ketemu beberapa kali dalam dompet dan dalam hitungan menit sudah bertukar pahlawan-pahlawan lainnya. Berbahagialah Anda yang sudah terbiasa “tinggal” bersama kedua pahlawan tersebut. Semoga jadi refleksi bagi semua.



P.S. Pesan khatib yang saya ingat dari shalat Jumat tadi siang.

Q.S. Al-Baqarah [2]: 254 “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim.”

Ayo, silakan pilih. Siapa pahlawan yang mau Anda masukan kotak amal jariyah! :)



"Pahlawan" manakah yang paling sering kita bawa ke mesjid? :)



sumber tulisan di atas : http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/20/faktanya-soekarno-hatta-sangat-jarang-ke-masjid/

Bacalah hingga selesai..

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ba'da tahmid wa shalawat



Bacalah hingga selesai. Dan hanya orang-orang yang Allah lembutkan hatinya dapat membaca hikmah dan pelajaran, semoga kita tak termasuk orang yang Allah keraskan, hitamkan, dan dijadikan hatinya berkarat, hingga ketika sudah tenggelam dalam dosa dan maksiat pun kita sedikitpun tidak menyadarinya. Tidak Allah tegur, karena mungkin karena Allah sudah "muak" dengan semua yang kita lakukan, dan Allah membiarkan kita terus terlena dengan dosa yang kita anggap "biasa". Naudzubillahi min dzalik.



Ini cerita tentang seorang anak remaja di zaman teknologi modern, sarat pergaulan masa kini.



Di sekolahnya, ia sangat dikenal dan terkenal sebagai seorang yang cerdas, sholihah, pintar bergaul, santun, dan segudang kelebihan lain. Perfect-lah.



Namun tak selalu demikian yang "tertunjuk" di rumahnya. Ibunya sangat sayang padanya. Nyaris seluruh kebutuhan dan keperluannya dipenuhi sang Ibunda. Seluruh pakaiannya sang ibundalah yang mencuci dan menyetrika bahkan hingga menyusun pakaian-pakaiannya ke dalam lemari sang Ibundalah yang mengerjakan. Ibunya yang memasak, mencuci piring bekas makan-minumnya. Bahkan bangun pagi-pagi meski kaki sakit karena Asam Urat dan Kolesterol ditambah gula darah yang kerapkali tinggi karena banyak pikiran atau terlalu lelah, HANYA untuk menyiapkan bekal sekolahnya di hari-hari ia pulang sore karena les untuk persiapan kelulusan sekolahnya. Di rumah, seluruhnya dikerjakan Ibunya. Si anak remaja ini tinggal terima beres saja.



Dengan semua "kenikmatan" yang dipersembahkan ibunya kepadanya, apa yang seharusnya ia lakukan pada ibunya?



Yang si anak remaja ini lakukan adalah..



- Ketika sang ibu makan di kamar, si anak remaja akan langsung BERANG dan MARAH MEMBENTAK-BENTAK IBUNYA.

"Mamak ni kalau makan jangan dikamar, keluar sana. Bikin bau saja. Ga tahan Adek"

atau di lain kesempatan ia mengatakan "BIKIN SUSAH SAJA" pada ibunya.



Dan sang Ibundapun harus mengikhlaskan seleranya dengan meminta tolong anaknya mengeluarkan piring makanannya dengan alasan masih panas, nanti saja makannya.



si kakak yang melihat ibunya makan sendirian di dapur, menangis.



Mungkin Allah lupakan ingatannya,hingga sedikitpun ia tidak ingat (atau TIDAK MAU mengingat).

Bagaimana susahnya ibunya MENGANDUNGNYA 9 bulan di saat usia sang ibu sudah TIDAK MUDA LAGI.

Bagaimana susah ibunya MELAHIRKANNYA, bersakit-sakit. di saat usia sang ibu sudah TIDAK MUDA LAGI.

Bagaimana susah ibunya harus BANGUN TENGAH MALAM karena tangisannya, disaat ibunya sudah TIDAK MUDA LAGI.

Bagaimana ibunya harus MENCIUM TINJANYA DAN MEMBERSIHKANnya.

Dan SEKALIPUN ibunya TIDAK PERNAH mengeluh atau memarahinya, membentaknya "BAU KALI, BIKIN SUSAH SAJA."

TIDAK PERNAH.



Atau saat jilbabnya ada lipatan bekas gosokan,

"Mamak ni, adek ga suka jilbabnya ada lipatan gini, susah pakainya, dll"



Atau saat ibunya meminjam uang padanya, akan benar-benar diingat sebagai UTANG.

SANGAT PERHITUNGAN. Setiap rupiah uang miliknya yang dipakai ibunya akan BENAR-BENAR DIINGATNYA.

Bahkan hanya karena uang seratus atau dua ratus ribu, ia RINGAN BERSUARA KERAS dengan ibunya sambil menangis kesal, marah.



Mungkin telah Allah hitamkan hatinya, hingga tak tembus sedikitpun cahaya pengorbanan ibunya, berusaha berbagai upaya memenuhi kebutuhannya. Tak perlu jauh "mengungkit" saat masa-masa kecilnya si remaja,berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan ibunya TANPA DIHITUNG SEBAGAI UTANG. Kini, hanya untuk mendapatkan ONGKOS SEKOLAH si remaja, ibunya sampai rela menjahit baju orang, membantu di rumah orang, pekerjaan-pekerjaan yang mungkin tidak diketahui si remaja (atau tidak mau tahu?).



Namun semua itu akan berubah 180 derajat saat di hadapan teman-temannya yang datang ke rumah. Suaranya akan menjadi sangat lembut.



Kakak si remaja ini, hatinya sudah benar-benar sangat sakit dan terluka. Terutama saat menghadapi kondisi si remaja memperlakukan ibunya. Namun, saat si kakak membela ibunya, yang terjadilah adalah si kakak yang dimarahi ibunya. Selalu ibunya membela si remaja ini.



Kerapkali, mendidih rasanya darah si kakak melihat perlakuan adiknya, namun selalu ditahan-tahannya. Karena sekali ia bersuara memuntahkan ke-eneg-kannya pada sikap si remaja, yang terjadi hanyalah pertengkaran. Begitupula dengan ibunya. Diam adalah jalan terbaik.



Lagipula, si remaja dengan si kakak juga demikian,bersuara keras. sedikitpun tidak ada menghargai. Dengan ibunya saja demikian kasarnya, apalagi dengan kakaknya. Namun, jika si kakak ada uang, atau si remaja ada keperluan dengan kakaknya, baru si remaja berbaik-baik.



Pernah satu waktu, kakaknya pulang sebentar untuk makan siang, kemudian duduk di depan televisi tempat si remaja sedang menonton film korea. Saat itu juga, si remaja yang hendak ke kamar mandi me-matikan tayangan film korea yang ditontonnya. Di lain waktu, film nya di pause dan remote nya di bawa. padahal si kakak HANYA UNTUK SEBENTAR untuk makan kemudian kembali pergi kerja.



Dia tidak pernah merasakan, bagaimana jika orang lain memperlakukan dia seperti itu. Bagaimana rasanya?



Pernah juga saat di kamar, HP si remaja diletakkan di bawah bantal, si kakak sungguh-sungguh tidak mengetahui HPnya berada di bawah bantal dan tak sengaja tertekan kaki si kakak, hingga mungkin MP3 yang sedang didengarnya dari HPnya berhenti. si remaja langsung memukul dan membentak-bentak kakaknya. "COBA KALAU HP DIA YANG DIGITUIN, PASTI DIA MARAH JUGA."



Mungkin si remaja sedikitpun tidak ingat, SAAT HP KAKAKnya ENTAH BERAPA KALI TERJATUH dan TERCAMPAK DARI TANGANNYA hingga beberapa tuts HPnya kadang tidak berfungsi. Dan si kakak hanya marah bercanda sesaat, tidak memaki-makinya seperti yang ia lakukan.



Satu hari, saat si kakak lapar sekali dan HANYA SATU KALI si kakak memasak mie kemasan miliknya,itupun hanya sedikit saja yang diambil, hanya untuk pengganjal perut setelah seharian dari pagi hingga malam beraktivitas di luar,namun si remaja sangat marah sekali, ia memarah-marahi ibunya yang membiarkan kakaknya memasak mie miliknya. Hingga di kesempatan selanjutnya, setiap kali si kakak akan makan atau memasak mie, ibunya melarang si kakak.



Andai saja si kakak ga ingat ibunya, berkali-kali ingin sekali si kakak meninggalkan rumah, tinggal terpisah daripada harus menekan sedalam-dalamnya emosi menghadapi setiap perlakuan si remaja yang masih sangat banyak dan tidak mungkin disebutkan satu per satu.



Andaikata si kakak punya banyak uang, ingin sekali ia beri semuanya pada ibunya, agar ibunya bisa memenuhi semua kebutuhan termasuk kebutuhan si remaja.



Kerapkali saat si kakak ke toko buku, melihat ada buku kumpulan soal UAN atau SNMPTN ingin sekali rasanya ia membeli untuk si remaja, namun perlakuan si remaja yang sudah berkali-kali begitu menyakitkan, membuatnya urung.

Berkali-kali pula si kakak ingin mendaftarkan try out atau berbagai event yang juga diminati si remaja, namun setiap kali pulang ke rumah yang dihadapi adalah keketusan dan kekasaran si remaja pada dirinya, seolah-olah si kakak adalah ORANG YANG MENUMPANG HIDUP pada si remaja, hingga membuatnya urung.



si kakak mungkin memang bukan orang sukses yang membanggakan, pun bagi orang tuanya. Tidak kaya raya meski meski harus pulang kerja hingga Pkl.22.00wib hanya untuk beberapa ratus ribu yang diharapkan dapat sedikit membantu kebutuhan rumah, meski tak pernah dianggap dan nyaris selalu mendapat caci. Seolah-olah, selama ini si kakaklah yang SELALU MENGHABISKAN UANG.



Jika saja si remaja tahu, bahkan untuk sekedar ingin makan bakso saja, si kakak harus menahan-nahan selera, berbulan-bulan. Hingga selalu tak kesampaian untuk membeli karena uangnya tak cukup untuk membeli bakso buat si remaja dan ibunya. Kalau saja si remaja tahu, bagaimana perasaan si kakak dan ibunya saat si remaja dan teman-teman makan ayam penyet atau ayam bakar, sedangkan kakak dan ibunya di dalam kamar. Meski kemudian si remaja menyisakan ayamnya yang tinggal setengah untuk ibunya. Ingin rasanya si kakak menangis, andai saja ia dapat membelikan makanan yang enak-enak untuk ibunya, bukan makanan sisa punya si remaja yang akhirnya dihabiskan juga karena lapar.



Kerapkali, saat bekerja atau di penghujung malam, si kakak menangis mengingat perlakuan yang sudah sangat sering diperoleh dari si remaja padanya dan pada ibunya.



Mungkin kakaknya memang bukan orang kaya dengan harta berlimpah dan tabungan yang gendut, tapi sedikitpun kakaknya tak sudi menjadi benalu, dan tak ridha rasanya diperlakukan demikian oleh si remaja saban hari, saban waktu.



Mungkin si remaja ada alasan mengapa ia berperilaku demikian. Kemiskinankah?Tidak ada uang seperti teman-teman sekolahnya yang bisa ini itu? atau Stres? Apapun alasannya, dapatkah dibenarkan sikap dan perilakunya?



Mungkin si remaja merasa ia lah yang memiliki masalah yang paling berat di dunia ini, memuntahkannya di rumah. Dengan orang-orang rumah. Kalau bersikap demikian di luar kan bisa ngerusak image si remaja. Namun, apapun alasannya tersebut, dapatkah semua yang dilakukannya dapat dibenarkan?



Kerap kali kita merasa kitalah yang paling menderita, kitalah yang paling banyak berkorban, kitalah yang punya masalah paling berat, kitalah yang selalu menjadi korban. Tanpa peduli, orang-orang di sekitar kita mungkin justru yang menjadi korban dari sikap-sikap kita. Orang-orang di sekitar kita yang juga mengalami tekanan perasaan dan pikiran karena kita.



Demikianlah cerita tentang si remaja, semoga ada pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil.



Saya pribadi, menyimak ceritanya saja sudah sangat..sangat..mendidih darah saya. Marah, luka, sakit hati, memenuhi ruang dalam hati saya. Selalu saya berdoa pada Allah di setiap sujud saja, semoga saya terjauh dari orang-orang seperti sosoki si remaja. Semoga saat saya hamil, saya tidak pernah bertemu dengan orang seperti si remaja, dan anak-anak saya terjauh dari sifat dan orang-orang seperti di remaja.



Bagi si remaja, semoga Allah bukakan hati dan pikirannya yang terkenal cerdas dikalangan teman-temannya.



Semoga kita tidak menjadi manusia-manusia pintar namun bodoh.

Jumat, 20 Januari 2012

(Bukan) Peta Buta

Jadi ceritanya,ba'da dzuhur kemarin aka jam satu teng, saya sudah rapi-rapi dan siap menuju tempat janjian dengan seseorang (cie). Matut diri di cermin, uda oke, jilbab rapi, sepatu matching (hayyah). Check ban motor, oke. Lampu kiri kanan, kaca spion, rem tangan plus rem kaki, semua oke. Oke, sekarang saatnya berangkat!



Berbekal bukan sebuah alamat palsu, "Jalan Tuan Dikandang, masuk dari komplek PLTD Apung, nanti tanya saja Keude Kupi Surya, semua orang pasti tahu" yang tertera dalam ponsel saya, pergilah saya menyusuri daerah tempat kami janjian (ehem).

Kebetulan PLTD Apung itu ga terlalu jauh dari rumah saya, sekitar 10 menitanlah ditempuh dengan sepeda motor, 15 menitan dengan sepeda atau 20 menit kalau jalan cepat.



10 menit dari Pkl.13.00 wib saya sudah tiba di komplek PLTD Apung. Di palang jalan tertera "Jalan Harapan". Oo, mungkin masuk sini,pikir saya. Karena pengalaman jaman dahulu kala, di dalam jalan harapan ini tedapat sangat banyak cabang-cabang nama jalan yang berlainan.



Awalnya saya muter-muter keliling PLTD Apung itu, tapi kok ga nemu ya Jalan Tuan Dikandang. Akhirnya, karena mulai ragu saya keluar sampai ke ujung jalan harapan (keluar komplek PLTD Apung), kemudian jalan terus sampai arah tembusan ke simpang lima PU Seutui (eh, ga jalan ding, tapi mengendarai motor).



Berbekal pepatah, "malu bertanya, jalan-jalan" maka bertanyalah saya pada abang-abang yang jualan sayur di pinggir jalan (perawakannya sih kayak penduduk asli)

"Assalamu'alaykum, Bang, maaf numpang tanya, jalan Tuan Dikandang dimana ya?"

"Wa'alaykumussalam..Oo, jalan tuan dikandang masuk komplek PLTD Apung, dik. kalau ini uda Tuan Dipakeh. Nanti tanya saja dengan orang di sana, saya kurang tahu juga."

"Oo, makasih ya,bang."



Sarah come back! (atau Sarah return ya cocoknya? *bletak)



Kembalilah saya ke komplek PLTD Apung. Setiap palang jalan, saya perhatikan satu per satu. Pokoknya jangan sampai ada yang kelewatan deh.Masuk kiri keluar kanan. Masuk kanan keluar kiri. (Kayak pelajaran sekolah aja *lho?). Setelah capek keluar masuk jalan dan ga ketemu-ketemu si Jalan Tuan Dikandang, mampirlah saya di pojokan pangsit depan Kapal PLTD Apung yang konon katanya orang-orang mie pangsitnya enak banget (sekalian bantu promosi :hihi)



"Darimana, Nak?" tanya si Ibu yang jual mie pangsitnya.

"Dari rumah orang tua saya, Bu..mau ke rumah teman (*ga nanya!)" jawab saya

"Oo, dimana rumah temannya?" tanya si Ibu lagi

"Menurut sms-nya jalan Tuan Dikandang,Bu" jawab saya lagi.

"Oo, jalan tuan dikandang..nanti kamu dari belakang Kapal Apung ini, belok kanan aja, itu Jalan Tuan Dikandang"

"Oo, baik,Bu..terima kasih ya, Bu"



Pkl.13.45wib, setelah selesai menikmati pangsit si Ibu depan PLTD Apung, saya bergegas meneruskan perjalanan menunaikan janji suci (hayyah).



Menurut informasi saya harus belok kanan, maka beloklah saya ke kanan. Ada 3 cabang jalan, semua saya susuri. Keluar masuk dan nggak nemu-nemu. Berbekal pepatah yang sama seperti yang telah saya sebutkan diatas, bertanyalah saya lagi sama bapak penjual rujak dan buah segar di pinggir jalan depan mesjid Subussalam belakang Kapal Apung (lengkap amat).



"Assalamu'alaykum..permisi,Pak. Numpang tanya, jalan Tuan Dikandang dimana ya,Pak?"

"Wa'alaykumussalam..Oo jalan Tuan dikandang bukan disini,Nak. tapi yang sebelah kiri sana."

"Oo, makasih ya,Pak"

"Nanti tanya saja dengan orang asli sini, jangan tanya dengan pendatang, ga tau"

"Baik,Pak. Terima Kasih ya,Pak"



Dan sayapun menyusuri jalan yang ditunjuk si Bapak. Belok sebelah kiri, bukan sebelah kanan seperti petunjuk ibu pangsit. Semakin masuk jalannya semakin banyak yang bercabang, saya sampai khawatir nyasar jauh. Masih berbekal pepatah yang sama seperti yang telah saya sebutkan di atas, bertanyalah lagi saya pada seorang ibu pemilik kios yang sedang sibuk BBM-an (Bahan Bakar Minyak aka lagi mindahin bensin dari jeregen ke kaleng besar)



"Assalamu'alaikum..permisi,Bu. Numpang tanya, Jalan Tuan Dikandang dimana ya, Bu?" tanya saya.

"Wa'alaykumussalam..Oo, jalan tuan dikandang itu jalan ke kebun saya" jawab si ibu

"(Gubrak! mana saya tahu kebun ibu dimana) lewat mana ya, Bu?" tanya saya lagi

"Lewat sini saja,Nak. Lurus terus sampai mentok belok kanan" jelas si ibu"Baik, makasih ya,Bu..permisi" kata saya.



Kembali saya menyusuri jalan sesuai petunjuk si Ibu namun sudah jauuuuuuuh kedalam belum mentok-mentok juga jalannya seperti petunjuk si Ibu. Karena belum mentok, nggak bisa lah saya belok kanan meskipun begitu banyak tikungan kanan yang saya lewati.



Karena hati disergap ragu, untuk yang kesekian kalinya, saya menghentikan laju kendaraan saya dan kembali bertanya pada seorang bapak yang sudah tua, sepertinya penduduk asli.

"Assalamu'alaykum..permisi,Pak. Numpang tanya, jalan tuan dikandang dimana,Pak?"

"Wa'alaykumussalam..Oo, jalan tuan dikandang atau dusun tuan dikandang?"

"(toeng!) Jalan tuan dikandang,Pak"

"Oo..sudah lewat,Nak. Nanti kamu belok kiri saja, setelah itu belok kanan. Di sana jalan tuan dikandang, nanti kamu tanya saja dengan orang di sana"

"Oiya, baik,Pak..terima kasih ya,Pak..Assalamu'alaykum"

"Wa'alaykumussalam"



Baliklah saya ke belakang belok kiri kemudian belok kanan, sepeda motor saya terus jalan perlahan hingga bertemulah saya pada seseorang yang membuat harapan saya muncul. Bapak Pangsit!



Bapak pangsit ini bukan suaminya si Ibu penjual pangsit yang mangkal di depan PLTD Apung itu, tapi ini bapak pangsit langganan mba Siti di Lapangan Blang Padang yang jualan tiap hari Minggu pagi. Walaupun saya tidak pernah membeli pangsit si Bapak ini, tapi saya lumayan dikenal oleh beliau karena selalu nitip sepeda disamping gerobak beliau :hihi

Jadi kalau hari minggu pagi melihat ada sepeda Polygon warna biru nangkring si samping gerobak pangsit dimana penjualnya adalah seorang Bapak, maka Insya Allah bisa dipastikan itu sepeda saya (apa sih?)



Kembali ke topik,

Si Bapak pangsit tanya, saya mau kemana? Saya jawab, mau ke rumah teman. Dimana rumahnya? tanya si Bapak pangsit lagi. Di Jalan tuan dikandang, katanya di keude kupi Surya, jawab saya lagi. Oo, saya tahu, mari saya antar, tawar si bapak pangsit. Berbinarlah saya. Alhamdulillah..kembali semangat saya.



Tak lama kemudian sampailah saya diantar si Bapak ke sebuah kios.

"Ini tempatnya bang Surya" kata si Bapak dan segera pamit.

"oiya, baik, Pak..terima kasih ya,Pak. Maaf merepotkan" lanjut saya sembari berjanji dalam hati, insya Allah suatu hari, di hari minggu saya akan membeli pangsit beliau (Semangat!)



"Assalamu'alaykum..permisi.." sapa saya"Wa'alaykumussalam.." jawab sapaan dari dalam diiringi kemunculan sesosok Bapak berbadan besar laksana bodyguard, berkulit coklat dan berkumis tebal.

"(dag dig dug *suara jantung) Maaf,Pak..numpang tanya, apa benar ini jalan Tuan dikandang?" tanya saya (sok) berani (padahal uda berdebar-debar terpana)

"Benar" jawab si Bapak tegas dan garang plus bersuara besar.

"Oiya,maaf, Pak.. Apa benar ini keude kupi Surya?" tanya saya lagi (berharap salah alamat dan buru-buru kabur)

"Ini memang keude milik Bang Surya, tapi ini bukan keude kupi" jawab si Bapak

"iya juga ya, ini kan kios jual rempah-rempah, bukan keude kupi." Kata saya dalam hati

"Mau cari siapa?" tanya si Bapak dengan suara berapa oktaf (berasa menggelegar)

"Mau cari keude kupi Surya jalan Tuan dikandang,Pak" jawab saya

"Hei,ma'e..pat keude kupi Surya?" tanya di Bapak pada tetangganya yang lagi leyeh-leyeh dengan berteriak.

"Oo,di simpang jalan tuan dikandang dekat mesjid, keude kupi yang di ujung jalan" jawab tetangganya.

"uda dengar kan disana, dekat mesjid, balik lagi aja" kata si Bapak

"Baik, Pak. terima kasih,Pak..permisi.." kata saya sambil bergegas "kabur" *lemas



Tahukah saudara-saudara, kalau posisi saya saat itu sudah jauuuuuuuuuuuuuuuuhhh...dari mesjid yang dimaksud. Dan yang lebih dudulnya, saya lupa jalan keluarnya. Begitu berbalik arah keluar, terdapat banyaaaaaaakk sekali tikungan dan cabang-cabang jalan. berputar-putar lumayan lama dari satu cabang jalan ke cabang jalan yang lain, akhirnya tibalah saya ke jalan yang ujungnya terlihat pagar mesjid yang dimaksud. Alhamdulillah *seka keringat.



Sampai di mesjid itu, berbekal pengalaman, saya mengganti pepatah, tak lagi bertanya nanti sesat di jalan. Maka saya menyusuri jalan dengan benar-benar pelan sambil celingak-celinguk kiri kanan dan menatap ke depan juga tentunya biar nggak nabrak tiang listrik atau nyungsep ke selokan seperti hobbi masa lalu (eh). Disaat jalan-jalan inilah saya baru menyadari satu hal. HP!





Hah! Mengapa nggak dari tadi saya ingat kalau saya punya HP. Pffh..tat tit tut.. setelah menelepon seseorang yang sudah berkurang semangat saya untuk bertemu, akhirnya tiba juga saya di keude kupi Surya. Dan ternyata rumah beliau sekitar 10 meter di belakang keude kupi tersebut.



Alhamdullillah.. tepat pkl. 15.45wib aka 14 menit menjelang Ashar. Dari keadaan yang awalnya cantik, manis, rapi, wangi (dilarang muntah) tibalah saya di rumah yang sejak awal perjalanan hendak saya tuju dalam keadaan kucel, kumel laper (lagi?) *hihi. Namun karena disambut senyum manis dari tuan rumah yang ramah dan cantik, apalagi tambah disuguhkan segelas teh dingin dan sepiring kue manis, rasanya kucel dan kumel bukan jadi masalah lagi (lho?)



*Benar-benar payah, sudah "berkerak" di Banda Aceh, masih juga sering nyasar. Wong di daerah rumah sendiri saja masih suka nyasar kalau tiba-tiba PLN atau Telkom gali lubang dan disuruh nyari jalan lain.



Ditulis oleh : Anak rumahan

:hihi