Finally, berhasil menguatkan niat di hari minggu ini untuk mengeksekusi bolen pisang keju hasil belajar sama Teh Nenis minggu lalu, Alhamdulillah. Secara serumah pada sukaaa sama si bolen pisang coke ini. Beli? Untuk ukuran Jepara cukup mahal, cuma jual di satu tempat, ga puaaaas! makannya kudu rebutan atau tepatnya mengalah sama Aisyah dan ayahnya.
Bahagia itu sederhana. Bisa lihat wajah sumringah suami dan anak saat makan bolen buatan sendiri sepuasnya :-D
Penampakan kurang mulus karena grogi saat pelepasan dari loyang dikerumuni anak dan suami, hihihi, lebay!
Berikut resepnya, selamat mencoba.
Bolen Pisang Coke Ekonomis
Bahan :
1000 gr Tepung Medium
100 gr Gula pasir
20 gr Garam
150 gr Margarin (Saya pakai Blue Band Cake and Cookie)
350 ml Air dingin
100 gr telur (saya pakai dua butir telur)
Untuk Laminating :
250 gr Corsvet/Pastry Fat
150 gr Margarin (saya pakai Blue Band Cake and Cookie)
Filling :
Pisang Raja
Keju Cheddar
Mises
Filling Pisang (optional) :
100 gr Margarin (saya pakai 80gr Blue Band Cake and Cookie + 20gr butter)
50 gr Gula Pasir
Cara Membuat :
1. Aduk semua bahan kering, masukkan air, telur, dan margarin. Aduk setengah kalis (asal tercampur).
2. Bulatkan dan istirahatkan di meja sekitar 10 menit.
3. Rol adonan memanjang (bentuk persegi panjang), lalu poleskan corsvet yang sudah dicampur margarin. Lipat dengan lipatan sigle.
4. Istirahatkan sekitar 20 menit, ulangi cara diatas sampai 3x lipatan sigle.
5. Tipiskan adonan lalu isi dengan pisang, keju, mises. Susun di loyang. Poles kuning telur, tabur keju. Panggang hingga matang.
Noted :
- Pisangnya saya pakai filling dengan cara, pisang dibelah tiga bagian. Masing-masing bagian dibelah sedikit tidak putus, semprotkan filling.
- Pisang harus benar-benar matang.
- Tutup adonan yang telah diisi filling dengan cara dicubit-cubit hingga benar-benar tertutup rapat agar isinya tidak meluber keluar saat dipanggang.
- Saya pakai loyang ukuran 30x10. Masing-masing loyang diisi 12-14pc.
- Setiap line diberi jarak sedikit saat penyusunan dalam loyang, nanti mengembang jadi padat.
- Satu resep diatas jadinya sekitar 60pc.
Alhamdulillah, harumnyaaaa, enak.
Next time, mau posting proses pembuatannya agar lebih mudah diingat. Insya Allah.
Terima kasih Teh Nenis atas ilmunya, semoga barakah dan bermanfaat... :-)
Hasil belajar pertama sama Teh Nenis
Next, suami request yang filling durian. Insya Allah, siap! :-)
Alhamdulillah, senang... sekarang enggak perlu beli lagi. Hemaaat dan keluarga suka, itu yang utama! ;-)
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 15 November 2015
Selasa, 03 Februari 2015
arisan... oh, arisan... :'(
Sejak bulan oktober, saya mengikuti arisan online melalui social media facebook. Ini arisan pertama dan satu-satunya yang saya ikuti. Iurannya seratus ribu rupiah, oenarikan sebulan dua kali selama lima bulan. Alasan saya ikut arisan ini, itung-itung menabung mengingat kami cukup sulit quntuk menanbung karena kebutuhan-kebutuhan yang tak terduga.
Dua hari yang lalu, saya bersama suami membawa putri kami ke jogja untuk bertemu dengan keluarga saya yang datang dari Aceh. Saat itu, saya sudah berencana untuk mentransfer uang arisan, namun selalu terkendala dengan kondisi, saat kami mampir istirahat di SPBU, putri kami tidur dan tidak mau digendong ayahnya, jadinya saya tidak bisa ke ATM. Saat tiba di jogja, mungkin karena ini perjalanan pertamanya, maunya nempeeeel terus dengan saya, di luar juga hujan cukup deras membuat kami tidak bisa keluar.
Keesokan harinya (kemarin) adalah hari dimana uang iuran jatuh tempo penyetoran, saya sudah gelisah sejak semalam, harus setor hari ini sekalian jalan pulang balik Jepara. Sebelum pulang, kami diajak ke kebun binatang, sejak jumat hingga minggu saya tidak memegang hp, bermaksud melihat nomor rekening pemegang iuran arisan, sambil jalan saya buka facebook dan share status percakapan dengan suami. Saat akan membalas inbox mbak pemegang iuran arisan, hp-nya mati. Saya bingung, sepanjang jalan-jalann sudah tidak konsentrasi, ditambah lagi dapat telepon melalui hp suami kalau mbak pemegang iuran arisan comment di status facebook saya tadi menagih uang arisan, katanya wa saya ga aktif, di-inbox dan sms tidak dibalas. Saya dan suami benar-benar terkejut. Makin stres saya rasanya ingin menangis... benar-benar tidak menyangka. :'(
Akhirnya comment tersebut dihapus suami karena rasanya kurang baik. Saya benar-benar menyesal telah menulis status sebelum membalas inbox mbak tersebut. Mau hapus, khawatir makin gimana... apalagi bagi yang sudah sempat membaca, nantk dipikir saya memang telah berbuat hal yang disampaikan dalam comment tersebut.
Sepanjang perjalanan, saya kepikiran terus. Sampai jepara sudah tengah malam, saya minta izin suami pagike ATM depan perumahan untuk transfer iuran arisan, ternyata pagi putri kami kurang sehat, entah mungkin kecapekan atau apa saya bingung juga, dia menangis terus minta digendong, tidak bisa ditinggal, mana di rumah signal hp hilang timbul, tiap saya ajak ke teras nangis.... saya tidak bisa menghubungi suami, tidak bisa online, dan lagi suami bilang hari ini mau ke lapangan jadi tidak bisa pulang siang makan di rumah seperti biasa. Saya benar-benar ingin menangis, bingung, stres, entah mau minta tolong dengan siapa.
Sebelum suami ke kantor, saya telah titip pesan untuk tolong mengabari ke mbak pemegang iuran arisan atas keterlambatan saya menyetor, tapi karena pagi sibuk harus ke lapangan, suami telat buka fb.... saat online ternyata mbak tersebut telah kembali mengomentari status facebook saya dua kali menanyakan "masih niat menyetor dan Allah Maha Tahu,Mbak..."
Saya mengetahui hal ini sore saat dijemput suami, akhirnya suami yang membalas komentar mbak tersebut. Saya dan suami sangat malu atas hal ini, imbasnya kemana-mana.
Suami ditanyakan teman kantornya, karena beberapa teman kantor suami adalah mutual friend saya. Keluarga, saudaram beberapa teman semua menanyakan via inbox, sms, dan telepon. Begitu saya keluar dan mendapati signal, banyak whatsapp masuk menanyakan tentang comment mbak pemegang arisan tersebut. Sampai orang tua saya yang di Batam tahu melalui saudara yang menayakan perihal arisan apa yang saya ikuti sampai ditagih sebegitunya di social media. Selama ini kami selalu berusaha merahasiakan apa pun tentang rumah tangga kami pada orang tua, susah senang dijalani berdua. Malu sekali rasanya.
Saya sedih sekali, ketika keluarga suami juga mengetahui melalui saudara yang berteman dengan saya di facebook, you know what... kadang orang terlalu kepo dan menceritakan berita tanpa babibu. Malu, sedih, stres, hubungan yang selama ini rada gimana gitu karena saya HANYA IBU RUMAH TANGGA terkesan semakin kurang mengenakkan. Saya tidak tahu lagi harus ngomong apa.... :'(
Finally, beberapa custumers saya meng-cancel orderan buku yang dipesan setelah (mungkin) membaca comment mbak di status saya tersebut. Saya sedih sekali, karena melalui orderan buku-buku inilah saya memperoleh tambahan rezeki untuk keperluan kami. Ada olshop yang menolak orderan saya setelah (mungkin juga) membaca comment tersebut. Imbasnya kemana-mana.... saya tidak tahu harus berkata apa, harus bagaimana, nangis pun sudah tidak bisa lagi. Kacau rasanya.... :'(
Tadi juga saat belanja di penjual sayur, tetangga yang kebetulan friend di facebook saya menanyakan "mbak sarah ada masalah apa? Kok ribut-ribut di facebook? Gimana ceritanya?" Rasanya malu sekali harus menjelaskan pada ibu-ibu yang ikut belanja kalau kemarin hanya kesalahpahaman, bla... bla... T_T
Teringat pesan orang tua saya dulu saat saya pisah kota untuk bersekolah saat SMP, selalu saya ingat dan pegang "kalau kamu mau berbuat sesuatu pada orang lain, coba pikirkan dahulu bagaimana kalau kamu di posisi orang tersebut, dampaknya, hati-hati dalam bertindak dan melangkah."
Saya dan suami sepakat untuk membayar seluruh uang arisan untuk bulan-bulan berikutnya sampai selesai, jadi selanjutnya saya tidak perlu membayar uang arisan lagi dan hal ini tidak terulang lagi. Benar-benar pelajaran penting bagi kami untuk lebih menahan diri, terutama dalam berkata dan bersikap baik langsung mau pun di social media. Kita tidak tahu bagaimana imbas perkataan kita terhadap diri kita dan atau orang lain. Kami yang sejak awal menikah sepakat untuk membatasi diri dalam interaksi di social media merasa ....
Semoga ada hikmah dalam setiap kejadian, pasti.
Sabtu, 03 Januari 2015
Mesjid bersih hati pun jernih
Masih seputar Semarang, sepulang dari kopdar KPBA di rumah Kak Taro-Lestari sudah memasuki waktu dzuhur, jadilah kami mampir di mesjid terdekat. Lihat kiri-kanan jalan, bertemulah dengan Mesjid Raya Candi Lama di sisi jalan wahidin 109 Semarang.
Memasuki halaman mesjid, saya langsung kagum dengan pengelolaannya. Tampak sekali mesjid ini hidup saat saya membaca papan besar kegiatan rutin, mading yang update info, dan beberapa koran hari ini. Selain itu, baru kali ini saya mendapati mesjid yang memiliki klinik dengan beberapa dokter spesialis, tempat travel, mini market, serta yang paling spesial ada tempat kajian akhwat di lantai dua selain kantor Baitul Mall mesjid.
Saat memasuki tempat wudhu dan toilet, saya senang sekali. Toilet bersih dan harum, begitu pula tempat wudhu. Tak ada genangan air, lumut, atau pekakas yang berserakan. Bersih! Selain itu, ada keran khusus cuci kaki di depan pintu keluar-masuk toilet-tempat wudhu yang terhubung dengan tempat sholat wanita. Ini jarang sekali saya temui. Jadi, kita tidak perlu khawatir ada najis yang tertinggal atau jejak tapak kotor sebelum memasuki lantai mesjid.
mukena juga tergantung rapo, bersih, dan harum.
Saya pribadi, senang sekali setiap mendapati mesjid yang bersih seperti ini. Tidak menimbulkan uneg dan prasangka terhadap pengelola mesjid.
"Kok tempat wudhu-nya lumutan, ya? Kamar mandinya bau."
"Hambal mesjidnya banyak debu, emangnya enggak ada yang bersihin?"
"Mukenanya kotor dan bau banget, untung bawa sendiri, kalau enggak beneran bikin enggak kusyuk saking baunya."
dll, dst...
Astaghfirullah...
Begitulah... apakah mungkin teman-teman merasakan hal yang sama saat mendatangi mesjid yang kurang terurus?
Ah, mesjid bersih itu memang dambaan setiap muslim, selain memberi perasaan lebih nyaman, insya Allah ibadah tenang, hati senang... enggak pakai su'udzon sama pengelola mesjid. Betul... betul... betul?:-)
Memasuki halaman mesjid, saya langsung kagum dengan pengelolaannya. Tampak sekali mesjid ini hidup saat saya membaca papan besar kegiatan rutin, mading yang update info, dan beberapa koran hari ini. Selain itu, baru kali ini saya mendapati mesjid yang memiliki klinik dengan beberapa dokter spesialis, tempat travel, mini market, serta yang paling spesial ada tempat kajian akhwat di lantai dua selain kantor Baitul Mall mesjid.
Saat memasuki tempat wudhu dan toilet, saya senang sekali. Toilet bersih dan harum, begitu pula tempat wudhu. Tak ada genangan air, lumut, atau pekakas yang berserakan. Bersih! Selain itu, ada keran khusus cuci kaki di depan pintu keluar-masuk toilet-tempat wudhu yang terhubung dengan tempat sholat wanita. Ini jarang sekali saya temui. Jadi, kita tidak perlu khawatir ada najis yang tertinggal atau jejak tapak kotor sebelum memasuki lantai mesjid.
mukena juga tergantung rapo, bersih, dan harum.
Saya pribadi, senang sekali setiap mendapati mesjid yang bersih seperti ini. Tidak menimbulkan uneg dan prasangka terhadap pengelola mesjid.
"Kok tempat wudhu-nya lumutan, ya? Kamar mandinya bau."
"Hambal mesjidnya banyak debu, emangnya enggak ada yang bersihin?"
"Mukenanya kotor dan bau banget, untung bawa sendiri, kalau enggak beneran bikin enggak kusyuk saking baunya."
dll, dst...
Astaghfirullah...
Begitulah... apakah mungkin teman-teman merasakan hal yang sama saat mendatangi mesjid yang kurang terurus?
Ah, mesjid bersih itu memang dambaan setiap muslim, selain memberi perasaan lebih nyaman, insya Allah ibadah tenang, hati senang... enggak pakai su'udzon sama pengelola mesjid. Betul... betul... betul?:-)
Label:
Aku Kamu Kita,
Diantara Kita,
Jalan-jalan,
Keluarga,
Pernikahan
Selasa, 30 Desember 2014
Ketika suami (tiba-tiba) romantis
Menutup tahun 2014 kami harus melakukan perjalanan ke Semarang untuk suatu keperluan. Jadwal yang ditentukan masih sekitar tiga jam lagi. Ya, kami datang cepat ke tujuan agar bisa melihat-lihat daerah sekitar tempat acara. Banyak sekali penjual kaki lima. Ada yang menjual makanan, balon, boneka, kura-kura, juga bunga segar aneka jenis dan warna, subhanalllah ... indah sekali.
Kami berkeliling sampai kaki pegal, matahari cukup terik, inginnya istirahat tapi tidak ada tempat duduk, mana orang merokok dimana-mana, sungguh mengganggu. window shopping aka melihat-lihat doang ternyata melelahkan juga,ya?
Diantara semua penjaja dagangan, kami paling senang dan lama di tempat penjual kura-kura dan bunga. Saya pribadi, sukaaaa sekali dengan bunga segar dan berwarna-warni. Ada mawar aneka warna, ester, deasy, peacock, dahlia... Subhanallah, indahnyaaa.
Saya mengobrol banyak dengan penjualnya yang ramah. Aisyah bersama ayahnya juga senang melihat-lihat aneka bunga yang ada. Sampai kami hendak pergi, suami (tiba-tiba) romantis menghadiahkan saya se-bouquet dengan mawar tiga warna dilengkapi bunga indah lain.
Reaksi saya?
Malu (hidung kembang-kempis 😁), senang, lucu, heran, merasa ajaib, hihihi, nano-nano-lah. Habisnya, suami saya itu bukan pasangan yang romantis!
Anyway, jazakumullah khair, suamiku... ayah aisyah... mencintaimu karena Allah. Semoga rumah tangga kita barakah, bahagia hingga ke Jannah-Nya. Allahumma Aamiin.
Kami berkeliling sampai kaki pegal, matahari cukup terik, inginnya istirahat tapi tidak ada tempat duduk, mana orang merokok dimana-mana, sungguh mengganggu. window shopping aka melihat-lihat doang ternyata melelahkan juga,ya?
Diantara semua penjaja dagangan, kami paling senang dan lama di tempat penjual kura-kura dan bunga. Saya pribadi, sukaaaa sekali dengan bunga segar dan berwarna-warni. Ada mawar aneka warna, ester, deasy, peacock, dahlia... Subhanallah, indahnyaaa.
Saya mengobrol banyak dengan penjualnya yang ramah. Aisyah bersama ayahnya juga senang melihat-lihat aneka bunga yang ada. Sampai kami hendak pergi, suami (tiba-tiba) romantis menghadiahkan saya se-bouquet dengan mawar tiga warna dilengkapi bunga indah lain.
Reaksi saya?
Malu (hidung kembang-kempis 😁), senang, lucu, heran, merasa ajaib, hihihi, nano-nano-lah. Habisnya, suami saya itu bukan pasangan yang romantis!
Anyway, jazakumullah khair, suamiku... ayah aisyah... mencintaimu karena Allah. Semoga rumah tangga kita barakah, bahagia hingga ke Jannah-Nya. Allahumma Aamiin.
Label:
Aku Kamu Kita,
Jalan-jalan,
Keluarga,
Pernikahan
Senin, 29 Desember 2014
Sepasang kura-kura milik Aisyah
Alhamdulillah, Aisyah dihadiahkan sepasang kura-kura oleh Ayah. Kemarin saat kami ke Semarang, ayah melihat penjual kura-kura di trotoar jalan. Senangnya bukan main. Beberapa hari yang lalu, kami melihat kura-kura kecil milik anak teman ayah dan berencana untuk memelihara kura-kura. Ayah, bunda, dan aisyah suka kura-kura.
Namanya kura-kura brazil, keren yah? Kami sih belum tau kenapa, apakah mungkin karena asalnya dari brazil? Kalau iya, jauh banget ya asalnya *_*
Sebelum membeli, bunda bertanya dengan bapak penjualnya seputar kura-kura yang akan kami pelihara. Makanannya, perbedaan jantan dan betina, sebanyak apa airnya, dan lain-lain. Teman-teman mau tahu jawabannya? Perhatikan baik-baik, ya....
Kura-kura jantan memiliki corak yang lebih sedikit dan jarang pada badannya dibandingkan betina yang coraknya lebih banyak dan rapat. Selain itu, warna tempurung kura-kura jantan juga lebih gelap dibandingkan yang betina. Makanan kura-kuranya sama seperti makanan ikan yang bulat-bulat kecil, biasa dijual di toko yang menjual ikan hias. Airnya sedikit saja, agar mereka tetap bisa mendongakkan kepalanya ke atas.
Setiap pagi dan sore, ayah dan aisyah selalu mengganti air di kotaknya. Saat airnya diganti, kura-kura kami letakkan di ember, kemudian mereka akan berenang cepat mengitari ember. Lucu, aisyah senang sekali melihatnya. Semoga kami bisa memelihara sepasang kura-kura ini dengan baik. Allahuma Aamiin.
Namanya kura-kura brazil, keren yah? Kami sih belum tau kenapa, apakah mungkin karena asalnya dari brazil? Kalau iya, jauh banget ya asalnya *_*
Sebelum membeli, bunda bertanya dengan bapak penjualnya seputar kura-kura yang akan kami pelihara. Makanannya, perbedaan jantan dan betina, sebanyak apa airnya, dan lain-lain. Teman-teman mau tahu jawabannya? Perhatikan baik-baik, ya....
Kura-kura jantan memiliki corak yang lebih sedikit dan jarang pada badannya dibandingkan betina yang coraknya lebih banyak dan rapat. Selain itu, warna tempurung kura-kura jantan juga lebih gelap dibandingkan yang betina. Makanan kura-kuranya sama seperti makanan ikan yang bulat-bulat kecil, biasa dijual di toko yang menjual ikan hias. Airnya sedikit saja, agar mereka tetap bisa mendongakkan kepalanya ke atas.
Setiap pagi dan sore, ayah dan aisyah selalu mengganti air di kotaknya. Saat airnya diganti, kura-kura kami letakkan di ember, kemudian mereka akan berenang cepat mengitari ember. Lucu, aisyah senang sekali melihatnya. Semoga kami bisa memelihara sepasang kura-kura ini dengan baik. Allahuma Aamiin.
Label:
Aku Kamu Kita,
Dunia Anak,
Jalan-jalan,
Pernikahan
Sabtu, 27 Desember 2014
Stop membandingkan, Bunda!
Alhamdulillah, sekarang Aisyah sudah berusia 14 bulan. Banyak perkembangannya yang membuat kami-saya dan suami bahagia sekaligus bangga padanya. Kami berusaha menjadi ayah dan bunda yang friendly bagi Aisyah. Namun ternyata, saya masih banyak kekurangan dalam mendampingi tumbuh kembang Aisyah. Saya masih saja ada rasa cemburu saat melihat kelebihan anak lain dan ingin Aisyah bisa. Padahal saya sadar benar, setiap anak ada masanya, ada lebih dan kurangnya. Astaghfirullah, maafkan Bunda ya, Nak... :')
Di perumahan tempat kami tinggal, ada beberapa anak seusia Aisyah. Kami sering bertemu saat jalan pagi, sekedar berpapasan sambil berbagi senyum atau sesekali mengobrol sejenak. Umumnya, obrolan seputar tumbuh kembang anak. Paliiiing sering tentang usia berapa anak mereka sudah bisa berjalan sendiri, mungkin melihat aisyah masih kami tuntun.
"Putra saya ini usia 9 bulan uda bisa jalan sendiri. Ini belum bisa jalan sendiri, toh? (Sambil melihat aisyah)"
"Anak saya hampir 10 bulan uda jalan, cepat banget jalannya (lihat Aisyah juga)"
"Paling lama biasa setahun uda bisa jalan, ya..."
dan lain-lain... Biasalah, kalau orang tua membanggakan kepintaran anaknya.
Tak dipungkiri, hal ini membuat saya sedih. Apalagi kemudian melihat video anak teman yang seusia aisyah uda bisa jalan di saat Aisyah baru bisa berdiri sendiri :'(
"Apakah Aisyah kurang stimulasi? Apakah ada masalah dengan kakinya?" Semua tanya dijawab lega dengan penjelasan dokter bahwa Aisyah baik,sehat, tulang kakinya normal, otot kakinya kuat.
Semua ada masanya. Stop membandingkan, Bunda!
Ya, cukup membandingkan Aisyah dengan anak lainnya. Ini hanya masalah jalan, bila tiba masanya ... Insya Allah, Aisyah pasti bisa berjalan seperti anak lain. Tiba-tiba, saya merasa malu dan menyusup perasaan bersalah karena kurang bersyukur. Bukankah untuk hal lain perkembangan Aisyah sungguh membahagiakan, sungguh memudahkan saya dalam berinteraksi dengannya.
Aisyah yang enggak pernah rewel. Aisyah yang sudah bisa membedakan kanan dan kiri, mengenal anggota tubuhnya. Dengan baik Aisyah bisa menunjukkan mana kaki kanan atau kiri, tangan kanan dan kiri, perut, hidung, telinga, kepala, mulut dan punggung saat kami menanyakannya. Mengetahui beberapa warna seperti purple, green, blue, orange, pink, yellow, red. Biasa saya cukup bertanya "Aisyah, warna blue yang mana?" Maka aisyah akan menunjukkan seprei, baju, atau warna lain yang berwarna biru. Demikian pula dengan warna lain.
Aisyah mengerti saat saya meminta tolong mengambilkan barang padanya. "Aisyah, tolong ambilkan kaus kaki Aisyah, Nak..." dengan sigap, dia akan mengambilkannya untuk saya. Barang lain seperti pakaian, sepatu, minyak kayu putih, dan banyak lagi. Bisa melambaikan tangan dadadadah, salam, tepuk tangan,mengekspresikan wajahnya dengan lucu. Bukankah hal-hal tersebut membuat kami bahagia dan senantiasa tertawa setiap hari?
Teringat saat saya sakit, Aisyah begitu anteng main sendiri tanpa mengganggu saya... seperti kebiasaan kami setiap hari, selesai bermain, semua mainan dirapikan dan dimasukkan di dalam tas, Aisyah melakukan semua kebiasaan itu tanpa mengganggu saya yang sedang tidur (tiduran). Ya, saya memang menanamkan kebiasaan rapi-rapi padanya. Masya Allah ... bahkan saat saya iseng bilang "Aisyah, tolong pijit tangan bunda sayang..." ia akan langsung ambil minyak kayu putih dan meremas-remas kecil tangan saya seperti memijit (meniru yang dilakukan ayahnya). Masya Allah... fabiayyi ala irabbikuma tukadziban... maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
mainan kesukaan Aisyah, kotak distorsi aneka bentuk, wiregame, dan buku-buku.
Semua yang ada pada Aisyah hingga hari ini bukankah begitu mewarnai hari, jadi stop membandingkan, Bunda!
Alhamdulillah, ketika saya sudah ridha dengan "keterlambatan" Aisyah berjalan... Allahu Akbar, sore hari di hari yang sama Aisyah tiba-tiba berjalan sendiri. Alhamdulillah, Masya Allah, Barakallah... Ana Uhibbuki Fillah, Aisyah Hilmiya Ahmad-putri kesayangan ayah bunda. :-*
Di perumahan tempat kami tinggal, ada beberapa anak seusia Aisyah. Kami sering bertemu saat jalan pagi, sekedar berpapasan sambil berbagi senyum atau sesekali mengobrol sejenak. Umumnya, obrolan seputar tumbuh kembang anak. Paliiiing sering tentang usia berapa anak mereka sudah bisa berjalan sendiri, mungkin melihat aisyah masih kami tuntun.
"Putra saya ini usia 9 bulan uda bisa jalan sendiri. Ini belum bisa jalan sendiri, toh? (Sambil melihat aisyah)"
"Anak saya hampir 10 bulan uda jalan, cepat banget jalannya (lihat Aisyah juga)"
"Paling lama biasa setahun uda bisa jalan, ya..."
dan lain-lain... Biasalah, kalau orang tua membanggakan kepintaran anaknya.
Tak dipungkiri, hal ini membuat saya sedih. Apalagi kemudian melihat video anak teman yang seusia aisyah uda bisa jalan di saat Aisyah baru bisa berdiri sendiri :'(
"Apakah Aisyah kurang stimulasi? Apakah ada masalah dengan kakinya?" Semua tanya dijawab lega dengan penjelasan dokter bahwa Aisyah baik,sehat, tulang kakinya normal, otot kakinya kuat.
Semua ada masanya. Stop membandingkan, Bunda!
Ya, cukup membandingkan Aisyah dengan anak lainnya. Ini hanya masalah jalan, bila tiba masanya ... Insya Allah, Aisyah pasti bisa berjalan seperti anak lain. Tiba-tiba, saya merasa malu dan menyusup perasaan bersalah karena kurang bersyukur. Bukankah untuk hal lain perkembangan Aisyah sungguh membahagiakan, sungguh memudahkan saya dalam berinteraksi dengannya.
Aisyah yang enggak pernah rewel. Aisyah yang sudah bisa membedakan kanan dan kiri, mengenal anggota tubuhnya. Dengan baik Aisyah bisa menunjukkan mana kaki kanan atau kiri, tangan kanan dan kiri, perut, hidung, telinga, kepala, mulut dan punggung saat kami menanyakannya. Mengetahui beberapa warna seperti purple, green, blue, orange, pink, yellow, red. Biasa saya cukup bertanya "Aisyah, warna blue yang mana?" Maka aisyah akan menunjukkan seprei, baju, atau warna lain yang berwarna biru. Demikian pula dengan warna lain.
Aisyah mengerti saat saya meminta tolong mengambilkan barang padanya. "Aisyah, tolong ambilkan kaus kaki Aisyah, Nak..." dengan sigap, dia akan mengambilkannya untuk saya. Barang lain seperti pakaian, sepatu, minyak kayu putih, dan banyak lagi. Bisa melambaikan tangan dadadadah, salam, tepuk tangan,mengekspresikan wajahnya dengan lucu. Bukankah hal-hal tersebut membuat kami bahagia dan senantiasa tertawa setiap hari?
Teringat saat saya sakit, Aisyah begitu anteng main sendiri tanpa mengganggu saya... seperti kebiasaan kami setiap hari, selesai bermain, semua mainan dirapikan dan dimasukkan di dalam tas, Aisyah melakukan semua kebiasaan itu tanpa mengganggu saya yang sedang tidur (tiduran). Ya, saya memang menanamkan kebiasaan rapi-rapi padanya. Masya Allah ... bahkan saat saya iseng bilang "Aisyah, tolong pijit tangan bunda sayang..." ia akan langsung ambil minyak kayu putih dan meremas-remas kecil tangan saya seperti memijit (meniru yang dilakukan ayahnya). Masya Allah... fabiayyi ala irabbikuma tukadziban... maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
mainan kesukaan Aisyah, kotak distorsi aneka bentuk, wiregame, dan buku-buku.
Semua yang ada pada Aisyah hingga hari ini bukankah begitu mewarnai hari, jadi stop membandingkan, Bunda!
Alhamdulillah, ketika saya sudah ridha dengan "keterlambatan" Aisyah berjalan... Allahu Akbar, sore hari di hari yang sama Aisyah tiba-tiba berjalan sendiri. Alhamdulillah, Masya Allah, Barakallah... Ana Uhibbuki Fillah, Aisyah Hilmiya Ahmad-putri kesayangan ayah bunda. :-*
Label:
Aku Kamu Kita,
Buku,
Dunia Anak,
Keluarga,
Pernikahan
Minggu, 07 Desember 2014
Singkong ala Thai
Weleh ... di rumah sedang kebanjiran singkong aka ubi kayu. Alhamdulillah ... tapi kalau digoreng terus bosen, padahal masih ada LIMA KILO lagi. Haduh, gimana dong! Mau bikin kolak kudu keluar modal gede buat pendamping si singkong. Pingin dijadiin kue talam ubi tapi kok rasanya ribet, ya... (halah, padahal malas). Lagipula, bosen juga terlalu sering makan ubi, Pfhh... mana bikin angin keluar terus dan menyebarkan aroma beracun. Finally, jadilah disulap jadi Singkong Ala Thai yang terkenal itu, ternyata enggak cuma harumnya yang bikin laper, tapi rasanya juga benar-benar top markotop!
Resepnya saya ikuti dari sini
Bahan:
- 800 gram singkong, potong-potong sepanjang 5 cm, belah dua, buang serat tengahnya.
- 1 1/2 liter air
- 2 lembar daun pandan, potong sepanjang 5 cm
- 1/2 sendok teh garam
- 200 gram gula pasir
- 1 sendok teh vanili ekstrak
Bahan saus:
- 500 ml santan kental dari 1 butir kelapa
- 1 sendok teh garam
- 2 lembar daun pandan, potong sepanjang 5 cm
- 1 sendok makan tepung maizena larutkan dengan 3 sendok makan santan
noted: saya pakai 5kg singkong, bahan lain hitung timbang sendiri sesuai resep asli di atas.
Cara membuat:
Siapkan panci, masukkan air, rebus hingga air mendidih. Masukkan singkong dan daun pandan, rebus hingga singkong benar-benar empuk, berwarna hampir transparan dan air menyusut. Tambahkan gula pasir, vanila ekstrak dan garam. Rebus hingga gula larut.
Jika air yang digunakan untuk merebus habis sementara singkong belum empuk benar, tambahkan air panas secukupnya dan lanjutkan merebus hingga air hampir habis namun singkong masih terlihat basah. Angkat dan sisihkan.
Membuat vla santan
Siapkan panci kecil, masukkan santan, garam, daun pandan dan larutan tepung maizena. Rebus dengan api kecil sambil diaduk-aduk hingga santan mulai mengeluarkan letupan-letupan kecil dan mengental. Lanjutkan merebus selama 2 menit, aduk-aduk agar santan tidak pecah dan angkat.
Penyajian
Siapkan mangkuk, tata singkong diatasnya dan siram dengan kuah santan. Yummy!
Legaaaa rasanya semua ubi sudah dieksekusi jadi siap makan dan berkesempatan berbagi dengan tetangga, Alhamdulillah ...
Oya, OOT sedikit, buat Pak Menteri ... menurut saya, daripada para PNS dihimbau untuk makan SINGKONG REBUS, bikin perut berangin dan keluar angin beracun, suasana kerja jadi enggak enak dan efek samping lainnya, meski alasannya untuk mensejahterakan petani lokal selain untuk hidup sederhana, lebih baik kan menyajikan kue modifikasi singkong, jangan plek kudu singkong rebus. Hal ini kan juga sekaligus bisa memacu para ibu-ibu untuk berkreatif menciptakan varian makanan dengan bahan utama singkong, syukur-syukur bisa go international.
Resepnya saya ikuti dari sini
Bahan:
- 800 gram singkong, potong-potong sepanjang 5 cm, belah dua, buang serat tengahnya.
- 1 1/2 liter air
- 2 lembar daun pandan, potong sepanjang 5 cm
- 1/2 sendok teh garam
- 200 gram gula pasir
- 1 sendok teh vanili ekstrak
Bahan saus:
- 500 ml santan kental dari 1 butir kelapa
- 1 sendok teh garam
- 2 lembar daun pandan, potong sepanjang 5 cm
- 1 sendok makan tepung maizena larutkan dengan 3 sendok makan santan
noted: saya pakai 5kg singkong, bahan lain hitung timbang sendiri sesuai resep asli di atas.
Cara membuat:
Siapkan panci, masukkan air, rebus hingga air mendidih. Masukkan singkong dan daun pandan, rebus hingga singkong benar-benar empuk, berwarna hampir transparan dan air menyusut. Tambahkan gula pasir, vanila ekstrak dan garam. Rebus hingga gula larut.
Jika air yang digunakan untuk merebus habis sementara singkong belum empuk benar, tambahkan air panas secukupnya dan lanjutkan merebus hingga air hampir habis namun singkong masih terlihat basah. Angkat dan sisihkan.
Membuat vla santan
Siapkan panci kecil, masukkan santan, garam, daun pandan dan larutan tepung maizena. Rebus dengan api kecil sambil diaduk-aduk hingga santan mulai mengeluarkan letupan-letupan kecil dan mengental. Lanjutkan merebus selama 2 menit, aduk-aduk agar santan tidak pecah dan angkat.
Penyajian
Siapkan mangkuk, tata singkong diatasnya dan siram dengan kuah santan. Yummy!
Legaaaa rasanya semua ubi sudah dieksekusi jadi siap makan dan berkesempatan berbagi dengan tetangga, Alhamdulillah ...
Oya, OOT sedikit, buat Pak Menteri ... menurut saya, daripada para PNS dihimbau untuk makan SINGKONG REBUS, bikin perut berangin dan keluar angin beracun, suasana kerja jadi enggak enak dan efek samping lainnya, meski alasannya untuk mensejahterakan petani lokal selain untuk hidup sederhana, lebih baik kan menyajikan kue modifikasi singkong, jangan plek kudu singkong rebus. Hal ini kan juga sekaligus bisa memacu para ibu-ibu untuk berkreatif menciptakan varian makanan dengan bahan utama singkong, syukur-syukur bisa go international.
Label:
Aku Kamu Kita,
Keluarga,
Kesehatan,
mari bekerja,
Pernikahan,
Resep
Rabu, 19 November 2014
Happy Birthday, Tante Novi .... :-)
Hari ini ada teman kantor ayah yang berilang tahun, namanya tante Novi-mamanya mba Samha. Aisyah pertama kali bertemu mereka saat ke Jogja. Inginnya memberi hadiah, tapi ... apa, ya?
Ting! Semalam bunda mengusulkan untuk bikin cupcake sebagai hadiahnya, jadinya malam bunda buat base cake-nya agar besok pagi bisa dihias.
Pagi ini menjadi salah satu pagi tersibuk bagi kami. Bunda bangun Pkl.04.00 wib menyiapkan bahan untuk menghias cup cake, disusul ayah dan Aisyah saat shalat Shubuh. Ayah membantu bunda membuat kotak untuk cupcake sedangkan Aisyah membantu bunda membersihkan sisa coklat di dalam piring, hihihi.
Nyegir :-D
Untuk Basecake-nya, bunda pakai resep blackforest classic berikut :
Bahan :
7 butir telur ukuran besar
150 gr gula pasir
125 gr tepung terigu
25 gr coklat bubuk
1/2 sdt vanili
75 gr mentega/margarine, cairkan
100 gr Dark Cooking Chocolate, lelehkan (bisa diganti pasta coklat)
caranya :
- Campur terigu dan coklat bubuk, aduk rata, sisihkan.
- Kocok telur dan gula pasir hingga mengembang dan kental, masukkan campuran terigu sambil diayak. Aduk balik hingga rata, masukkan mentega leleh dan coklat, aduk balik lagi hingga rata.
- Tuang adonan dalam loyang yang sudah diberi kertas cupcake dan telah dioles mentega. Oven adonan selama 30 menit dengan suhu 180C hingga matang dinginkan.
- Setelah cupcek dingin, hias.
Hasilnya, taraaaa ... Happy Birthday Tante Novi, barakah usia bahagia dunia akhirat, semoga suka dengan hadiah dari kami :-)
Ting! Semalam bunda mengusulkan untuk bikin cupcake sebagai hadiahnya, jadinya malam bunda buat base cake-nya agar besok pagi bisa dihias.
Pagi ini menjadi salah satu pagi tersibuk bagi kami. Bunda bangun Pkl.04.00 wib menyiapkan bahan untuk menghias cup cake, disusul ayah dan Aisyah saat shalat Shubuh. Ayah membantu bunda membuat kotak untuk cupcake sedangkan Aisyah membantu bunda membersihkan sisa coklat di dalam piring, hihihi.
Nyegir :-D
Untuk Basecake-nya, bunda pakai resep blackforest classic berikut :
Bahan :
7 butir telur ukuran besar
150 gr gula pasir
125 gr tepung terigu
25 gr coklat bubuk
1/2 sdt vanili
75 gr mentega/margarine, cairkan
100 gr Dark Cooking Chocolate, lelehkan (bisa diganti pasta coklat)
caranya :
- Campur terigu dan coklat bubuk, aduk rata, sisihkan.
- Kocok telur dan gula pasir hingga mengembang dan kental, masukkan campuran terigu sambil diayak. Aduk balik hingga rata, masukkan mentega leleh dan coklat, aduk balik lagi hingga rata.
- Tuang adonan dalam loyang yang sudah diberi kertas cupcake dan telah dioles mentega. Oven adonan selama 30 menit dengan suhu 180C hingga matang dinginkan.
- Setelah cupcek dingin, hias.
Hasilnya, taraaaa ... Happy Birthday Tante Novi, barakah usia bahagia dunia akhirat, semoga suka dengan hadiah dari kami :-)
Label:
Aku Kamu Kita,
Keluarga,
Pernikahan,
Resep
Sabtu, 01 November 2014
Coffee Break Tanggal 33
Huwaaaa, ternyata bulan oktober ini sampai tanggal 33, hihihi... kalau kata status teman "sakitnya tuh di sini ... di dalam dompet" :-D
Begitulah kalau tanggal 1 kena di hari Sabtu, takdir pekerja yang tak bisa dielak :-D
Biasanya tuh, makin kere makin pingin makaaaaan aja bawaannya :-D tapi kan kalau beli mihil, lagipula mending dipakai buat belanja masak lauk. Tapi lagi, mulut ini maunya ngemiiiil mulu (gimana enggak tambah melar, yak! :-D). Finally, berbekal bahan yang ada di rumah, jadilah bunda Aisyah ini bikin Roti Sobek buat coffee break di tanggal 33 ini. Hasilnya, taraaaa .... lembut, enak di rasa enak di kantong, hihihi.
Semalam pakai isinya coklat keju dengan resep berikut :
RESEP DASAR ROTI EMPUK
Sumber: N C C
Bahan:
500gr Tepung terigu Protein Tinggi (ex:Cakra – Bogasari)
100gr Gula Pasir
25gr Susu Bubuk
4 Kuning Telur
11gr Ragi Instant (1 bungkus standar)
3gr Bread Improver
130ml Susu Cair
100ml Air Es
100gr Mentega + Margarine
1 sdt Garam
BahanOlesan :
Susu Evaporasi
VariasiIsi :
Meises, Keju Parut, Abon, Cokelat, DLL
CaraMembuat :
- Campur semua bahan kering, KECUALI garam,aduk rata.
- Masukkan Susu Cair, kuning telur, aduk danuleni sampai rata.
- Masukkan mentega-margarine dan garam,ulenin lagi sampai kalis dan elastis. Istirahatkan adonan selama 15 menit.
- Kempiskan adonan, adonan siap diolah dan dibentuk.
- Potong dan timbang adonan @50gr atau sesuaiselera, bulatkan sempurna. Istirahatkan kembali selama 15 menit, lalu bentukdan beri isian.
- Diamkan kembali selama 30 menit atau sampaimengembang sempurna (final proofing)
- Oles permukaan dengan bahan olesan.
- Panggang dengan suhu 180-200 derajatcelcius selama +/- 20 menit atau hingga matang.
- Angkat. Panas-panas langsung olesin lagi permukaannya dengan mentega.
Hasilnya jadi empat loyang, begadang romantis sama ayah aisyah sampai Pkl.00.00 wib tungguin di roti dipanggang. Mulai nguleni adonan uda hampir Pkl.21.00 wib juga, sih.
loyang terakhir sebelum dipanggang
Walau bergadang sampai loyang terakhir agak gosong karena ngantuk, semua terbayar dengan lahapnya aisyah menikmati roti sobeknya, Alhamdulillah :-)
hihihi, inilah suguhan coffe break weekend tanggal 33, hihihi ... bye-bye sakitnya tuh di sini :-D
Begitulah kalau tanggal 1 kena di hari Sabtu, takdir pekerja yang tak bisa dielak :-D
Biasanya tuh, makin kere makin pingin makaaaaan aja bawaannya :-D tapi kan kalau beli mihil, lagipula mending dipakai buat belanja masak lauk. Tapi lagi, mulut ini maunya ngemiiiil mulu (gimana enggak tambah melar, yak! :-D). Finally, berbekal bahan yang ada di rumah, jadilah bunda Aisyah ini bikin Roti Sobek buat coffee break di tanggal 33 ini. Hasilnya, taraaaa .... lembut, enak di rasa enak di kantong, hihihi.
Semalam pakai isinya coklat keju dengan resep berikut :
RESEP DASAR ROTI EMPUK
Sumber: N C C
Bahan:
500gr Tepung terigu Protein Tinggi (ex:Cakra – Bogasari)
100gr Gula Pasir
25gr Susu Bubuk
4 Kuning Telur
11gr Ragi Instant (1 bungkus standar)
3gr Bread Improver
130ml Susu Cair
100ml Air Es
100gr Mentega + Margarine
1 sdt Garam
BahanOlesan :
Susu Evaporasi
VariasiIsi :
Meises, Keju Parut, Abon, Cokelat, DLL
CaraMembuat :
- Campur semua bahan kering, KECUALI garam,aduk rata.
- Masukkan Susu Cair, kuning telur, aduk danuleni sampai rata.
- Masukkan mentega-margarine dan garam,ulenin lagi sampai kalis dan elastis. Istirahatkan adonan selama 15 menit.
- Kempiskan adonan, adonan siap diolah dan dibentuk.
- Potong dan timbang adonan @50gr atau sesuaiselera, bulatkan sempurna. Istirahatkan kembali selama 15 menit, lalu bentukdan beri isian.
- Diamkan kembali selama 30 menit atau sampaimengembang sempurna (final proofing)
- Oles permukaan dengan bahan olesan.
- Panggang dengan suhu 180-200 derajatcelcius selama +/- 20 menit atau hingga matang.
- Angkat. Panas-panas langsung olesin lagi permukaannya dengan mentega.
Hasilnya jadi empat loyang, begadang romantis sama ayah aisyah sampai Pkl.00.00 wib tungguin di roti dipanggang. Mulai nguleni adonan uda hampir Pkl.21.00 wib juga, sih.
loyang terakhir sebelum dipanggang
Walau bergadang sampai loyang terakhir agak gosong karena ngantuk, semua terbayar dengan lahapnya aisyah menikmati roti sobeknya, Alhamdulillah :-)
hihihi, inilah suguhan coffe break weekend tanggal 33, hihihi ... bye-bye sakitnya tuh di sini :-D
Label:
Aku Kamu Kita,
Dunia Anak,
Keluarga,
Pernikahan,
Resep
Senin, 20 Oktober 2014
Happy 1st Birthday, Aisyah!
Alhamdulillah, hari ini Aisyah genap satu tahun. Rasanya, ayah dan bunda bahagiaaaaa melalui hari-hari bersama Aisyah. Semoga seluruh doa indah senantiasa tercurah atas Aisyah, cinta dan kebanggaan ayah-bunda. Allahumma Aamiin.
Di tahun pertama ini, ayah-bunda ingin memberikan sesuatu yang istimewa buat Aisyah. Namun, dalam keterbatasandana keadaan bisa enggak, ya?
Dengan mata berkaca-kaca, Bunda ngitungi isi dompet(lebay), hihihi "kayaknya enggak mungkin deh bikin acara syukuran di hari ultah aisyah" :-D. Ngomong-ngomong sama ayah, "gimana kalau buat birthday cake aja?". Bunda check bahan kue completed, Alhamdulillah. Bunda juga check kain flanel yang dikirim nenek dari Banda Aceh, cukup buat ucapan selamat ulang tahun di dinding. Terakhir, bisa beli balon warna-warni. Selain biar ceria, kami ingin tahu, Aisyah takut enggak sama Balon, mengingat Aisyah takut sama semua benda bulat yang besar. So, sehari menjelang ulang tahun Aisyah yang pertama, ayah dan bunda sibuk-sibuk memeriahkan rumah, hihi.
Berbekal dua potong persediaan ayam di kulkas, kentang, tahu dan tempe, Alhamdulillah, bunda juga bisa menyediakan nasi tumpeng di hari istimewa Aisyah, biar sederhana bersahaja yang penting yummy, bahagia melihat ayah dan aisyah makan masakan bunda dengan lahap.
pernak-pernik bla...bla...ultah Aisyah
suasana ulang tahun pertama aisyah:-D
Di samping semua itu, syukuran usia Aisyah yang pertama ini juga mengapresiasi kelulusan S2 ASI dan MPASI homemade Aisyah, Alhamdulillah... sekarang uda bisa makan makanan yang lebih beragam, running sugar and salt! *meski tetap dibatasi jumlahnya :-)
Besoknya buka beberapa kado, paling senang sama kado pemberian ammah farida, jauh-jauh dari Singapore. Jazakillah khair, Ammah... semoga bisa selesai study-nya sesuai target waktu dengan prestasi yang membanggakan. Allahumma Aamiin. :-)
Aisyah excited banget diijinin makan Hershey's white chocolate (- -")
Barakallahu fii umruki, Aisyaaaaah :-*
Di tahun pertama ini, ayah-bunda ingin memberikan sesuatu yang istimewa buat Aisyah. Namun, dalam keterbatasan
Dengan mata berkaca-kaca, Bunda ngitungi isi dompet(lebay), hihihi "kayaknya enggak mungkin deh bikin acara syukuran di hari ultah aisyah" :-D. Ngomong-ngomong sama ayah, "gimana kalau buat birthday cake aja?". Bunda check bahan kue completed, Alhamdulillah. Bunda juga check kain flanel yang dikirim nenek dari Banda Aceh, cukup buat ucapan selamat ulang tahun di dinding. Terakhir, bisa beli balon warna-warni. Selain biar ceria, kami ingin tahu, Aisyah takut enggak sama Balon, mengingat Aisyah takut sama semua benda bulat yang besar. So, sehari menjelang ulang tahun Aisyah yang pertama, ayah dan bunda sibuk-sibuk memeriahkan rumah, hihi.
Berbekal dua potong persediaan ayam di kulkas, kentang, tahu dan tempe, Alhamdulillah, bunda juga bisa menyediakan nasi tumpeng di hari istimewa Aisyah, biar sederhana bersahaja yang penting yummy, bahagia melihat ayah dan aisyah makan masakan bunda dengan lahap.
pernak-pernik bla...bla...ultah Aisyah
suasana ulang tahun pertama aisyah:-D
Di samping semua itu, syukuran usia Aisyah yang pertama ini juga mengapresiasi kelulusan S2 ASI dan MPASI homemade Aisyah, Alhamdulillah... sekarang uda bisa makan makanan yang lebih beragam, running sugar and salt! *meski tetap dibatasi jumlahnya :-)
Besoknya buka beberapa kado, paling senang sama kado pemberian ammah farida, jauh-jauh dari Singapore. Jazakillah khair, Ammah... semoga bisa selesai study-nya sesuai target waktu dengan prestasi yang membanggakan. Allahumma Aamiin. :-)
Aisyah excited banget diijinin makan Hershey's white chocolate (- -")
Barakallahu fii umruki, Aisyaaaaah :-*
Label:
Aku Kamu Kita,
Dunia Anak,
Keluarga,
Pernikahan
Jumat, 18 April 2014
Hari Kelulusan S1 Aisyah
Jreng... jreng...Alhamdulillah, Jumat/ 18 April 2014 dengan izin Allah, Aisyah bisa lulus S1 ASI Eksklusif. Tak terasa sudah 6 bulan usia Aisyah, yeyeye ... sekarang uda bisa mulai makan ini itu. Pasalnya selama ini Aisyah cuma bisa lihatin kalau ada yang makan sambil ngences-ngences gimana gitu ... :-D
Terima kasih Ayah yang telah mengurus sertifikat Aisyah :-*
Pertama-tama, Alhamdulillah syukur kepada Allah karena hingga hari ini Aisyah dikaruniai kesehatan,begitu pula ayah, bunda, dan nenek yang mendukung program ASIX Aisyah. Kalau enggak, tiap Aisyah mulai menatap sendu sambil mulutnya nyam-nyam ngences lihat orang makan, pasti sudah dikasih makanan, deh. Alhamdulillah, berhasil sudah dilewati ujian itu, terutama buat Aisyah, kami bangga dengan kesabaran Aisyah menghadapi cobaan makanan yang berkali-kali dipamerin doang. hihihi, we proud you, dear ... *cium
jadi...jadi... sebenarnya bunda sejak jauh-jauh hari uda semangat menyambut hari bersejarah ini, hihihi. Mulai dari baca-baca literatur tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI), googling menu MPASI homemade seperti yang ayah bunda rencanakan, tanya sana sini sama yang uda ngejalani MPASI duluan, nyiapin table evaluasi, sampai rajin hunting bahan makanan buat MPASI Aisyah di pasar, hihihi.
Finally, MPASI pertama Aisyah hari ini adalaaaah mandarin baby orange juice mixed ASI.Mau bilang jus jeruk campuk ASI aja ribet banget yak :-D
Ternyata, bukan bunda aja yang antusias menyaksikan momen bersejarah ini (hihihi), ayah, ammah, nenek, dan abusyik juga semangat untuk menyaksikan Aisyah makan. Sayangnya karena kita lagi LDR-an sama ayah, jadilah ayah cuma bisa menyaksikannya via video call *terima kasih penemu videocall :')Sedangkan ammah,meski sedang sibuk sekali dengan kuliah dan tugasnya yang seabrek, stres, capek, ga tidur dua malam, tetap bela-belain izin sama teman-temannya buat online saat moment special ini *terima kasih, Ammah ... Aisyah sayang Ammah :-*
Awalnya, ekspresi Aisyah meringis-meringis gimana gitu, bunda sampai khawatir, jangan-jangan asem, tapi ternyata ... Aih, suapan selanjutnya Aisyah lahap banget. Waktu bunda icip sedikit rasanya manis. Habis sampai tuntas, sambil senyum sumringah dan masih ngeliatin tempat makannya yang uda kosong. Alhamdulillah :-)
MPASI ini juga bukan tanpa cobaan. Pasalnya, selain berencana untuk menyajikan MPASI homemade,sesuai panduan kesehatan semua menu makanan Aisyah juga harus no salt and sugar up to one year. Jadi bunda kudu berstrategi menyajikan rasa alami dari sayur atau buah agar Aisyah tetap bisa tahu bagaimana rasa manis, asam, asin. Semoga semangat bunda enggak cuma panas-panas taik ayam, semoga Allah memampukan dan memudahkan. Allahumma Aamiin. *ikat kepala kepalkan tangan semangat!
Harapannya, selain sukses MPASI, Aisyah juga bisa lulus sampai S3 ASI. Allahumma Aamiin. Mohon doa dan bimbingannya ya tante,om,ammah,ami,pak wa, auntie, kakak,abang dan semua yang Aisyah sayang, love you all because of Allah, muach ... :-)
Terima kasih Ayah yang telah mengurus sertifikat Aisyah :-*
Pertama-tama, Alhamdulillah syukur kepada Allah karena hingga hari ini Aisyah dikaruniai kesehatan,begitu pula ayah, bunda, dan nenek yang mendukung program ASIX Aisyah. Kalau enggak, tiap Aisyah mulai menatap sendu sambil mulutnya nyam-nyam ngences lihat orang makan, pasti sudah dikasih makanan, deh. Alhamdulillah, berhasil sudah dilewati ujian itu, terutama buat Aisyah, kami bangga dengan kesabaran Aisyah menghadapi cobaan makanan yang berkali-kali dipamerin doang. hihihi, we proud you, dear ... *cium
jadi...jadi... sebenarnya bunda sejak jauh-jauh hari uda semangat menyambut hari bersejarah ini, hihihi. Mulai dari baca-baca literatur tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI), googling menu MPASI homemade seperti yang ayah bunda rencanakan, tanya sana sini sama yang uda ngejalani MPASI duluan, nyiapin table evaluasi, sampai rajin hunting bahan makanan buat MPASI Aisyah di pasar, hihihi.
Finally, MPASI pertama Aisyah hari ini adalaaaah mandarin baby orange juice mixed ASI.Mau bilang jus jeruk campuk ASI aja ribet banget yak :-D
Ternyata, bukan bunda aja yang antusias menyaksikan momen bersejarah ini (hihihi), ayah, ammah, nenek, dan abusyik juga semangat untuk menyaksikan Aisyah makan. Sayangnya karena kita lagi LDR-an sama ayah, jadilah ayah cuma bisa menyaksikannya via video call *terima kasih penemu videocall :')Sedangkan ammah,meski sedang sibuk sekali dengan kuliah dan tugasnya yang seabrek, stres, capek, ga tidur dua malam, tetap bela-belain izin sama teman-temannya buat online saat moment special ini *terima kasih, Ammah ... Aisyah sayang Ammah :-*
Awalnya, ekspresi Aisyah meringis-meringis gimana gitu, bunda sampai khawatir, jangan-jangan asem, tapi ternyata ... Aih, suapan selanjutnya Aisyah lahap banget. Waktu bunda icip sedikit rasanya manis. Habis sampai tuntas, sambil senyum sumringah dan masih ngeliatin tempat makannya yang uda kosong. Alhamdulillah :-)
MPASI ini juga bukan tanpa cobaan. Pasalnya, selain berencana untuk menyajikan MPASI homemade,sesuai panduan kesehatan semua menu makanan Aisyah juga harus no salt and sugar up to one year. Jadi bunda kudu berstrategi menyajikan rasa alami dari sayur atau buah agar Aisyah tetap bisa tahu bagaimana rasa manis, asam, asin. Semoga semangat bunda enggak cuma panas-panas taik ayam, semoga Allah memampukan dan memudahkan. Allahumma Aamiin. *ikat kepala kepalkan tangan semangat!
Harapannya, selain sukses MPASI, Aisyah juga bisa lulus sampai S3 ASI. Allahumma Aamiin. Mohon doa dan bimbingannya ya tante,om,ammah,ami,pak wa, auntie, kakak,abang dan semua yang Aisyah sayang, love you all because of Allah, muach ... :-)
Selasa, 25 Maret 2014
LDR
Kata teman-teman LDR itu enggak enak, pasti-lah, ya ... dua hari suami dinas keluar kota aja rasanya uda gimanaaa gitu, biasa siang makan bareng, sore cerita-cerita, malam ngobrol-ngobrol, hari itu enggak ada. Meski bisa ngobrol via telepon tapi kan terbatas. Terbatas waktu, pulsa, aaah, pokoknya kehadiran itu enggak tergantikan, deh.
sumber gambar : google-lukmanfauzan.blogspot.com
Nah, enggak lama lagi saya harus siap-siap LDR-an sama suami, hks...hks.. sebenarnya rasanya beraaaaaat banget, tapi mau gimana lagi, demi kelanjutan nasib rumah tangga kami (halah), yaaa, mau enggak mau LDR adalah win-win solution untuk kami saat ini.*miris
Saya selalu teringat nanti suami makannya gimana? waktu puasa gimana? kalau kangen gimana? kalau suami sakit gimana? yang bersih-bersih rumah, rapikan pakaian? sarapannya, makan siang, makan malam? kalau rindu masakan saya gimana? (hihi, yang terakhir mah saya aja yang ge-er :-D). Pokoknya banyak pikiran yang berseliweran di kepala. Intinya saya khawatir, meskipun suami pernah nge-kost teuteup aja, seperti kata suami, selama nikah ia bergantung banget dengan saya. Sejujurnya, saya juga bergantung banget sama suami.
Sebenarnya saya ingin marah, tapi buat apa? cuma bikin stres sendiri. Berapa lama LDR-an? Belum tahu, mungkin setahun, dua atau tiga tahun. Semoga tidak terlalu lama, Aamiin.
Okey, sekarang saya harus semakin menyiapkan mental saya dan terutama Aisyah, karena Aisyah sangat dekat dengan ayahnya, saya juga baru kali ini bakal berjauhan dengan suami, hks..hks.. sebenarnya mengingat hari perpisahan yang semakin dekat membuat saya berkali-kali ingin menangis. Saya harus kuat... harus kuat... harus kuat!
Teman-teman yang pernah LDR-an dengan suami, bolehkah berbagi cerita bagaimana menjalani hari-hari? menyimpan rindu dan mengasuh balita tanpa suami di dekat kita? :-)
sumber gambar : google-lukmanfauzan.blogspot.com
Nah, enggak lama lagi saya harus siap-siap LDR-an sama suami, hks...hks.. sebenarnya rasanya beraaaaaat banget, tapi mau gimana lagi, demi kelanjutan nasib rumah tangga kami (halah), yaaa, mau enggak mau LDR adalah win-win solution untuk kami saat ini.*miris
Saya selalu teringat nanti suami makannya gimana? waktu puasa gimana? kalau kangen gimana? kalau suami sakit gimana? yang bersih-bersih rumah, rapikan pakaian? sarapannya, makan siang, makan malam? kalau rindu masakan saya gimana? (hihi, yang terakhir mah saya aja yang ge-er :-D). Pokoknya banyak pikiran yang berseliweran di kepala. Intinya saya khawatir, meskipun suami pernah nge-kost teuteup aja, seperti kata suami, selama nikah ia bergantung banget dengan saya. Sejujurnya, saya juga bergantung banget sama suami.
Sebenarnya saya ingin marah, tapi buat apa? cuma bikin stres sendiri. Berapa lama LDR-an? Belum tahu, mungkin setahun, dua atau tiga tahun. Semoga tidak terlalu lama, Aamiin.
Okey, sekarang saya harus semakin menyiapkan mental saya dan terutama Aisyah, karena Aisyah sangat dekat dengan ayahnya, saya juga baru kali ini bakal berjauhan dengan suami, hks..hks.. sebenarnya mengingat hari perpisahan yang semakin dekat membuat saya berkali-kali ingin menangis. Saya harus kuat... harus kuat... harus kuat!
Teman-teman yang pernah LDR-an dengan suami, bolehkah berbagi cerita bagaimana menjalani hari-hari? menyimpan rindu dan mengasuh balita tanpa suami di dekat kita? :-)
Minggu, 02 Maret 2014
HANYA CINTA YANG BISA
Alhamdulillah karena pertolongan Allah, tanggal 23 Oktober 2013 lalu saya dapat melahirkan putri pertama kami dengan selamat setelah berjuang selama dua hari di ruang bersalin. Rasa syukur, haru, bahagia bercampur jadi satu. Menjadi seorang ibu adalah rezeki paling indah dari Allah.
Kebahagiaan saya semakin bertambah ketika ternyata Rumah Sakit tempat saya bersalin menerapkan program IMD ( Inisiasi Menyusu Dini), Subhanallah… rasa bahagia saat IMD membuat saya lupa kalau saya sedang “diobras” saat itu, benar-benar tak terasa sakitnya. Padahal saya dijahit selama DUA JAM karena banyaknya robekan saat persalinan. Setelah bayi saya selesai IMD baru terasa sedang dijahit, tapi untung sudah hampir selesai.Rasa bahagia bisa menyusui putri kami di jam pertama kehadirannya membuat saya tenang, se hingga rasa sakit saat penyelesaian jahitan tak terlalu saya rasakan.
Bisa IMD pasca bersalin bukan berarti setelahnya berjalan mulus. Saat dipindah ke ruang rawat inap, tubuh saya tak bisa digerakkan. Tulang belakang saya dari tulang ekor sampai leher rasanya seperti mau patah jika digerakkan. Kata dokter, tulang belakang saya mengalami trauma. Padahal, bayi saya sudah menangis kejer. Perawat, mertua, dan ipar saya mendesak saya untuk memberikan sufor.
Alhamdulillah, suami pro ASI. Sejak saya hamil, kami rajin membaca artikel tentang keutamaan ASI. Beliau menyemangati saya kalau saya pasti kuat, pasti bisa. Beliau memberanikan diri menggendong putri kami dan mendekatkannya pada saya. Melihat wajah mungilnya, rasa cinta terasa membuncah dalam dada saya, saya mencoba menahan sakit dan menggendongnya dengan posisi setengah berbaring. Alhamdulillah, saat menyusui saya tidak merasakan sakit di tulang punggung dan bisa menyusuinya hingga ia tertidur. Subhanallah, hanya cinta yang bisa ….
Dua hari kemudian, saya pulang ke rumah. Tempat tidur di rumah tentu tak sama dengan yang di Rumah Sakit bisa di setting sesuai posisi nyaman kita. Saya belum bisa duduk sendiri, harus dibantu orang lain, suami sudah mulai masuk kantor. Setiap kali akan menyusui, posisi saya setengah berbaring, akhirnya putri kami, boro-boro mau menyusu, ia malah nangis kejer setiap kali saya gendong. Mendengar putri saya nangis, ibu mertua saya langsung datang dengan sufor dan mengambil putri saya dari gendongan saya. Hal ini membuat saya depresi berhari-hari. Saya stres setiap kali mau menyusui. Akhirnya, saya mogok menyusui sampai beberapa hari. Tapi, setiap kali melihat putri saya diberi sufor, hati saya sakit sekali, saya menangis.
Lagi, peran suami sangat menentukan. Beliau tak bosan memberi sugesti dan support pada saya dengan penuh kelembutan. Mengingatkan kembali komitmen awal kami untuk memberikan ASI Eksklusif untuk putri kami. Komitmen untuk menyusuinya hingga lulus S3 ASI.
Saya kembali membaca berbagai pengalaman para bunda yang menyusui anaknya dari beberapa group pro ASI yang saya ikuti. Bukan hanya saya yang memiliki “kendala” saat menyusui. Tapi, jauh lebih banyak yang semangat dan sukses menyusui hingga dua tahun bahkan lebih. Padahal, kebanyakan dari mereka adalah working mom. Masa saya yang full time mom enggak bisa, sih?
Support suami dan pengalaman para bunda yang saya baca membuat saya kembali semangat untuk menyusui putri kami. Semangat untuk menjalani fisioterapi. Minimal saya harus bisa duduk benar untuk menyusui anak saya. Tak mudah memang, bukan sekali dua setiap kali saya gendong putri saya malah nangis kejer sampai badannya hampir membiru. Sempat down lagi karena khawatir. Tapi, saya sangat mencintai putri saya. Saya ingin memberikan yang terbaik dan ASI adalah yang terbaik menurut saya.
Tapi bagaimana ya, baru digendong saja sudah nangis kejer … :’( Akhirnya, saya memberikan ASIP untuk putri saya. Nah, ternyata memberikan ASIP juga enggak gampang. Awal-awal memompa, saya hanya dapat sekitar 20ml-50ml dari kedua PD. Padahal saya sudah banyak minum dan makan sayur serta buah. Haduh, ini juga membuat stres “jangan-jangan ASI saya sedikit”.
Baca- baca lagi, “Oh, ternyata harus rajin dipompa agar ASI-nya banyak. Harus rileks dan positive thinking, karena ASI itu kerja otak. Diproduksi sesuai permintaan. Semakin banyak permintaan, semakin banyak diproduksi.” Saya coba jalani, konsisten memompa setiap 2-3 jam sekali. Alhamdulillah, semakin lama ASIP yang saya hasilkan dapat semakin banyak, bisa hingga 350ml sekali pompa. Subhanallah, hanya cinta yang bisa ….
Tujuh minggu pasca melahirkan, saya baru bisa jalan sedikit-sedikit dan sangat pelaaan sekali. Saya bertekad, harus bisa menyusui langsung. Ternyata, menyusui itu memang enggak mudah saudara-saudara …. Kurang cukup jika hanya dengan modal semangat. Butuh tekad yang kuat, butuh kesabaran yang tak terbatas, butuh kuping yang tebal, butuh dada yang lapang melebihi lapangan sepak bola, dan yang terpenting butuh cinta yang unlimted.
Kenapa?
Karena hanya cinta yang bisa membuat tekad kita enggak terkikis saat bertabrakan dengan kendala-kendala saat menyusui. Karena hanya cinta yang bisa membuat kesabaran kita seperti tak ada habisnya untuk berusaha menyusui buah hati kita. Karena hanya cinta yang bisa membuat kuping kita kebal dengan omongan orang tentang komitmen kita memberikan ASI pada buah hati kita. Karena hanya cinta yang bisa membuat kita berlapang dada dengan tanggapan sinis, kritik tajam, omelan orang-orang di sekitar yang mungkin menganggap kita enggak mampu menyusui, ASI kita sedikit, enggak bagus, sampai enggak sayang anak karena dibiarkan menangis. Karena hanya cinta yang bisa membuat kita mencari informasi dan menambah wawasan sebanyak-banyaknya tentang ASI sehingga akhirnya kita bisa mematahkan opini orang-orang tentang komitmen kita untuk menyusui buah hati kita. Dan, karena cinta Allah-lah yang membuat kita bisa meng-goal kan niat menyusui kita hingga sukses.
Alhamdulillah, sejak usia delapan minggu ‘Aisyah Hilmiya Ahmad – putri kami, sudah menyusui langsung dan tidak mau lagi dikasih ASIP. Bahagianya… hanya cinta yang membuat segalanya menjadi nyata! :-)
Buat bunda yang masih berjuang untuk menyusui, saya ingin berbagi tips dan trik-nya berdasarkan pengalaman saya, yaitu :
- Banyak Membaca. Cari info sebanyak-banyaknya tentang ASI. Manfaatkan teknologi untuk search dan gabung di group yang pro ASI. Ini berguna banget buat mempertahankan komitmen kita untuk menyusui dihadapan orang-orang yang enggak terlalu pro ASI.
- Tenang. Ini penting banget saat menyusui langsung. Meskipun awalnya bayi nangis kejer saat kita gendong, namun kalau kita tenang, Insya Allah ia juga akan tenang. Kalau kita panik saat dia nangis, maka bayi kita akan semakin nangis kejer, seperti kontak batin gitu.
- Bahagia dan Positive Thinking. Berusaha untuk bahagia dan positive thinking kalau ASI kita pasti cukup. Kalau kita pasti bisa menyusui bayi kita. Jangan stres, meskipun mungkin puting kita masuk, rata, atau payudara kita tidak besar, yakinlah, itu enggak ngaruh, selama terus berusaha untuk happy and positive thinking, Insya Allah ASI kita enggak akan kurang.
- Rajin. Baik menyusui langsung atau pun ASIP, kuncinya rajin. Rajin menyusui dan atau rajin memompa ASIP. Ingat! ASI itu sesuai permintaan. Semakin sering/banyak permintaannya, semakin banyak produksinya.
- Evaluasi. Kegiatan menyusui juga perlu evaluasi lho … Pengalaman saya saat menyusui langsung, bayi saya pernah beberapa kali tidak BAB selama dua minggu. Padahal setiap hari saya rajin pijat ILU dan membuat gerakan seperti ngayuh sepeda pada bayi saya. Walaupun katanya kalau perutnya enggak keras dan bayinya enggak rewel, berarti aman, saya tetap khawatir juga. Untuk itu, perlu evaluasi 3F (Fluid, Food, Fitness). Ayo check, dimana “salahnya”.
Itu dulu dari saya, semoga bermanfaat. Ayo, semangat lulus S3 ASI!
Kebahagiaan saya semakin bertambah ketika ternyata Rumah Sakit tempat saya bersalin menerapkan program IMD ( Inisiasi Menyusu Dini), Subhanallah… rasa bahagia saat IMD membuat saya lupa kalau saya sedang “diobras” saat itu, benar-benar tak terasa sakitnya. Padahal saya dijahit selama DUA JAM karena banyaknya robekan saat persalinan. Setelah bayi saya selesai IMD baru terasa sedang dijahit, tapi untung sudah hampir selesai.Rasa bahagia bisa menyusui putri kami di jam pertama kehadirannya membuat saya tenang, se hingga rasa sakit saat penyelesaian jahitan tak terlalu saya rasakan.
Bisa IMD pasca bersalin bukan berarti setelahnya berjalan mulus. Saat dipindah ke ruang rawat inap, tubuh saya tak bisa digerakkan. Tulang belakang saya dari tulang ekor sampai leher rasanya seperti mau patah jika digerakkan. Kata dokter, tulang belakang saya mengalami trauma. Padahal, bayi saya sudah menangis kejer. Perawat, mertua, dan ipar saya mendesak saya untuk memberikan sufor.
Alhamdulillah, suami pro ASI. Sejak saya hamil, kami rajin membaca artikel tentang keutamaan ASI. Beliau menyemangati saya kalau saya pasti kuat, pasti bisa. Beliau memberanikan diri menggendong putri kami dan mendekatkannya pada saya. Melihat wajah mungilnya, rasa cinta terasa membuncah dalam dada saya, saya mencoba menahan sakit dan menggendongnya dengan posisi setengah berbaring. Alhamdulillah, saat menyusui saya tidak merasakan sakit di tulang punggung dan bisa menyusuinya hingga ia tertidur. Subhanallah, hanya cinta yang bisa ….
Dua hari kemudian, saya pulang ke rumah. Tempat tidur di rumah tentu tak sama dengan yang di Rumah Sakit bisa di setting sesuai posisi nyaman kita. Saya belum bisa duduk sendiri, harus dibantu orang lain, suami sudah mulai masuk kantor. Setiap kali akan menyusui, posisi saya setengah berbaring, akhirnya putri kami, boro-boro mau menyusu, ia malah nangis kejer setiap kali saya gendong. Mendengar putri saya nangis, ibu mertua saya langsung datang dengan sufor dan mengambil putri saya dari gendongan saya. Hal ini membuat saya depresi berhari-hari. Saya stres setiap kali mau menyusui. Akhirnya, saya mogok menyusui sampai beberapa hari. Tapi, setiap kali melihat putri saya diberi sufor, hati saya sakit sekali, saya menangis.
Lagi, peran suami sangat menentukan. Beliau tak bosan memberi sugesti dan support pada saya dengan penuh kelembutan. Mengingatkan kembali komitmen awal kami untuk memberikan ASI Eksklusif untuk putri kami. Komitmen untuk menyusuinya hingga lulus S3 ASI.
Saya kembali membaca berbagai pengalaman para bunda yang menyusui anaknya dari beberapa group pro ASI yang saya ikuti. Bukan hanya saya yang memiliki “kendala” saat menyusui. Tapi, jauh lebih banyak yang semangat dan sukses menyusui hingga dua tahun bahkan lebih. Padahal, kebanyakan dari mereka adalah working mom. Masa saya yang full time mom enggak bisa, sih?
Support suami dan pengalaman para bunda yang saya baca membuat saya kembali semangat untuk menyusui putri kami. Semangat untuk menjalani fisioterapi. Minimal saya harus bisa duduk benar untuk menyusui anak saya. Tak mudah memang, bukan sekali dua setiap kali saya gendong putri saya malah nangis kejer sampai badannya hampir membiru. Sempat down lagi karena khawatir. Tapi, saya sangat mencintai putri saya. Saya ingin memberikan yang terbaik dan ASI adalah yang terbaik menurut saya.
Tapi bagaimana ya, baru digendong saja sudah nangis kejer … :’( Akhirnya, saya memberikan ASIP untuk putri saya. Nah, ternyata memberikan ASIP juga enggak gampang. Awal-awal memompa, saya hanya dapat sekitar 20ml-50ml dari kedua PD. Padahal saya sudah banyak minum dan makan sayur serta buah. Haduh, ini juga membuat stres “jangan-jangan ASI saya sedikit”.
Baca- baca lagi, “Oh, ternyata harus rajin dipompa agar ASI-nya banyak. Harus rileks dan positive thinking, karena ASI itu kerja otak. Diproduksi sesuai permintaan. Semakin banyak permintaan, semakin banyak diproduksi.” Saya coba jalani, konsisten memompa setiap 2-3 jam sekali. Alhamdulillah, semakin lama ASIP yang saya hasilkan dapat semakin banyak, bisa hingga 350ml sekali pompa. Subhanallah, hanya cinta yang bisa ….
Tujuh minggu pasca melahirkan, saya baru bisa jalan sedikit-sedikit dan sangat pelaaan sekali. Saya bertekad, harus bisa menyusui langsung. Ternyata, menyusui itu memang enggak mudah saudara-saudara …. Kurang cukup jika hanya dengan modal semangat. Butuh tekad yang kuat, butuh kesabaran yang tak terbatas, butuh kuping yang tebal, butuh dada yang lapang melebihi lapangan sepak bola, dan yang terpenting butuh cinta yang unlimted.
Kenapa?
Karena hanya cinta yang bisa membuat tekad kita enggak terkikis saat bertabrakan dengan kendala-kendala saat menyusui. Karena hanya cinta yang bisa membuat kesabaran kita seperti tak ada habisnya untuk berusaha menyusui buah hati kita. Karena hanya cinta yang bisa membuat kuping kita kebal dengan omongan orang tentang komitmen kita memberikan ASI pada buah hati kita. Karena hanya cinta yang bisa membuat kita berlapang dada dengan tanggapan sinis, kritik tajam, omelan orang-orang di sekitar yang mungkin menganggap kita enggak mampu menyusui, ASI kita sedikit, enggak bagus, sampai enggak sayang anak karena dibiarkan menangis. Karena hanya cinta yang bisa membuat kita mencari informasi dan menambah wawasan sebanyak-banyaknya tentang ASI sehingga akhirnya kita bisa mematahkan opini orang-orang tentang komitmen kita untuk menyusui buah hati kita. Dan, karena cinta Allah-lah yang membuat kita bisa meng-goal kan niat menyusui kita hingga sukses.
Alhamdulillah, sejak usia delapan minggu ‘Aisyah Hilmiya Ahmad – putri kami, sudah menyusui langsung dan tidak mau lagi dikasih ASIP. Bahagianya… hanya cinta yang membuat segalanya menjadi nyata! :-)
Buat bunda yang masih berjuang untuk menyusui, saya ingin berbagi tips dan trik-nya berdasarkan pengalaman saya, yaitu :
- Banyak Membaca. Cari info sebanyak-banyaknya tentang ASI. Manfaatkan teknologi untuk search dan gabung di group yang pro ASI. Ini berguna banget buat mempertahankan komitmen kita untuk menyusui dihadapan orang-orang yang enggak terlalu pro ASI.
- Tenang. Ini penting banget saat menyusui langsung. Meskipun awalnya bayi nangis kejer saat kita gendong, namun kalau kita tenang, Insya Allah ia juga akan tenang. Kalau kita panik saat dia nangis, maka bayi kita akan semakin nangis kejer, seperti kontak batin gitu.
- Bahagia dan Positive Thinking. Berusaha untuk bahagia dan positive thinking kalau ASI kita pasti cukup. Kalau kita pasti bisa menyusui bayi kita. Jangan stres, meskipun mungkin puting kita masuk, rata, atau payudara kita tidak besar, yakinlah, itu enggak ngaruh, selama terus berusaha untuk happy and positive thinking, Insya Allah ASI kita enggak akan kurang.
- Rajin. Baik menyusui langsung atau pun ASIP, kuncinya rajin. Rajin menyusui dan atau rajin memompa ASIP. Ingat! ASI itu sesuai permintaan. Semakin sering/banyak permintaannya, semakin banyak produksinya.
- Evaluasi. Kegiatan menyusui juga perlu evaluasi lho … Pengalaman saya saat menyusui langsung, bayi saya pernah beberapa kali tidak BAB selama dua minggu. Padahal setiap hari saya rajin pijat ILU dan membuat gerakan seperti ngayuh sepeda pada bayi saya. Walaupun katanya kalau perutnya enggak keras dan bayinya enggak rewel, berarti aman, saya tetap khawatir juga. Untuk itu, perlu evaluasi 3F (Fluid, Food, Fitness). Ayo check, dimana “salahnya”.
Itu dulu dari saya, semoga bermanfaat. Ayo, semangat lulus S3 ASI!
Label:
Diantara Kita,
Dunia Anak,
Keluarga,
Pernikahan
Rabu, 26 Februari 2014
The moment
Waktu ternyata cepat sekali berlalu. Enggak terasa sekarang saya sudah lebih dari seperempat abad hidup di dunia ini, sudah menikah dan memiliki anak. *mau bilang sudah tua aja berbelit-belit banget, hihihi.
mumpung my baby girl lagi tidur, saya ingin bernostalgia sembari mensyukuri nikmat Allah pada saya yang tak terhitung banyaknya... Alhamdulillah *lap air mata haru
Alhamdulillah, 17 Januari 2013, kami melangsungkan akad nikah di Mesjid Baiturrahman Banda Aceh. Tidak menggelar walimatul'urs, hanya syukuran kecil untuk keluarga, tetangga, dan teman dekat.
empat hari setelah menikah, saya langsung diboyong suami ke Tangerang dan Jepara, tempat keluarga suami.
Ini pertama kalinya saya jalan-jalan sama suami. Hihihi, maklum, enggak ada honeymoon. Diajak ke kura-kura icon Jepara, dalamnya seaworld. :-D
Subhanallah walhamdulillah, sebulan setelah menikah, kami diberi kepercayaan oleh Allah. Saya positif hamil.
foto waktu hamil 9 bulan, mau pergi periksa kandungan. Hihihi, ngelihat foto ini jadi ingin hamil lagi ... :-D Dua jiwa dalam satu raga, benar-benar menakjubkan :')
Dan, sekarang ... telah ada 'Aisyah-putri kami yang pertama, menambah syukur dan kebahagiaan, Alhamdulillah .... :-)
mumpung my baby girl lagi tidur, saya ingin bernostalgia sembari mensyukuri nikmat Allah pada saya yang tak terhitung banyaknya... Alhamdulillah *lap air mata haru
Alhamdulillah, 17 Januari 2013, kami melangsungkan akad nikah di Mesjid Baiturrahman Banda Aceh. Tidak menggelar walimatul'urs, hanya syukuran kecil untuk keluarga, tetangga, dan teman dekat.
empat hari setelah menikah, saya langsung diboyong suami ke Tangerang dan Jepara, tempat keluarga suami.
Ini pertama kalinya saya jalan-jalan sama suami. Hihihi, maklum, enggak ada honeymoon. Diajak ke kura-kura icon Jepara, dalamnya seaworld. :-D
Subhanallah walhamdulillah, sebulan setelah menikah, kami diberi kepercayaan oleh Allah. Saya positif hamil.
foto waktu hamil 9 bulan, mau pergi periksa kandungan. Hihihi, ngelihat foto ini jadi ingin hamil lagi ... :-D Dua jiwa dalam satu raga, benar-benar menakjubkan :')
Dan, sekarang ... telah ada 'Aisyah-putri kami yang pertama, menambah syukur dan kebahagiaan, Alhamdulillah .... :-)
Label:
Aku Kamu Kita,
Keluarga,
Pernikahan
Selalu Ada Saat Pertama
Pertama kali melihat putri pertama kami- 'Aisyah Hilmiya Ahmad, rasanya enggak bisa diungkapkan, bahagiaaaa sekali. Alhamdulillah, Allah telah memberi kepercayaan pada kami untuk sebuah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Amanah paling indah ....
'Aisyah lahir dengan BB 2,9kg dan TB 45cm. Mungiiiil sekali. Semua orang bilang putri kami terlalu kecil :'(
Warna kulitnya merah sekali, terutama saat ia menangis, seluruh tubuhnya memerah seperti warna merah hati, sampai lagi ... lagi ... orang bilang ia hitam (_ _!). Ya, begitulah, kadang orang berkomentar sesukanya. Tapi, tak mengapa, 'Aisyah tetap anugeraah paling indah bagi kami.

Pertama kali menjadi ibu, selain rasa bahagia ternyata juga lumayan "kerepotan". Hihihi. Dibulan pertama kelahirannya, walaupun pesan dokter 'Aisyah harus disusui maksimal setiap dua jam sekali, kenyataannya hampir setiap malam kami tidak tidur, bahkan 24 jam tidak tidur saat bulan pertama kelahirannya. 'Aisyah kerap bangun setiap 15-30 menit sekali. Seringnya karena lapar atau haus, kadang minta digendong,nangis karena enggak nyaman basah pipis atau poop, kadang ya cuma sekedar bangun-bangun aja :-D
Seiring waktu, Alhamdulillah 'Aisyah anak yang teratur, ini memudahkan kami saat malam, hihihi. Setidaknya kami bisa tidur sekitar setengah jam sampai 2-3 kali dalam satu malam. 'Aisyah selalu terbangun hanya karena haus dan lapar di jam yang sama setiap hari. Lumayanlah, selain ganti popok dan menyusui, sudah bisa tidur sebentar. Subhanallah ... benar-benar anak yang pengertian. Pasalnya, ayahnya kalau sudah semalaman enggak tidur, bisa tertidur di kantor :-D
Alhamdulillah saat 'Aisyah usia 40 hari, kami dicukupkan rezeki oleh Allah untuk melaksanakan aqiqah 'Aisyah di rumah mbah-nya. Ini pertama kalinya 'Aisyah dibawa keluar rumah.
Subhanallah walhamdulillah, saat usianya tiga bulan, 'Aisyah sudah bisa tengkurap. Pertama kali melihat 'Aisyah bisa tengkurap rasanya sangat bersyukur dan bahagia. Kami berusaha selalu menyemangatinya saat ia terlihat sangat berusaha keras saat tengkurap dan memberikan apresiasi jika ia berhasil atau pun tidak, apresiasi atas usaha dan semangatnya. :')
sekarang, kepalanya sudah bisa semakin tegak, tinggi, dan lama saat tengkurap. 'Aisyah juga selalu berusaha mendorong kaki dan badannya untuk maju ke depan. Seringnya sampai ngences-ngences atau meneriakkan semangat "eeeeeehhhhhnggg". hihihi ... :-D
dahinya kecolongan digigitin nyamuk (_ _!)
Pernah juga 'Aisyah demam pasca imunisasi. Pertama kali 'Aisyah demam saya cukup bingung dan panik. Alhamdulillah, untuk ada misyik aisyah-ibu saya. Biasanya setelah imunisasi begitu sampai rumah langsung demam dan maunya hanya digendong sambil berdiri sepanjang malam. Setiap yang menggendongnya duduk, ia pasti menangis. Kami bergantian menggendongnya sepanjang malam. Alhamdulillah, jadwal imunisasi 'Aisyah selalu hari jum'at. Jadi besoknya ayah libur bisa ikut jagain 'Aisyah. kebiasaan ini biasanya berlangsung sampai dua malam. Makanya, JUJUR SAJA, SAYA MARAH SEKALI SAMA ORANG YANG ENGGAK MAU TAHU DAN ENGGAK MAU NGERTI DENGAN KONDISI INI.
Sudahlah, tidak usah membicarakan orang itu, bikin enggak mood aja. Pfhhh ...
Saat ini, 'Aisyah sudah 4 bulan. Alhamdulillah ASI eksklusif, BB-nya 7kg, TB 60cm. Sudah bisa duduk, pegangin jempol kaki kalau direbahin, dan sukaaaa sekali ngoceh. Rumah jadi ramai rasanya. Ramai dengan suaranya yang sejak shubuh sudah bangun. Ramai dengan ketawa. Alhamdulillah, atas kebahagiaan ini, Yaa Allah ... :')
Semoga kami bisa selalu menyaksikan moment pertamamu, Nak ... Allahumma Aamiin. :-*
'Aisyah lahir dengan BB 2,9kg dan TB 45cm. Mungiiiil sekali. Semua orang bilang putri kami terlalu kecil :'(
Warna kulitnya merah sekali, terutama saat ia menangis, seluruh tubuhnya memerah seperti warna merah hati, sampai lagi ... lagi ... orang bilang ia hitam (_ _!). Ya, begitulah, kadang orang berkomentar sesukanya. Tapi, tak mengapa, 'Aisyah tetap anugeraah paling indah bagi kami.

Pertama kali menjadi ibu, selain rasa bahagia ternyata juga lumayan "kerepotan". Hihihi. Dibulan pertama kelahirannya, walaupun pesan dokter 'Aisyah harus disusui maksimal setiap dua jam sekali, kenyataannya hampir setiap malam kami tidak tidur, bahkan 24 jam tidak tidur saat bulan pertama kelahirannya. 'Aisyah kerap bangun setiap 15-30 menit sekali. Seringnya karena lapar atau haus, kadang minta digendong,nangis karena enggak nyaman basah pipis atau poop, kadang ya cuma sekedar bangun-bangun aja :-D
Seiring waktu, Alhamdulillah 'Aisyah anak yang teratur, ini memudahkan kami saat malam, hihihi. Setidaknya kami bisa tidur sekitar setengah jam sampai 2-3 kali dalam satu malam. 'Aisyah selalu terbangun hanya karena haus dan lapar di jam yang sama setiap hari. Lumayanlah, selain ganti popok dan menyusui, sudah bisa tidur sebentar. Subhanallah ... benar-benar anak yang pengertian. Pasalnya, ayahnya kalau sudah semalaman enggak tidur, bisa tertidur di kantor :-D
Alhamdulillah saat 'Aisyah usia 40 hari, kami dicukupkan rezeki oleh Allah untuk melaksanakan aqiqah 'Aisyah di rumah mbah-nya. Ini pertama kalinya 'Aisyah dibawa keluar rumah.
Subhanallah walhamdulillah, saat usianya tiga bulan, 'Aisyah sudah bisa tengkurap. Pertama kali melihat 'Aisyah bisa tengkurap rasanya sangat bersyukur dan bahagia. Kami berusaha selalu menyemangatinya saat ia terlihat sangat berusaha keras saat tengkurap dan memberikan apresiasi jika ia berhasil atau pun tidak, apresiasi atas usaha dan semangatnya. :')
sekarang, kepalanya sudah bisa semakin tegak, tinggi, dan lama saat tengkurap. 'Aisyah juga selalu berusaha mendorong kaki dan badannya untuk maju ke depan. Seringnya sampai ngences-ngences atau meneriakkan semangat "eeeeeehhhhhnggg". hihihi ... :-D
dahinya kecolongan digigitin nyamuk (_ _!)
Pernah juga 'Aisyah demam pasca imunisasi. Pertama kali 'Aisyah demam saya cukup bingung dan panik. Alhamdulillah, untuk ada misyik aisyah-ibu saya. Biasanya setelah imunisasi begitu sampai rumah langsung demam dan maunya hanya digendong sambil berdiri sepanjang malam. Setiap yang menggendongnya duduk, ia pasti menangis. Kami bergantian menggendongnya sepanjang malam. Alhamdulillah, jadwal imunisasi 'Aisyah selalu hari jum'at. Jadi besoknya ayah libur bisa ikut jagain 'Aisyah. kebiasaan ini biasanya berlangsung sampai dua malam. Makanya, JUJUR SAJA, SAYA MARAH SEKALI SAMA ORANG YANG ENGGAK MAU TAHU DAN ENGGAK MAU NGERTI DENGAN KONDISI INI.
Sudahlah, tidak usah membicarakan orang itu, bikin enggak mood aja. Pfhhh ...
Saat ini, 'Aisyah sudah 4 bulan. Alhamdulillah ASI eksklusif, BB-nya 7kg, TB 60cm. Sudah bisa duduk, pegangin jempol kaki kalau direbahin, dan sukaaaa sekali ngoceh. Rumah jadi ramai rasanya. Ramai dengan suaranya yang sejak shubuh sudah bangun. Ramai dengan ketawa. Alhamdulillah, atas kebahagiaan ini, Yaa Allah ... :')
Semoga kami bisa selalu menyaksikan moment pertamamu, Nak ... Allahumma Aamiin. :-*
Finnally, I have a baby girl - be a mommy, Alhamdulillah ....
Akhirnya, bisa nge-blog lagi... hihihi, sok sibuk :-D
Setelah dua hari berada di ruang bersalin, Alhamdulillah karena pertolongan Allah, pada 23 Oktober 2013 dengan penuh semangat dan perjuangan,sa melahirkan putri pertama kami dengan selamat serta sehat *terharu
Kalau diingat-ingat waktu proses lahiran, rasanya campur aduk. Lucu, terharu, bahagia, nano-nano. Sebenarnya, usia janin baru masuk minggu ke-38, tapi usia kehamilan uda masuk minggu ke-41. Bingung kan, ya? Iya, ternyata usia kehamilan dan usia janin berbeda sekitar tiga mingguan. Pasalnya, usia kehamilan kan dihitung berdasarkan hari pertama dan terakhir (hpht) haid, sedangkan usia janin adalah usia kehamilan dikurangi dua minggu (kira-kira begitulah kata dokter kandungannya dulu, hihi).
Mendekati hpl(hari prediksi lahiran), sa sama suami (cie..) rajin periksa ke dokter. Kalau biasanya sebulan sekali, menjelang hpl jadi seminggu sekali. Nah, selama hamil kan kami sudah hunting tempat lahiran yang sesuai dengan kriteria kami (halah), seperti yang pro ASI, peralatan lengkap (ini mah maunya sa buat jaga-jaga kalau ada hal yang enggak diinginkan), pelayanan baik, tenaga medis standby.
Bukan apa-apa, di Jepara susaaaaah banget dokter. Kalau di Banda Aceh, Medan, atau Batam banyak pilihan dokter kandungan dan beberapa Rumah Sakit/Rumah Bersalin yang mudah dijangkau, di Jepara dokter kandungan cuma ada tiga orang yang tempat prakteknya dimana-mana. Jadi satu tempat, ntah klinik atau RS swasta jatahnya cuma sekitar satu jam doang dengan pasien yang banyaaaak. Boro-boro consult, kita belum kelar, pasien lain uda disuruh masuk, bayarnya mahal pakai banget, kita di ruangannya enggak sampai lima menit. (_ _!)
Di RSU perawatnya judes minta ampun, enggak pakai senyum. Pernah tuh ya dikatain "kalau enggak mau sakit ya jangan hamil" duuuh, siapa juga yang mau sakit,Mbak? saya juga maunya sehat-sehat aja :'(
Di Bidan, rada gimana gitu ... tapi mungkin enggak semua bidan "enggak asik" kali,ya? Pertama datang komunikatif banget. Duh, uda okey, uda sreg. Eh, kedua datang kayaknya lagi enggak mood bidannya. Perut sa ditekan-tekan sampai sakiiiit banget keluar air mata. Terus uda jelas di USG sama dokter hamil tiga bulan katanya masih sebulan. Ganti bidan lain, disuruh makan ARI- ARI KUCING. Gileeee, katanya sih biar janinnya kuat. Huhuhu, kenapa enggak makan ari-ari harimau aja sekalian, kan lebih garang (_ _!).
Akhirnya, dapat info dari teman yang istrinya juga orang Aceh, uda kenal sejak di Banda Aceh dan sekarang tinggal di Jepara juga. Di rekomendasikan dokter kandungan waktu istrinya hamil dulu. Kesanalah kami. Eng ing eng, agak grogi juga, duuuh, yang hamil kok masih muda-muda banget, usia bumil rata-rata 15th-20th. Sa bumil paling tua di situ, hihihi, tapi Alhamdulillah, dokternya ramah dan komunikatif banget, enggak buru-buru, jadi kami boleh tanya ini itu sampai puas, waktu USG beliau juga jelasin ke kami apa aja yang bisa dilihat dari monitor itu. Bayarannya juga enggak mahal. Pokoknya setiap pulang periksa selalu senang, hihihi. Sampai lahiran sama beliau juga di kudus.
Kenapa sampai ke Kudus? Ya, karena dr. Najib- dokter kandungan sa itu praktek utamanya di RS. Aisyiyah Kudus. Sekitar tiga minggu sebelum lahiran kami ke RS Aisyiyah Kudus periksanya. Pelayanannya ramah dan memuaskan. Peralatan lengkap. Bidan, perawat, dokter semua standby 24 jam, rumah sakitnya juga bersih. Klop deh.
Terakhir, sabtu itu kami ke Kudus periksa kandungan. Pulangnya sempat ngambek sama suami (huhuhu, maafkan istrimu ya, suamiku... ), gara-garanya kan dokter nyaranin rawat inap, karena baby-nya sudah masuk pinggul. Memang belum ada pembukaan, belum sakit, belum ada tanda-tanda mau lahiran. Tapi, mengingat pinggul sa sempit dan usia kehamilan sudah masuk minggu ke-41, khawatir sama baby-nya. Idealnya lahiran di minggu 38-40.
Memang sih, sa setuju sama suami,selama air ketuban masih bagus dan cukup, tali pusar masih baik, baiknya enggak usah rawat inap dulu. Tapi, emang dasar bumil itu sensitif, ya... (alesan), suami salah ngomong "ada kok yang hamil sampai tiga tahun baik-baik aja" (siapa ya waktu itu lupa sa, imam syafi'i apa,ya?). Waaa, entah kenapa dengarnya langsung sebeeeeel, "itu kan beda. Emang mau sa hamil sampai tiga tahun enggak lahir-lahir? bla..bla..bla.. " panjang sambil nangis-nangis, sebel sampai rumah :-D
Eh, enggak berapa lama sampai rumah, waktu ke kamar mandi, keluar darah banyaaak banget. Haduh, mau lahiran ini. Hihihi, malah nangis lagi. Alesannya sih karena malu sama suami, masa uda habis ngomel-ngomel ngambek, tiba-tiba minta tolong, jadi nangis karena enggak enak sama suami :-D
Singkat cerita, kami siap-siap, ambil tas berisi perlengkapan kami dan baby yang emang sudah disiapin jauh-jauh hari buat dibawa ke RS. Hubungi dr.Najib. Balik Lagi ke Kudus.
Eits, tapi kok perut sa enggak mules. ya? Malah semangat banget rasanya mau lahiran, hihihi. Akhirnya kami mampir ke hypermart dulu, beli kue bekal nanti di RS sekalian makan siang. Sampai RS, ternyata masih pembukaan dua. Suami ngurus kamar dan administrasi RS,sa tunggu di IGD. Masih bugar banget, tapi langsung diinfus sama perawatnya :'(
Sekitar setengah jam kemudian dibawa ke ruang bersalin. Sa kira ruang bersalinnya satu ruangan satu orang, ternyata satu ruangan ada sekitar sepuluh orang dan full. Waaa, bakal seru nih lahiran bareng-bareng. :-D
Pembatas masing-masing tempat tidur kan cuma gorden gitu. Sampai sore sa belum sakit, masih pembukaan dua. Padahal kiri kanan uda dari tadi nangis dan teriak-teriak. Duh, dari tenang jadi mulai horor juga. Sebelah kiri akhirnya lahiran dengan penuh kehebohan. Disusul sebelah kanan sa beda banget suasana lahirannya, ibu itu ngeden sambil sesekali bisa ngobrol sama dokternya, asik banget kayaknya. Malam, ganti pasien baru kiri-kanan, sa masih pembukaan dua. Besoknya, pagi, siang, sore, masiiiiih pembukaan dua enggak nambah. Enggak ngerasa sakit. Padahal sudah habis dua botol infus.
Menjelang maghrib, sa dipindah ke tempat tidur yang pas depan meja bidan jaga, biar mudah dikontrol gitu. Sa maunya jalan-jalan dulu, tapi karena uda pakai baju bersalin dan repot gotong-gotong tiang infus akhirnya tiduran lagi. dokternya sudah bolak-balik telepon bidannya tanyain sa. Tapi, ya masih pembukaan dua.
Akhirnya, tiba juga disesi cerita yang agak horor. Pembukaan enggak nambah-nambah, jadi "dipaksa" nambah sama bidannya pakai GUNTING. Huwaaaa, sakit sih, tapi masih bisa ditahan. Pfhh, dibantu sampai pembukaan empat. Dikasih lagi obat perangsang kontraksi, lama masih enggak berasa sakit. Gunting lagi sampai pembukaan enam, delapan, sepuluh bukan secara alami, tapi digunting. Hihihi.Alhamdulillah, selain sakit digunting itu, sa enggak ngerasa sakit banget waktu kontraksi mau lahiran. Bidannya bolak-balik lihatin kondisi sa di tempat tidur sekitar lima sampai sepuluh menit sekali. Sampai bilang "Bu, kok tenang sekali? Kalau mau nangis gapapa, Bu ..." Lha, gimana mau nangis, wong sakitnya cuma lebih sakit sedikit dari diare, gitu ... (hihihi, ini hikmah sering diare kali,ya?).
Setelah pembukaan sepuluh itu, baru berasa kayak muleeees banget. Sampai keluar keringat dingin. Alhamndulillah, suami ada di samping sa. Beliau menenangkan dan memberikan afirmasi positif, "melahirkan itu adalah proses alami, Insya Allah sa bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, lancar" berulang-ulang beliau sugesti sa hingga sa merasa rileks. Ketika sa merasa rileks, Subhanallah, sakitnya jadi jauuuh berkurang.
Dokter dan tiga orang bidan yang membantu sa lahiran. Rame pokoknya. Pasalnya, meski uda pembukaan sepuluh, bayinya belum turun juga. Sa uda makin mules ... uda miring biar bayinya cepat turun, enggak juga. Finally, perut sa ditekan dari atas ke bawah kuat banget sambil ngeden dua kali langsung bayinya keluar. Alhamdulillah, rasanya plooooooong banget.
Begitu lahir, langsung IMD (Inisiasi Menyusu Dini), Subhanallah walhamdulillah ... rasanya bahagiaaa sekali, I have a baby girl, be a mommy. Saking bahagianya, sa enggak ngerasa lagi dijahit. Padahal, sa dijahit sampai dua jam lebih, dari Pkl. 19.00wib sampai Pkl.21.30wib karena banyaknya robekan.
Buat teman-teman yang mau lahiran, sa mau berbagi tips berdasarkan pengalaman melahirkan pertama ini, jadi pelajaran juga buat sa melahirkan anak kedua dan seterusnya nanti :-D
-Tilawah. Sambil menunggu pembukaan bertambah, daripada galau jauh lebih baik waktunya dipakai buat tilawah, hati jadi tenang, pikiran jadi positif, dan perbanyak doa.
- Relaks. Ini penting banget waktu melahirkan. Meski mungkin terasa sakiiiit banget, tapi kalau kita ngerasa rileks, sakit yang dirasa akan jauuuuh berkurang.
- Sugesti Positif. Ini juga penting. Yakinkan diri berulang-ulang, kalau melahirkan adalah proses alami. Hal ini membantu tubuh dan pikiran kita menjadi tenang, sehingga kita Insya Allah bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, dan lancar. Sugesti positif ini sa mulai sejak usia kehamilan masuk tujuh bulan, diulang-ulang setiap hari sesering mungkin, hingga masuk ke alam bawah sadar kita.
- 4T (Tasbih,Tahmid, Tahlil, Takbir). Daripada teriak-teriak enggak jelas, malah bikin heboh, panik, kacau,plus menguras energi yang harusnya dihemat buat ngeden nanti, lebih baik kita istighfar dan 4T. Selain membuat kita lebih bisa mengontrol diri dan rasa sakit, yang dengar juga lebih enak :-D
- Ikuti instruksi dokter atau bidan. Seberapa inginnya kita ngeden, jangan lakukan sebelum diinstruksikan dokter atau bidan. Seberapa pun susahnya menahan spontanitas mengangkat (maaf) pantat untuk mengurangi rasa sakit. Jangan lakukan, karena akan memperlebar robekan yang artinya membuat jahitan menjadi banyak. Dan ikuti instruksi lainnya, seperti jangan boros napas seolah habis lari ratusan kilo, dan lain-lain.
Semangat melahirkan dengan nyaman dan indah. A Special Moment.
Setelah dua hari berada di ruang bersalin, Alhamdulillah karena pertolongan Allah, pada 23 Oktober 2013 dengan penuh semangat dan perjuangan,sa melahirkan putri pertama kami dengan selamat serta sehat *terharu
Kalau diingat-ingat waktu proses lahiran, rasanya campur aduk. Lucu, terharu, bahagia, nano-nano. Sebenarnya, usia janin baru masuk minggu ke-38, tapi usia kehamilan uda masuk minggu ke-41. Bingung kan, ya? Iya, ternyata usia kehamilan dan usia janin berbeda sekitar tiga mingguan. Pasalnya, usia kehamilan kan dihitung berdasarkan hari pertama dan terakhir (hpht) haid, sedangkan usia janin adalah usia kehamilan dikurangi dua minggu (kira-kira begitulah kata dokter kandungannya dulu, hihi).
Mendekati hpl(hari prediksi lahiran), sa sama suami (cie..) rajin periksa ke dokter. Kalau biasanya sebulan sekali, menjelang hpl jadi seminggu sekali. Nah, selama hamil kan kami sudah hunting tempat lahiran yang sesuai dengan kriteria kami (halah), seperti yang pro ASI, peralatan lengkap (ini mah maunya sa buat jaga-jaga kalau ada hal yang enggak diinginkan), pelayanan baik, tenaga medis standby.
Bukan apa-apa, di Jepara susaaaaah banget dokter. Kalau di Banda Aceh, Medan, atau Batam banyak pilihan dokter kandungan dan beberapa Rumah Sakit/Rumah Bersalin yang mudah dijangkau, di Jepara dokter kandungan cuma ada tiga orang yang tempat prakteknya dimana-mana. Jadi satu tempat, ntah klinik atau RS swasta jatahnya cuma sekitar satu jam doang dengan pasien yang banyaaaak. Boro-boro consult, kita belum kelar, pasien lain uda disuruh masuk, bayarnya mahal pakai banget, kita di ruangannya enggak sampai lima menit. (_ _!)
Di RSU perawatnya judes minta ampun, enggak pakai senyum. Pernah tuh ya dikatain "kalau enggak mau sakit ya jangan hamil" duuuh, siapa juga yang mau sakit,Mbak? saya juga maunya sehat-sehat aja :'(
Di Bidan, rada gimana gitu ... tapi mungkin enggak semua bidan "enggak asik" kali,ya? Pertama datang komunikatif banget. Duh, uda okey, uda sreg. Eh, kedua datang kayaknya lagi enggak mood bidannya. Perut sa ditekan-tekan sampai sakiiiit banget keluar air mata. Terus uda jelas di USG sama dokter hamil tiga bulan katanya masih sebulan. Ganti bidan lain, disuruh makan ARI- ARI KUCING. Gileeee, katanya sih biar janinnya kuat. Huhuhu, kenapa enggak makan ari-ari harimau aja sekalian, kan lebih garang (_ _!).
Akhirnya, dapat info dari teman yang istrinya juga orang Aceh, uda kenal sejak di Banda Aceh dan sekarang tinggal di Jepara juga. Di rekomendasikan dokter kandungan waktu istrinya hamil dulu. Kesanalah kami. Eng ing eng, agak grogi juga, duuuh, yang hamil kok masih muda-muda banget, usia bumil rata-rata 15th-20th. Sa bumil paling tua di situ, hihihi, tapi Alhamdulillah, dokternya ramah dan komunikatif banget, enggak buru-buru, jadi kami boleh tanya ini itu sampai puas, waktu USG beliau juga jelasin ke kami apa aja yang bisa dilihat dari monitor itu. Bayarannya juga enggak mahal. Pokoknya setiap pulang periksa selalu senang, hihihi. Sampai lahiran sama beliau juga di kudus.
Kenapa sampai ke Kudus? Ya, karena dr. Najib- dokter kandungan sa itu praktek utamanya di RS. Aisyiyah Kudus. Sekitar tiga minggu sebelum lahiran kami ke RS Aisyiyah Kudus periksanya. Pelayanannya ramah dan memuaskan. Peralatan lengkap. Bidan, perawat, dokter semua standby 24 jam, rumah sakitnya juga bersih. Klop deh.
Terakhir, sabtu itu kami ke Kudus periksa kandungan. Pulangnya sempat ngambek sama suami (huhuhu, maafkan istrimu ya, suamiku... ), gara-garanya kan dokter nyaranin rawat inap, karena baby-nya sudah masuk pinggul. Memang belum ada pembukaan, belum sakit, belum ada tanda-tanda mau lahiran. Tapi, mengingat pinggul sa sempit dan usia kehamilan sudah masuk minggu ke-41, khawatir sama baby-nya. Idealnya lahiran di minggu 38-40.
Memang sih, sa setuju sama suami,selama air ketuban masih bagus dan cukup, tali pusar masih baik, baiknya enggak usah rawat inap dulu. Tapi, emang dasar bumil itu sensitif, ya... (alesan), suami salah ngomong "ada kok yang hamil sampai tiga tahun baik-baik aja" (siapa ya waktu itu lupa sa, imam syafi'i apa,ya?). Waaa, entah kenapa dengarnya langsung sebeeeeel, "itu kan beda. Emang mau sa hamil sampai tiga tahun enggak lahir-lahir? bla..bla..bla.. " panjang sambil nangis-nangis, sebel sampai rumah :-D
Eh, enggak berapa lama sampai rumah, waktu ke kamar mandi, keluar darah banyaaak banget. Haduh, mau lahiran ini. Hihihi, malah nangis lagi. Alesannya sih karena malu sama suami, masa uda habis ngomel-ngomel ngambek, tiba-tiba minta tolong, jadi nangis karena enggak enak sama suami :-D
Singkat cerita, kami siap-siap, ambil tas berisi perlengkapan kami dan baby yang emang sudah disiapin jauh-jauh hari buat dibawa ke RS. Hubungi dr.Najib. Balik Lagi ke Kudus.
Eits, tapi kok perut sa enggak mules. ya? Malah semangat banget rasanya mau lahiran, hihihi. Akhirnya kami mampir ke hypermart dulu, beli kue bekal nanti di RS sekalian makan siang. Sampai RS, ternyata masih pembukaan dua. Suami ngurus kamar dan administrasi RS,sa tunggu di IGD. Masih bugar banget, tapi langsung diinfus sama perawatnya :'(
Sekitar setengah jam kemudian dibawa ke ruang bersalin. Sa kira ruang bersalinnya satu ruangan satu orang, ternyata satu ruangan ada sekitar sepuluh orang dan full. Waaa, bakal seru nih lahiran bareng-bareng. :-D
Pembatas masing-masing tempat tidur kan cuma gorden gitu. Sampai sore sa belum sakit, masih pembukaan dua. Padahal kiri kanan uda dari tadi nangis dan teriak-teriak. Duh, dari tenang jadi mulai horor juga. Sebelah kiri akhirnya lahiran dengan penuh kehebohan. Disusul sebelah kanan sa beda banget suasana lahirannya, ibu itu ngeden sambil sesekali bisa ngobrol sama dokternya, asik banget kayaknya. Malam, ganti pasien baru kiri-kanan, sa masih pembukaan dua. Besoknya, pagi, siang, sore, masiiiiih pembukaan dua enggak nambah. Enggak ngerasa sakit. Padahal sudah habis dua botol infus.
Menjelang maghrib, sa dipindah ke tempat tidur yang pas depan meja bidan jaga, biar mudah dikontrol gitu. Sa maunya jalan-jalan dulu, tapi karena uda pakai baju bersalin dan repot gotong-gotong tiang infus akhirnya tiduran lagi. dokternya sudah bolak-balik telepon bidannya tanyain sa. Tapi, ya masih pembukaan dua.
Akhirnya, tiba juga disesi cerita yang agak horor. Pembukaan enggak nambah-nambah, jadi "dipaksa" nambah sama bidannya pakai GUNTING. Huwaaaa, sakit sih, tapi masih bisa ditahan. Pfhh, dibantu sampai pembukaan empat. Dikasih lagi obat perangsang kontraksi, lama masih enggak berasa sakit. Gunting lagi sampai pembukaan enam, delapan, sepuluh bukan secara alami, tapi digunting. Hihihi.Alhamdulillah, selain sakit digunting itu, sa enggak ngerasa sakit banget waktu kontraksi mau lahiran. Bidannya bolak-balik lihatin kondisi sa di tempat tidur sekitar lima sampai sepuluh menit sekali. Sampai bilang "Bu, kok tenang sekali? Kalau mau nangis gapapa, Bu ..." Lha, gimana mau nangis, wong sakitnya cuma lebih sakit sedikit dari diare, gitu ... (hihihi, ini hikmah sering diare kali,ya?).
Setelah pembukaan sepuluh itu, baru berasa kayak muleeees banget. Sampai keluar keringat dingin. Alhamndulillah, suami ada di samping sa. Beliau menenangkan dan memberikan afirmasi positif, "melahirkan itu adalah proses alami, Insya Allah sa bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, lancar" berulang-ulang beliau sugesti sa hingga sa merasa rileks. Ketika sa merasa rileks, Subhanallah, sakitnya jadi jauuuh berkurang.
Dokter dan tiga orang bidan yang membantu sa lahiran. Rame pokoknya. Pasalnya, meski uda pembukaan sepuluh, bayinya belum turun juga. Sa uda makin mules ... uda miring biar bayinya cepat turun, enggak juga. Finally, perut sa ditekan dari atas ke bawah kuat banget sambil ngeden dua kali langsung bayinya keluar. Alhamdulillah, rasanya plooooooong banget.
Begitu lahir, langsung IMD (Inisiasi Menyusu Dini), Subhanallah walhamdulillah ... rasanya bahagiaaa sekali, I have a baby girl, be a mommy. Saking bahagianya, sa enggak ngerasa lagi dijahit. Padahal, sa dijahit sampai dua jam lebih, dari Pkl. 19.00wib sampai Pkl.21.30wib karena banyaknya robekan.
Buat teman-teman yang mau lahiran, sa mau berbagi tips berdasarkan pengalaman melahirkan pertama ini, jadi pelajaran juga buat sa melahirkan anak kedua dan seterusnya nanti :-D
-Tilawah. Sambil menunggu pembukaan bertambah, daripada galau jauh lebih baik waktunya dipakai buat tilawah, hati jadi tenang, pikiran jadi positif, dan perbanyak doa.
- Relaks. Ini penting banget waktu melahirkan. Meski mungkin terasa sakiiiit banget, tapi kalau kita ngerasa rileks, sakit yang dirasa akan jauuuuh berkurang.
- Sugesti Positif. Ini juga penting. Yakinkan diri berulang-ulang, kalau melahirkan adalah proses alami. Hal ini membantu tubuh dan pikiran kita menjadi tenang, sehingga kita Insya Allah bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, dan lancar. Sugesti positif ini sa mulai sejak usia kehamilan masuk tujuh bulan, diulang-ulang setiap hari sesering mungkin, hingga masuk ke alam bawah sadar kita.
- 4T (Tasbih,Tahmid, Tahlil, Takbir). Daripada teriak-teriak enggak jelas, malah bikin heboh, panik, kacau,plus menguras energi yang harusnya dihemat buat ngeden nanti, lebih baik kita istighfar dan 4T. Selain membuat kita lebih bisa mengontrol diri dan rasa sakit, yang dengar juga lebih enak :-D
- Ikuti instruksi dokter atau bidan. Seberapa inginnya kita ngeden, jangan lakukan sebelum diinstruksikan dokter atau bidan. Seberapa pun susahnya menahan spontanitas mengangkat (maaf) pantat untuk mengurangi rasa sakit. Jangan lakukan, karena akan memperlebar robekan yang artinya membuat jahitan menjadi banyak. Dan ikuti instruksi lainnya, seperti jangan boros napas seolah habis lari ratusan kilo, dan lain-lain.
Semangat melahirkan dengan nyaman dan indah. A Special Moment.
Label:
Diantara Kita,
Keluarga,
Kesehatan,
Pernikahan
Jumat, 04 Oktober 2013
Genggaman Terakhir
Ketika melahirkan nanti, keinginan terkuat saya hanya ingin didampingi oleh suami saya ....
teruntuk suamiku,
Jika nanti di saat melahirkan adalah terakhir kalinya kita dapat bergenggaman tangan, mohon dimaafkan setiap kesalahan sa, maafkan jika selama perjalanan waktu mendampingimu ternyata sa belum bisa menjadi istri yang sempurna, maafkan ....
teruntuk suamiku,
Jika saat melahirkan nanti merupakan genggaman terakhir kita, harapan sa jadilah selalu ayah yang memberikan teladan yang baik untuk anak kita, contoh keshalihan, pembimbing yang bersahabat bagi anak kita, didiklah ia seperti yang sering kita musyawarahkan bersama, semoga ia menjadi amal jariyyah bagi kita, Aamiin ....
teruntuk suamiku,
Jika saat dirimu menguatkan kala persalinan adalah genggaman terakhir kita, tolong jangan berhenti mendoakan sa, semoga Allah mengampuni dosa-dosa sa yang tak terhitung banyaknya ini. Semoga Allah mengasihi sa, jangan lupakan sa, jangan berkurang menyayangi sa meski jasad tak pernah bertemu lagi.
teruntuk suamiku,
Jika hari itu menjadi genggaman terakhir kita, sa ridha jika kelak dirimu hendak mencari ibu pengganti untuk anak kita. Hanya saja amanah sa, carilah ibu pengganti yang shalihah, yang dapat menyayangi anak kita dengan tulus layaknya ibu kandung, dan yang terpenting bermufakatlah bersamanya sebelum memutuskan semuanya.
I Love You because of Allah,
Istrimu, Sarah.
teruntuk suamiku,
Jika nanti di saat melahirkan adalah terakhir kalinya kita dapat bergenggaman tangan, mohon dimaafkan setiap kesalahan sa, maafkan jika selama perjalanan waktu mendampingimu ternyata sa belum bisa menjadi istri yang sempurna, maafkan ....
teruntuk suamiku,
Jika saat melahirkan nanti merupakan genggaman terakhir kita, harapan sa jadilah selalu ayah yang memberikan teladan yang baik untuk anak kita, contoh keshalihan, pembimbing yang bersahabat bagi anak kita, didiklah ia seperti yang sering kita musyawarahkan bersama, semoga ia menjadi amal jariyyah bagi kita, Aamiin ....
teruntuk suamiku,
Jika saat dirimu menguatkan kala persalinan adalah genggaman terakhir kita, tolong jangan berhenti mendoakan sa, semoga Allah mengampuni dosa-dosa sa yang tak terhitung banyaknya ini. Semoga Allah mengasihi sa, jangan lupakan sa, jangan berkurang menyayangi sa meski jasad tak pernah bertemu lagi.
teruntuk suamiku,
Jika hari itu menjadi genggaman terakhir kita, sa ridha jika kelak dirimu hendak mencari ibu pengganti untuk anak kita. Hanya saja amanah sa, carilah ibu pengganti yang shalihah, yang dapat menyayangi anak kita dengan tulus layaknya ibu kandung, dan yang terpenting bermufakatlah bersamanya sebelum memutuskan semuanya.
I Love You because of Allah,
Istrimu, Sarah.
Label:
Aku Kamu Kita,
Keluarga,
Pernikahan
H- 2w
Tak terasa 36 minggu sudah dilalui. Ya, menurut prediksi dokter, insya Allah lebih kurang tiga minggu lagi saya akan melahirkan anak pertama kami. Moment USG kali ini benar-benar membuat saya ingin menangis. Bagaimana tidak, selama tujuh bulan kehamilan, baru di bulan kedelapan ini BB (Berat Badan) calon bayi kami berada di garis normal, 2,3kg. Setelah sebelumnya, selalu bobotnya berada lumayan jauh dari garis normal, kurang 400gr-600gr. Sedih sekali. Di bulan kedelapan ini pula, Alhamdulillah, posisi kepala bayi saya juga sudah berada di bawah, setelah sebelumnya selalu berada di atas, membuat saya khawatir tidak dapat melahirkan secara normal.
Tak terasa 36 minggu sudah saya menjalani kehamilan ini. Rasanya? Amazing. Haru, bahagia, semua campur aduk jadi satu. Kehamilan yang membuat saya semakin mencintai orang tua, suami, dan sahabat-sahabat saya. Bagaimana tidak, mereka selalu menguatkan saya "tak semua ibu hamil bisa jadi super women".
Seringkali saya stres ingin bekerja, ingin punya penghasilan agar tak memberatkan suami saya, agar dapat membantu keluarga saya. Selalu berusaha untuk kuat, hasilnya ... selalu berujung KO. Semakin saya memaksakan diri, semakin membuat kondisi saya lebih parah, ujung-ujungnya saya tambah stres. Merasa depresi sendiri dengan kondisi saya.
Sejak awal kehamilan, bisa dibilang saya selalu bedrest, terutama empat bulan pertama, dimana berat badan saya seharusnya bertambah, saya malah kehilangan bobot hingga sepuluh kilogram karena hiperemesis. Seharian hanya bisa menghabiskan segelas teh hangat. Tak lebih. Muntah dari pagi sampai malam, banyak bergerak sedikit langsung keluar flek, tak bisa duduk akhirnya hanya bisa berbaring. Bulan-bulan pertama kehamilan, saya tak lepas dari obat penguat kehamilan, obat anti kontraksi, dan obat-obat lain yang membuat saya semakin semaput rasanya.
Pernah di semester pertama kehamilan, saya mengikuti suami ke Jakarta untuk suatu keperluan, alhasil, saya pendarahan. Saat itu saya benar-benar takut. Takut kehilangan buah hati kami. Suami tak kalah cemas. Meski berusaha ditutupi, saya dapat melihat dengan jelas kecemasan di wajahnya, merasakan hal yang sama. Alhamdulillah, setelah mendengar detak jantung calon buah hati kami saat di RS, rasanya bahagia dan lega sekali. Subhanallah... itulah pertama kalinya saya dan suami mendengar detak jantungnya. Haru ....
Hingga minggu ke-36 kehamilan ini, tak cukup hanya rasa terima kasih yang dapat saya berikan untuk suami saya. Mengingat selama menjalani kehamilan pertama ini, bisa jadi beliau-lah yang paling lelah. Lelah mengurusi saya. T_T
Mengurus semua keperluan saya, mengambil alih semua tugas-tugas saya, mencuci, menyetrika, memasak, mencuci piring, menyapu, merawat saya, menyuapi saya, sampai membersihkan muntah saya yang kadang tak terkontrol hingga mengotori tempat tidur *nangis
Setiap pagi sebelum ke kantor, beliau selalu menyuapkan teh hangat sesendok demi sesendok untuk saya, menyiapkan biskuit dan teh hangat cadangan selama ia di kantor, meletakkan di sisi tempat tidur yang bisa tangan saya jangkau tanpa harus duduk. Setiap istirahat siang, ia menempuh jarak tak kurang dari setengah jam perjalanan dari kantor ke rumah hanya untuk menyuapi saya makan, membantu saya berwudhu, menyiapkan nasi dengan sayur bening, menyuapkan saya meski seringkali semua kembali termuntah setelah selesai makan. Pulang kantor pun, beliau masih mengurusi saya, membersihkan badan saya, menyalin pakaian, memijit kaki dan kepala saya agar saya merasa lebih enakan. Beliau juga men-downlod berbagai film animasi yang lucu-lucu agar saya tak bosan. Hampir sembilan bulan sudah beliau melakukan semua itu untuk saya.Fabbiayyi alaa irrabbikuma tukadziban, ucapan terima kasih sungguh tak cukup rasanya untuk beliau, suami saya .... T_T
Sejak memasuki semester kedua, jantung saya mulai sering sakit. Di bulan ke-tujuh kehamilan saya lalu, saat bobot bayi kami masih 1040gram, posisinya sudah turun ke pinggul, saya diharuskan bedrest, tidak boleh banyak bergerak, khawatir jika lahir prematur bobotnya masih terlalu kecil. Namun, suami saya selalu menyemangati, meyakinkan saya, kalau saya pasti kuat, saya pasti bisa melalui masa-masa kehamilan ini. Dan ia benar, setiap kali merasakan gerakan calon bayi kami, semakin aktif, membuat saya semakin kuat karena perasaan bahagia. Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban .... :')
Insya Allah, satu atau dua minggu lagi buah hati kami dijadwalkan lahir, semakin hari ada rasa semakin khawatir, apakah saya mampu melahirkan normal? Suami saya kembali tak pernah bosan dan lelah meyakinkan kalau saya pasti bisa, senantiasa memberikan afirmasi positif, berbicara pada calon bayi kami, meng-sugesti saya bahwa melahirkan adalah proses alami, saya pasti bisa melahirkan dengan nyaman, sehat. Insya Allah, Allahumma Aamiin .... :-)
Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban ... Sujud syukur saya telah Allah anugerahkan seorang suami yang luar biasa kesabaran dan lembut hatinya, memberi saya kesempatan untuk merasakan menjadi calon dan seorang ibu, Insya Allah ... semoga saya dapat menjaga amanah dan anugerah indah ini dalam koridor keridhaan-Nya, Allahumma Aamiin.
Tak terasa 36 minggu sudah saya menjalani kehamilan ini. Rasanya? Amazing. Haru, bahagia, semua campur aduk jadi satu. Kehamilan yang membuat saya semakin mencintai orang tua, suami, dan sahabat-sahabat saya. Bagaimana tidak, mereka selalu menguatkan saya "tak semua ibu hamil bisa jadi super women".
Seringkali saya stres ingin bekerja, ingin punya penghasilan agar tak memberatkan suami saya, agar dapat membantu keluarga saya. Selalu berusaha untuk kuat, hasilnya ... selalu berujung KO. Semakin saya memaksakan diri, semakin membuat kondisi saya lebih parah, ujung-ujungnya saya tambah stres. Merasa depresi sendiri dengan kondisi saya.
Sejak awal kehamilan, bisa dibilang saya selalu bedrest, terutama empat bulan pertama, dimana berat badan saya seharusnya bertambah, saya malah kehilangan bobot hingga sepuluh kilogram karena hiperemesis. Seharian hanya bisa menghabiskan segelas teh hangat. Tak lebih. Muntah dari pagi sampai malam, banyak bergerak sedikit langsung keluar flek, tak bisa duduk akhirnya hanya bisa berbaring. Bulan-bulan pertama kehamilan, saya tak lepas dari obat penguat kehamilan, obat anti kontraksi, dan obat-obat lain yang membuat saya semakin semaput rasanya.
Pernah di semester pertama kehamilan, saya mengikuti suami ke Jakarta untuk suatu keperluan, alhasil, saya pendarahan. Saat itu saya benar-benar takut. Takut kehilangan buah hati kami. Suami tak kalah cemas. Meski berusaha ditutupi, saya dapat melihat dengan jelas kecemasan di wajahnya, merasakan hal yang sama. Alhamdulillah, setelah mendengar detak jantung calon buah hati kami saat di RS, rasanya bahagia dan lega sekali. Subhanallah... itulah pertama kalinya saya dan suami mendengar detak jantungnya. Haru ....
Hingga minggu ke-36 kehamilan ini, tak cukup hanya rasa terima kasih yang dapat saya berikan untuk suami saya. Mengingat selama menjalani kehamilan pertama ini, bisa jadi beliau-lah yang paling lelah. Lelah mengurusi saya. T_T
Mengurus semua keperluan saya, mengambil alih semua tugas-tugas saya, mencuci, menyetrika, memasak, mencuci piring, menyapu, merawat saya, menyuapi saya, sampai membersihkan muntah saya yang kadang tak terkontrol hingga mengotori tempat tidur *nangis
Setiap pagi sebelum ke kantor, beliau selalu menyuapkan teh hangat sesendok demi sesendok untuk saya, menyiapkan biskuit dan teh hangat cadangan selama ia di kantor, meletakkan di sisi tempat tidur yang bisa tangan saya jangkau tanpa harus duduk. Setiap istirahat siang, ia menempuh jarak tak kurang dari setengah jam perjalanan dari kantor ke rumah hanya untuk menyuapi saya makan, membantu saya berwudhu, menyiapkan nasi dengan sayur bening, menyuapkan saya meski seringkali semua kembali termuntah setelah selesai makan. Pulang kantor pun, beliau masih mengurusi saya, membersihkan badan saya, menyalin pakaian, memijit kaki dan kepala saya agar saya merasa lebih enakan. Beliau juga men-downlod berbagai film animasi yang lucu-lucu agar saya tak bosan. Hampir sembilan bulan sudah beliau melakukan semua itu untuk saya.Fabbiayyi alaa irrabbikuma tukadziban, ucapan terima kasih sungguh tak cukup rasanya untuk beliau, suami saya .... T_T
Sejak memasuki semester kedua, jantung saya mulai sering sakit. Di bulan ke-tujuh kehamilan saya lalu, saat bobot bayi kami masih 1040gram, posisinya sudah turun ke pinggul, saya diharuskan bedrest, tidak boleh banyak bergerak, khawatir jika lahir prematur bobotnya masih terlalu kecil. Namun, suami saya selalu menyemangati, meyakinkan saya, kalau saya pasti kuat, saya pasti bisa melalui masa-masa kehamilan ini. Dan ia benar, setiap kali merasakan gerakan calon bayi kami, semakin aktif, membuat saya semakin kuat karena perasaan bahagia. Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban .... :')
Insya Allah, satu atau dua minggu lagi buah hati kami dijadwalkan lahir, semakin hari ada rasa semakin khawatir, apakah saya mampu melahirkan normal? Suami saya kembali tak pernah bosan dan lelah meyakinkan kalau saya pasti bisa, senantiasa memberikan afirmasi positif, berbicara pada calon bayi kami, meng-sugesti saya bahwa melahirkan adalah proses alami, saya pasti bisa melahirkan dengan nyaman, sehat. Insya Allah, Allahumma Aamiin .... :-)
Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban ... Sujud syukur saya telah Allah anugerahkan seorang suami yang luar biasa kesabaran dan lembut hatinya, memberi saya kesempatan untuk merasakan menjadi calon dan seorang ibu, Insya Allah ... semoga saya dapat menjaga amanah dan anugerah indah ini dalam koridor keridhaan-Nya, Allahumma Aamiin.
Kamis, 09 Mei 2013
Catatan Pernikahan II : Kumis Sepotong
Alkisah, kami- saya dan suami (cie) belum memiliki cermin meski sepotong kecil. Bagi saya, tiada masalah, toh sejak sebelum nikah saya memang jarang bercermin. Namun, hal itu ternyata menjadi masalah serius bagi suami saya yang hobi bercermin :D
Pasalnya, untuk mencabut kumisnya, cermin adalah salah satu benda yang sangat dibutuhkan.
Singkat cerita, di suatu sore, suami saya sudah sangat tidak nyaman dengan keadaan kumisnya yang semakin subur dan lebat, mungkin khawatir berubah menjadi hutan rimba hingga dapat mengurangi kecakapan dalam berkomunikasi jika kumis tumbuh sampai menutupi bibir seperti tirai (:D *sang istri ngebayangi jika kumis sepanjang tirai jendela) , padahal beliau salah satu frontliner di kantornya.
Akhirnya, beliau pun meminta saya untuk mencabut kumisnya pakai genset eh pingset.
"Hah? Pakai pingset? Kenapa ga dicukur aja?"
"Ga enak, nanti cepat panjang lagi, biasa dicabut"
Setelah negosiasi harga (lho?) Akhirnya saya dengan ikhlas serta berlapang dada mencabutkan timbunan kumis suami saya.
....
1
5
10
... dst
Selesai sudah sebelah bagian kumisnya saya cabut.
Ketika akan mulai mencabuti bagian yang sebelah lagi, tiba-tiba saya merasa sangat mual, lemas, pandangan berkunang-kunang, dan menghentikan pekerjaan mulia tersebut dengan terpaksa. Buru-buru baringan sebelum pingsan lagi.
Sampai keesokan pagi saya masih kurang sehat hingga belum dapat melanjutkan penyelesaian tugas mulia tersebut. Kebetulan itu hari sabtu, Suami tak kerja jadi masalah sepotong kumis yang belum dicabut itu bukan menjadi masalah serius. Namun, ternyata kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Menjelang siang, ibu mertua saya, meminta suami saya untuk pergi ke beberapa tempat. Suami pun segera pergi dengan motor. Point nya, beliau lupa dengan sepotong kumisnya yang masih utuh belum dicabut. Saya pun tak teringat dengan nasib kumisnya tersebut. Tidur.
Kira-kira setengah jam kemudian suami saya pulang, masuk kamar, membangunkan saya sambil memegang pingset. Dengan wajah penuh pengharapan, suami saya meminta saya menyelesaikan kumis yang sisa sepotong lagi itu. Saya belum sadar penuh, hingga saat saya benar-benar membuka mata dengan jelas, saya baru menyadari innocent sekali wajah suami saya dengan sepotong kumisnya, sebelah lebat sebelah bersih. Ternyata, orang-orang pada senyum-senyum melihatnya. Suamiku, maafkanlah .... *sungkem
Tulisan ini sudah atas persetujuan suami *istri baik :P
Pasalnya, untuk mencabut kumisnya, cermin adalah salah satu benda yang sangat dibutuhkan.
Singkat cerita, di suatu sore, suami saya sudah sangat tidak nyaman dengan keadaan kumisnya yang semakin subur dan lebat, mungkin khawatir berubah menjadi hutan rimba hingga dapat mengurangi kecakapan dalam berkomunikasi jika kumis tumbuh sampai menutupi bibir seperti tirai (:D *sang istri ngebayangi jika kumis sepanjang tirai jendela) , padahal beliau salah satu frontliner di kantornya.
Akhirnya, beliau pun meminta saya untuk mencabut kumisnya pakai genset eh pingset.
"Hah? Pakai pingset? Kenapa ga dicukur aja?"
"Ga enak, nanti cepat panjang lagi, biasa dicabut"
Setelah negosiasi harga (lho?) Akhirnya saya dengan ikhlas serta berlapang dada mencabutkan timbunan kumis suami saya.
....
1
5
10
... dst
Selesai sudah sebelah bagian kumisnya saya cabut.
Ketika akan mulai mencabuti bagian yang sebelah lagi, tiba-tiba saya merasa sangat mual, lemas, pandangan berkunang-kunang, dan menghentikan pekerjaan mulia tersebut dengan terpaksa. Buru-buru baringan sebelum pingsan lagi.
Sampai keesokan pagi saya masih kurang sehat hingga belum dapat melanjutkan penyelesaian tugas mulia tersebut. Kebetulan itu hari sabtu, Suami tak kerja jadi masalah sepotong kumis yang belum dicabut itu bukan menjadi masalah serius. Namun, ternyata kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Menjelang siang, ibu mertua saya, meminta suami saya untuk pergi ke beberapa tempat. Suami pun segera pergi dengan motor. Point nya, beliau lupa dengan sepotong kumisnya yang masih utuh belum dicabut. Saya pun tak teringat dengan nasib kumisnya tersebut. Tidur.
Kira-kira setengah jam kemudian suami saya pulang, masuk kamar, membangunkan saya sambil memegang pingset. Dengan wajah penuh pengharapan, suami saya meminta saya menyelesaikan kumis yang sisa sepotong lagi itu. Saya belum sadar penuh, hingga saat saya benar-benar membuka mata dengan jelas, saya baru menyadari innocent sekali wajah suami saya dengan sepotong kumisnya, sebelah lebat sebelah bersih. Ternyata, orang-orang pada senyum-senyum melihatnya. Suamiku, maafkanlah .... *sungkem
Tulisan ini sudah atas persetujuan suami *istri baik :P
Label:
Aku Kamu Kita,
Diantara Kita,
Keluarga,
Pernikahan
Catatan Pernikahan I : Menikah dengan orang yang dicintai atau mencintai orang yang menikahi?
"Kamu bahagia, Sa?" Tanya seorang sahabat pada obrolan santai kami saat sebulan usia pernikahan saya.
Saat itu, saya menjawab "Ya" dengan keyakinan ... jujur, belum 100%
"Apakah saya bahagia?" Hati kecil saya mengulang pertanyaan teman saya.
Sahabat saya tersebut, mungkin bukan tanpa alasan menanyakan hal tersebut, beliau tahu ... pernah ada kisah sendu, rindu, pilu, ragu beberapa waktu sebelum saya memutuskan untuk menikah. Sebuah langkah besar, kilat, dan tak terduga. Bahkan, bagi saya pribadi.
Hati kecil saya tak hanya sekali mengulang pertanyaan tentang kebahagiaan tersebut. Hingga hari ini, siang ini, jam dan menit serta detik ini, saya semakin mantap dengan jawaban betapa bahagianya saya. Bahagia menjadi seorang istri, menantu,ipar, dan bahaia sebagai calon ibu, insya Allah ....
Bagaimana bisa saya tidak bahagia memiliki seorang suami yang begitu sabar, menyayangi saya, dan menerima saya apa adanya. Begitu banyak kekurangan saya, keburukan, masa lalu yang ternyata tak seindah surga. Meyakinkan saya, bahwa hari ini dan selanjutnya adalah melangkah ke depan, bukan ke belakang. Menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi, insya Allah .... tak menuntut saya untuk bisa melakukan ini-itu, menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi sempurna. Meyakinkan saya,meski saya tak sempurna, saya tetap bidadarinya .... fabiayyi alaa irrabbikuma tukadzdziban .... lantas, adakah lagi alasan bagi saya untuk tak bahagia hidup bersamanya?
Saat itu, saya menjawab "Ya" dengan keyakinan ... jujur, belum 100%
"Apakah saya bahagia?" Hati kecil saya mengulang pertanyaan teman saya.
Sahabat saya tersebut, mungkin bukan tanpa alasan menanyakan hal tersebut, beliau tahu ... pernah ada kisah sendu, rindu, pilu, ragu beberapa waktu sebelum saya memutuskan untuk menikah. Sebuah langkah besar, kilat, dan tak terduga. Bahkan, bagi saya pribadi.
Hati kecil saya tak hanya sekali mengulang pertanyaan tentang kebahagiaan tersebut. Hingga hari ini, siang ini, jam dan menit serta detik ini, saya semakin mantap dengan jawaban betapa bahagianya saya. Bahagia menjadi seorang istri, menantu,ipar, dan bahaia sebagai calon ibu, insya Allah ....
Bagaimana bisa saya tidak bahagia memiliki seorang suami yang begitu sabar, menyayangi saya, dan menerima saya apa adanya. Begitu banyak kekurangan saya, keburukan, masa lalu yang ternyata tak seindah surga. Meyakinkan saya, bahwa hari ini dan selanjutnya adalah melangkah ke depan, bukan ke belakang. Menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi, insya Allah .... tak menuntut saya untuk bisa melakukan ini-itu, menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi sempurna. Meyakinkan saya,meski saya tak sempurna, saya tetap bidadarinya .... fabiayyi alaa irrabbikuma tukadzdziban .... lantas, adakah lagi alasan bagi saya untuk tak bahagia hidup bersamanya?
Label:
Aku Kamu Kita,
Diantara Kita,
Keluarga,
Pernikahan
Langganan:
Postingan (Atom)




































