Lama sudah melihat beberapa postingan tentang puding lukis yang sedang booming setelah puding art dan puding 3D. Awalnya Sa kira bakal sulit karena media lukisnya agar-agar yang cenderung basah, ternyata... bikin puding lukis lebih cepat, simple, dan menyenangkan daripada puding art, dan yang terpenting enggak banyak menghabiskan pekakas kotor untuk dicuci, hihihi, penting ini! :-D
Puding lukis pertama buat Aisyah bentuk NEMO karena Aisyah suka ikan *alesan, padahal karena paling simple gambar dan warnanya :-D
Baru sekali bikin puding lukis, uda sok-sok an berbagi pengetahuan sama tetangga yang kebetulan lihat puding nemo aisyah
Minggu, 13 September 2015
Sabtu, 05 September 2015
Acara 17-an 2015
Setiap tahunnya, di Perumahan tempat kami bermukim saat ini 17-an agustus punya agenda bazar, berbagai lomba, dan jalan santai dengan banyak doorprize, dari yang kecil sampai barang elektronik yang cukup besar.
Kami mengikuti jalan santai, dreescode tahun ini baju merah, untung Aisyah punya baju merah oleh-oleh dari Batam :-D Alhamdulillah, Aisyah cukup kuat jalan mengikuti rute yang ditetapkan. Setiba garis finish, masing-masing dapat sepaket sarapan dengan menukarkan kupon peserta sambil ikuti pembagian hadiah doorprize.
Lamaaaa, nomor kami bertiga tidak keluar sebagai pemenang doorprize, sampai sayang ekpresi Aisyah yang entah bingung atau sedih melihat anak-anak lain yang duduk di sekitar kami hampir semua sudah memegang hadiah. Ayahnya sudah menghibur," ini just for fun, jangan sedih kalau kita enggak dapat berarti belum rezeki kita."
Tak lama setelah ayah aisyah menghibur Aisyah, jreng...jreng... nomor aisyah disebut panitia dan dapat doorprize tempat minum tupperware. Alhamdulillah, Aisyah senang bukan main. Senyum-senyum terus :-D
Disusul nomor undian bunda Aisyah dapat raket nyamuk, Alhamdulillah... :-)
Setelah dapat hadiah, hayuuu kita pulang. Hihihi, enggak ding, kami memang kebagiannya pas di akhir-akhir acara. Waktu pun sudah menjelang dzuhur, bunda belum masak makan siang, bunda pun kode untuk makan di luar *modus
Aisyah tertidur kecapean
Kami mengikuti jalan santai, dreescode tahun ini baju merah, untung Aisyah punya baju merah oleh-oleh dari Batam :-D Alhamdulillah, Aisyah cukup kuat jalan mengikuti rute yang ditetapkan. Setiba garis finish, masing-masing dapat sepaket sarapan dengan menukarkan kupon peserta sambil ikuti pembagian hadiah doorprize.
Lamaaaa, nomor kami bertiga tidak keluar sebagai pemenang doorprize, sampai sayang ekpresi Aisyah yang entah bingung atau sedih melihat anak-anak lain yang duduk di sekitar kami hampir semua sudah memegang hadiah. Ayahnya sudah menghibur," ini just for fun, jangan sedih kalau kita enggak dapat berarti belum rezeki kita."
Tak lama setelah ayah aisyah menghibur Aisyah, jreng...jreng... nomor aisyah disebut panitia dan dapat doorprize tempat minum tupperware. Alhamdulillah, Aisyah senang bukan main. Senyum-senyum terus :-D
Disusul nomor undian bunda Aisyah dapat raket nyamuk, Alhamdulillah... :-)
Setelah dapat hadiah, hayuuu kita pulang. Hihihi, enggak ding, kami memang kebagiannya pas di akhir-akhir acara. Waktu pun sudah menjelang dzuhur, bunda belum masak makan siang, bunda pun kode untuk makan di luar *modus
Aisyah tertidur kecapean
Label:
Aku Kamu Kita,
Diantara Kita,
Dunia Anak,
Keluarga,
Kita
Minggu, 30 Agustus 2015
Bayam yang Ditinggal Mudik
H-1 mennjelang lebaran Idul Fitri, saya dan Aisyah-putri kami, pulang ke rumah orang tua saya di Batam karena ayah saya sakit dan kondisinya mengkhawatirkan. Syafakallah syifaan ajilan, Abusyik Aisyah :'(
Di Jepara, kami-saya dan suami, menanam beberapa jenis tanaman yang biasa digunakan untuk memasak, seperti jahe, serai, cabai, dan sayuran, salah satunya bayam. Setelah kondisi ayah saya mulai membaik, suami menyusul ke Batam sekalian menjemput kami balik ke Jepara.
Lebih kurang sembilan hari di Batam, kami balik Jepara, walaupun saya masih berat mengingat kondisi ayah saya belum stabil. Sesampai di rumah Jepara, saya terkejut melihat kondisi halaman rumah kami seperti hutan belantara. Rumput yang tumbuh memenuhi sela-sela semen, daun kering, dan tanaman yang ukurannya jumbo-jumbo. Kami memang menitipkan kunci rumah pada tetangga agar bisa tolong menghidup-matikan lampu teras, Alhamdulillah, tetangga kami ternyata juga tolong menyirami tanaman kami.
Subhanallah, keesokannya minggu pagi kami gotong-royong membersihkan halaman, menyiangi rumput, juga menebas sayuran bayam yang tingginya uda sampai dua meter hingga akarnya sedikit mengangkat semen di halaman. Bayam dari benih yang tercecer.
Daun bayamnya yang super lebar saya olah menjadi keripik bayam, setoples besar dan aisyah doyan banget, yummy! Alhamdulillah 😊
Di Jepara, kami-saya dan suami, menanam beberapa jenis tanaman yang biasa digunakan untuk memasak, seperti jahe, serai, cabai, dan sayuran, salah satunya bayam. Setelah kondisi ayah saya mulai membaik, suami menyusul ke Batam sekalian menjemput kami balik ke Jepara.
Lebih kurang sembilan hari di Batam, kami balik Jepara, walaupun saya masih berat mengingat kondisi ayah saya belum stabil. Sesampai di rumah Jepara, saya terkejut melihat kondisi halaman rumah kami seperti hutan belantara. Rumput yang tumbuh memenuhi sela-sela semen, daun kering, dan tanaman yang ukurannya jumbo-jumbo. Kami memang menitipkan kunci rumah pada tetangga agar bisa tolong menghidup-matikan lampu teras, Alhamdulillah, tetangga kami ternyata juga tolong menyirami tanaman kami.
Subhanallah, keesokannya minggu pagi kami gotong-royong membersihkan halaman, menyiangi rumput, juga menebas sayuran bayam yang tingginya uda sampai dua meter hingga akarnya sedikit mengangkat semen di halaman. Bayam dari benih yang tercecer.
Daun bayamnya yang super lebar saya olah menjadi keripik bayam, setoples besar dan aisyah doyan banget, yummy! Alhamdulillah 😊
Label:
Aku Kamu Kita,
Diantara Kita,
Keluarga,
Kesehatan
Minggu, 26 Juli 2015
Jalan-jalan ala turis lokal :-D
Saat duduk di bangku sekolah dasar belasan tahun silam, saya sering membaca kisah perjuangan RA Kartini. Saya selalu ingat saat ditanyakan tempat lahirnya-Jepara, Jawa tengah. Saat itu, saya tidak pernah terbayang kalau suatu hari saya bakal menjejakkan kaki di tempat yang dijuluki Bumi Kartini ini, tempat lahir Kartini, Jepara. Bahkan memiliki suami penduduk asli Jepara dan hingga hari ini, jam dan menit serta detik ini, telah dua tahun saya berdomisili di Jepara mengikuti suami bertugas semoga segera mutasi (eh).
Ini kedua kalinya saya diajak suami ke Pantai Kartini. Sebelumnya, kami ke sini saat baru menikah, sekitar dua tahun yang lalu. Hihihi, maklumlah... kami hanya memiliki sebuah sepeda sebagai transportasi yang dipakai bergantian untuk ke kantor pagi oleh suami dan sore saya gunakan untuk belanja. Untuk pergi jauh tidak memungkinkan, ditambah harus menggendong putri kami. Jika ingin bepergian jauh, kami mengandalkan kebaikan dari teman kantor suami yang meminjamkan motornya kala weekend. Meminjam terlalu sering pun membuat sungkan, jadi ya seringnya di rumah saja. :-)
foto diambil dari sini
Jalan-jalan begini jadi terasa istimewa karena jarang dilakukan. Meski hanya melihat-lihat tetap senang. Alhamdulillah ....
Khas-nya pantai kartini ini adalah kura-kura super besar yang isinya semacam seaworldtapi kurang terurus di pinggir pantai. Berbeda dengan air laut pada pantai-pantai di Aceh yang airnya biru menyejukkan pandangan, di sini airnya keruh dan sepertinya di pantai kartini ini tidak ada yang mandi, ada terlihat beberapa perahu.
Daya tariknya selain kura-kura adalah para pedagang souvenir dan tempat makan yang memenuhi kawasan wisata pantai kartini ini.
Souvenir dari kerang laut yang lucu-lucu
Selain macam-macam souvenir untuk pajangan, ada juga topi lebar yang cantik-cantik. Ukurannya lengkap, dari buat baby sampai dewasa.
Selain unik bentuknya, harga souvenir-souvenir ini juga cukup bersahabat lho... mulai harga Rp. 2500,- kita sudah dapat memiliki souvenir ini, bisa buat oleh-oleh atau pajangan di rumah. :-)
Ini kedua kalinya saya diajak suami ke Pantai Kartini. Sebelumnya, kami ke sini saat baru menikah, sekitar dua tahun yang lalu. Hihihi, maklumlah... kami hanya memiliki sebuah sepeda sebagai transportasi yang dipakai bergantian untuk ke kantor pagi oleh suami dan sore saya gunakan untuk belanja. Untuk pergi jauh tidak memungkinkan, ditambah harus menggendong putri kami. Jika ingin bepergian jauh, kami mengandalkan kebaikan dari teman kantor suami yang meminjamkan motornya kala weekend. Meminjam terlalu sering pun membuat sungkan, jadi ya seringnya di rumah saja. :-)
foto diambil dari sini
Jalan-jalan begini jadi terasa istimewa karena jarang dilakukan. Meski hanya melihat-lihat tetap senang. Alhamdulillah ....
Khas-nya pantai kartini ini adalah kura-kura super besar yang isinya semacam seaworld
Daya tariknya selain kura-kura adalah para pedagang souvenir dan tempat makan yang memenuhi kawasan wisata pantai kartini ini.
Souvenir dari kerang laut yang lucu-lucu
Selain macam-macam souvenir untuk pajangan, ada juga topi lebar yang cantik-cantik. Ukurannya lengkap, dari buat baby sampai dewasa.
Selain unik bentuknya, harga souvenir-souvenir ini juga cukup bersahabat lho... mulai harga Rp. 2500,- kita sudah dapat memiliki souvenir ini, bisa buat oleh-oleh atau pajangan di rumah. :-)
Minggu, 14 Juni 2015
Aische - baking & cooking
Setahun belakangan, bunda mulai usaha kecil-kecilan, terima pesanan kue dan masakan, umumnya brownies, cupcake, atau birthday cake, hihihi, gaya bener yak! Masih belajar dan terus belajar. Kalau masakan biasanya aneka soup yang kata orang yummy! (Narsis),olahan ikan atau ayam, gado-gado dan lain-lain yang semuanya made by order sesuai kemampuan bunda Aisyah. Jadi, kalau masakan yang belum terlalu dikuasai bunda aisyah belum berani ambil resiko, khawatir mengecewakan dan bikin kapok pelanggan buat order lagi. :-D
Beberapa waktu lalu, tante diyah tetangga sebelah minta dibikinin mini brownies dan cheesse cake buat ultah suaminya. Pesannya dadakan pula, acaranya malam, pesannya menjelang siang. Haduh, mana ada bahan yang belum restock, tapi mau nolak enggak enak, secara tante diyah itu sudah baik banget sama aisyah dan bunda. Untungnya waktu itu hari sabtu, ada ayah aisyah di rumah yang siap antar ke toko bahan kue langganan bunda aisyah, langsung cuuuss deh kita meluncur.
Alhamdulillah, pesanan tante diyah selesai dan katanya enaaak. Senangnyaaaaa :-)
Makasih order-nya, tante diyah :-)
Senang banget, setelahnya tante diyah juga pesan kismis cake dan bolu spekuk jadul, bunda sampai telepon nenek tanyain resepnya yang paling oke. Makasih nenek aisyah untuk warisan resep-resepnya :-*
Beberapa waktu lalu, tante diyah tetangga sebelah minta dibikinin mini brownies dan cheesse cake buat ultah suaminya. Pesannya dadakan pula, acaranya malam, pesannya menjelang siang. Haduh, mana ada bahan yang belum restock, tapi mau nolak enggak enak, secara tante diyah itu sudah baik banget sama aisyah dan bunda. Untungnya waktu itu hari sabtu, ada ayah aisyah di rumah yang siap antar ke toko bahan kue langganan bunda aisyah, langsung cuuuss deh kita meluncur.
Alhamdulillah, pesanan tante diyah selesai dan katanya enaaak. Senangnyaaaaa :-)
Makasih order-nya, tante diyah :-)
Senang banget, setelahnya tante diyah juga pesan kismis cake dan bolu spekuk jadul, bunda sampai telepon nenek tanyain resepnya yang paling oke. Makasih nenek aisyah untuk warisan resep-resepnya :-*
Selasa, 03 Februari 2015
arisan... oh, arisan... :'(
Sejak bulan oktober, saya mengikuti arisan online melalui social media facebook. Ini arisan pertama dan satu-satunya yang saya ikuti. Iurannya seratus ribu rupiah, oenarikan sebulan dua kali selama lima bulan. Alasan saya ikut arisan ini, itung-itung menabung mengingat kami cukup sulit quntuk menanbung karena kebutuhan-kebutuhan yang tak terduga.
Dua hari yang lalu, saya bersama suami membawa putri kami ke jogja untuk bertemu dengan keluarga saya yang datang dari Aceh. Saat itu, saya sudah berencana untuk mentransfer uang arisan, namun selalu terkendala dengan kondisi, saat kami mampir istirahat di SPBU, putri kami tidur dan tidak mau digendong ayahnya, jadinya saya tidak bisa ke ATM. Saat tiba di jogja, mungkin karena ini perjalanan pertamanya, maunya nempeeeel terus dengan saya, di luar juga hujan cukup deras membuat kami tidak bisa keluar.
Keesokan harinya (kemarin) adalah hari dimana uang iuran jatuh tempo penyetoran, saya sudah gelisah sejak semalam, harus setor hari ini sekalian jalan pulang balik Jepara. Sebelum pulang, kami diajak ke kebun binatang, sejak jumat hingga minggu saya tidak memegang hp, bermaksud melihat nomor rekening pemegang iuran arisan, sambil jalan saya buka facebook dan share status percakapan dengan suami. Saat akan membalas inbox mbak pemegang iuran arisan, hp-nya mati. Saya bingung, sepanjang jalan-jalann sudah tidak konsentrasi, ditambah lagi dapat telepon melalui hp suami kalau mbak pemegang iuran arisan comment di status facebook saya tadi menagih uang arisan, katanya wa saya ga aktif, di-inbox dan sms tidak dibalas. Saya dan suami benar-benar terkejut. Makin stres saya rasanya ingin menangis... benar-benar tidak menyangka. :'(
Akhirnya comment tersebut dihapus suami karena rasanya kurang baik. Saya benar-benar menyesal telah menulis status sebelum membalas inbox mbak tersebut. Mau hapus, khawatir makin gimana... apalagi bagi yang sudah sempat membaca, nantk dipikir saya memang telah berbuat hal yang disampaikan dalam comment tersebut.
Sepanjang perjalanan, saya kepikiran terus. Sampai jepara sudah tengah malam, saya minta izin suami pagike ATM depan perumahan untuk transfer iuran arisan, ternyata pagi putri kami kurang sehat, entah mungkin kecapekan atau apa saya bingung juga, dia menangis terus minta digendong, tidak bisa ditinggal, mana di rumah signal hp hilang timbul, tiap saya ajak ke teras nangis.... saya tidak bisa menghubungi suami, tidak bisa online, dan lagi suami bilang hari ini mau ke lapangan jadi tidak bisa pulang siang makan di rumah seperti biasa. Saya benar-benar ingin menangis, bingung, stres, entah mau minta tolong dengan siapa.
Sebelum suami ke kantor, saya telah titip pesan untuk tolong mengabari ke mbak pemegang iuran arisan atas keterlambatan saya menyetor, tapi karena pagi sibuk harus ke lapangan, suami telat buka fb.... saat online ternyata mbak tersebut telah kembali mengomentari status facebook saya dua kali menanyakan "masih niat menyetor dan Allah Maha Tahu,Mbak..."
Saya mengetahui hal ini sore saat dijemput suami, akhirnya suami yang membalas komentar mbak tersebut. Saya dan suami sangat malu atas hal ini, imbasnya kemana-mana.
Suami ditanyakan teman kantornya, karena beberapa teman kantor suami adalah mutual friend saya. Keluarga, saudaram beberapa teman semua menanyakan via inbox, sms, dan telepon. Begitu saya keluar dan mendapati signal, banyak whatsapp masuk menanyakan tentang comment mbak pemegang arisan tersebut. Sampai orang tua saya yang di Batam tahu melalui saudara yang menayakan perihal arisan apa yang saya ikuti sampai ditagih sebegitunya di social media. Selama ini kami selalu berusaha merahasiakan apa pun tentang rumah tangga kami pada orang tua, susah senang dijalani berdua. Malu sekali rasanya.
Saya sedih sekali, ketika keluarga suami juga mengetahui melalui saudara yang berteman dengan saya di facebook, you know what... kadang orang terlalu kepo dan menceritakan berita tanpa babibu. Malu, sedih, stres, hubungan yang selama ini rada gimana gitu karena saya HANYA IBU RUMAH TANGGA terkesan semakin kurang mengenakkan. Saya tidak tahu lagi harus ngomong apa.... :'(
Finally, beberapa custumers saya meng-cancel orderan buku yang dipesan setelah (mungkin) membaca comment mbak di status saya tersebut. Saya sedih sekali, karena melalui orderan buku-buku inilah saya memperoleh tambahan rezeki untuk keperluan kami. Ada olshop yang menolak orderan saya setelah (mungkin juga) membaca comment tersebut. Imbasnya kemana-mana.... saya tidak tahu harus berkata apa, harus bagaimana, nangis pun sudah tidak bisa lagi. Kacau rasanya.... :'(
Tadi juga saat belanja di penjual sayur, tetangga yang kebetulan friend di facebook saya menanyakan "mbak sarah ada masalah apa? Kok ribut-ribut di facebook? Gimana ceritanya?" Rasanya malu sekali harus menjelaskan pada ibu-ibu yang ikut belanja kalau kemarin hanya kesalahpahaman, bla... bla... T_T
Teringat pesan orang tua saya dulu saat saya pisah kota untuk bersekolah saat SMP, selalu saya ingat dan pegang "kalau kamu mau berbuat sesuatu pada orang lain, coba pikirkan dahulu bagaimana kalau kamu di posisi orang tersebut, dampaknya, hati-hati dalam bertindak dan melangkah."
Saya dan suami sepakat untuk membayar seluruh uang arisan untuk bulan-bulan berikutnya sampai selesai, jadi selanjutnya saya tidak perlu membayar uang arisan lagi dan hal ini tidak terulang lagi. Benar-benar pelajaran penting bagi kami untuk lebih menahan diri, terutama dalam berkata dan bersikap baik langsung mau pun di social media. Kita tidak tahu bagaimana imbas perkataan kita terhadap diri kita dan atau orang lain. Kami yang sejak awal menikah sepakat untuk membatasi diri dalam interaksi di social media merasa ....
Semoga ada hikmah dalam setiap kejadian, pasti.
Sabtu, 03 Januari 2015
Mesjid bersih hati pun jernih
Masih seputar Semarang, sepulang dari kopdar KPBA di rumah Kak Taro-Lestari sudah memasuki waktu dzuhur, jadilah kami mampir di mesjid terdekat. Lihat kiri-kanan jalan, bertemulah dengan Mesjid Raya Candi Lama di sisi jalan wahidin 109 Semarang.
Memasuki halaman mesjid, saya langsung kagum dengan pengelolaannya. Tampak sekali mesjid ini hidup saat saya membaca papan besar kegiatan rutin, mading yang update info, dan beberapa koran hari ini. Selain itu, baru kali ini saya mendapati mesjid yang memiliki klinik dengan beberapa dokter spesialis, tempat travel, mini market, serta yang paling spesial ada tempat kajian akhwat di lantai dua selain kantor Baitul Mall mesjid.
Saat memasuki tempat wudhu dan toilet, saya senang sekali. Toilet bersih dan harum, begitu pula tempat wudhu. Tak ada genangan air, lumut, atau pekakas yang berserakan. Bersih! Selain itu, ada keran khusus cuci kaki di depan pintu keluar-masuk toilet-tempat wudhu yang terhubung dengan tempat sholat wanita. Ini jarang sekali saya temui. Jadi, kita tidak perlu khawatir ada najis yang tertinggal atau jejak tapak kotor sebelum memasuki lantai mesjid.
mukena juga tergantung rapo, bersih, dan harum.
Saya pribadi, senang sekali setiap mendapati mesjid yang bersih seperti ini. Tidak menimbulkan uneg dan prasangka terhadap pengelola mesjid.
"Kok tempat wudhu-nya lumutan, ya? Kamar mandinya bau."
"Hambal mesjidnya banyak debu, emangnya enggak ada yang bersihin?"
"Mukenanya kotor dan bau banget, untung bawa sendiri, kalau enggak beneran bikin enggak kusyuk saking baunya."
dll, dst...
Astaghfirullah...
Begitulah... apakah mungkin teman-teman merasakan hal yang sama saat mendatangi mesjid yang kurang terurus?
Ah, mesjid bersih itu memang dambaan setiap muslim, selain memberi perasaan lebih nyaman, insya Allah ibadah tenang, hati senang... enggak pakai su'udzon sama pengelola mesjid. Betul... betul... betul?:-)
Memasuki halaman mesjid, saya langsung kagum dengan pengelolaannya. Tampak sekali mesjid ini hidup saat saya membaca papan besar kegiatan rutin, mading yang update info, dan beberapa koran hari ini. Selain itu, baru kali ini saya mendapati mesjid yang memiliki klinik dengan beberapa dokter spesialis, tempat travel, mini market, serta yang paling spesial ada tempat kajian akhwat di lantai dua selain kantor Baitul Mall mesjid.
Saat memasuki tempat wudhu dan toilet, saya senang sekali. Toilet bersih dan harum, begitu pula tempat wudhu. Tak ada genangan air, lumut, atau pekakas yang berserakan. Bersih! Selain itu, ada keran khusus cuci kaki di depan pintu keluar-masuk toilet-tempat wudhu yang terhubung dengan tempat sholat wanita. Ini jarang sekali saya temui. Jadi, kita tidak perlu khawatir ada najis yang tertinggal atau jejak tapak kotor sebelum memasuki lantai mesjid.
mukena juga tergantung rapo, bersih, dan harum.
Saya pribadi, senang sekali setiap mendapati mesjid yang bersih seperti ini. Tidak menimbulkan uneg dan prasangka terhadap pengelola mesjid.
"Kok tempat wudhu-nya lumutan, ya? Kamar mandinya bau."
"Hambal mesjidnya banyak debu, emangnya enggak ada yang bersihin?"
"Mukenanya kotor dan bau banget, untung bawa sendiri, kalau enggak beneran bikin enggak kusyuk saking baunya."
dll, dst...
Astaghfirullah...
Begitulah... apakah mungkin teman-teman merasakan hal yang sama saat mendatangi mesjid yang kurang terurus?
Ah, mesjid bersih itu memang dambaan setiap muslim, selain memberi perasaan lebih nyaman, insya Allah ibadah tenang, hati senang... enggak pakai su'udzon sama pengelola mesjid. Betul... betul... betul?:-)
Label:
Aku Kamu Kita,
Diantara Kita,
Jalan-jalan,
Keluarga,
Pernikahan
Langganan:
Postingan (Atom)













