Rabu, 26 Februari 2014

Selalu Ada Saat Pertama

Pertama kali melihat putri pertama kami- 'Aisyah Hilmiya Ahmad, rasanya enggak bisa diungkapkan, bahagiaaaa sekali. Alhamdulillah, Allah telah memberi kepercayaan pada kami untuk sebuah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Amanah paling indah ....



'Aisyah lahir dengan BB 2,9kg dan TB 45cm. Mungiiiil sekali. Semua orang bilang putri kami terlalu kecil :'(
Warna kulitnya merah sekali, terutama saat ia menangis, seluruh tubuhnya memerah seperti warna merah hati, sampai lagi ... lagi ... orang bilang ia hitam (_ _!). Ya, begitulah, kadang orang berkomentar sesukanya. Tapi, tak mengapa, 'Aisyah tetap anugeraah paling indah bagi kami.



Pertama kali menjadi ibu, selain rasa bahagia ternyata juga lumayan "kerepotan". Hihihi. Dibulan pertama kelahirannya, walaupun pesan dokter 'Aisyah harus disusui maksimal setiap dua jam sekali, kenyataannya hampir setiap malam kami tidak tidur, bahkan 24 jam tidak tidur saat bulan pertama kelahirannya. 'Aisyah kerap bangun setiap 15-30 menit sekali. Seringnya karena lapar atau haus, kadang minta digendong,nangis karena enggak nyaman basah pipis atau poop, kadang ya cuma sekedar bangun-bangun aja :-D

Seiring waktu, Alhamdulillah 'Aisyah anak yang teratur, ini memudahkan kami saat malam, hihihi. Setidaknya kami bisa tidur sekitar setengah jam sampai 2-3 kali dalam satu malam. 'Aisyah selalu terbangun hanya karena haus dan lapar di jam yang sama setiap hari. Lumayanlah, selain ganti popok dan menyusui, sudah bisa tidur sebentar. Subhanallah ... benar-benar anak yang pengertian. Pasalnya, ayahnya kalau sudah semalaman enggak tidur, bisa tertidur di kantor :-D


Alhamdulillah saat 'Aisyah usia 40 hari, kami dicukupkan rezeki oleh Allah untuk melaksanakan aqiqah 'Aisyah di rumah mbah-nya. Ini pertama kalinya 'Aisyah dibawa keluar rumah.


Subhanallah walhamdulillah, saat usianya tiga bulan, 'Aisyah sudah bisa tengkurap. Pertama kali melihat 'Aisyah bisa tengkurap rasanya sangat bersyukur dan bahagia. Kami berusaha selalu menyemangatinya saat ia terlihat sangat berusaha keras saat tengkurap dan memberikan apresiasi jika ia berhasil atau pun tidak, apresiasi atas usaha dan semangatnya. :')


sekarang, kepalanya sudah bisa semakin tegak, tinggi, dan lama saat tengkurap. 'Aisyah juga selalu berusaha mendorong kaki dan badannya untuk maju ke depan. Seringnya sampai ngences-ngences atau meneriakkan semangat "eeeeeehhhhhnggg". hihihi ... :-D


dahinya kecolongan digigitin nyamuk (_ _!)

Pernah juga 'Aisyah demam pasca imunisasi. Pertama kali 'Aisyah demam saya cukup bingung dan panik. Alhamdulillah, untuk ada misyik aisyah-ibu saya. Biasanya setelah imunisasi begitu sampai rumah langsung demam dan maunya hanya digendong sambil berdiri sepanjang malam. Setiap yang menggendongnya duduk, ia pasti menangis. Kami bergantian menggendongnya sepanjang malam. Alhamdulillah, jadwal imunisasi 'Aisyah selalu hari jum'at. Jadi besoknya ayah libur bisa ikut jagain 'Aisyah. kebiasaan ini biasanya berlangsung sampai dua malam. Makanya, JUJUR SAJA, SAYA MARAH SEKALI SAMA ORANG YANG ENGGAK MAU TAHU DAN ENGGAK MAU NGERTI DENGAN KONDISI INI.

Sudahlah, tidak usah membicarakan orang itu, bikin enggak mood aja. Pfhhh ...

Saat ini, 'Aisyah sudah 4 bulan. Alhamdulillah ASI eksklusif, BB-nya 7kg, TB 60cm. Sudah bisa duduk, pegangin jempol kaki kalau direbahin, dan sukaaaa sekali ngoceh. Rumah jadi ramai rasanya. Ramai dengan suaranya yang sejak shubuh sudah bangun. Ramai dengan ketawa. Alhamdulillah, atas kebahagiaan ini, Yaa Allah ... :')






Semoga kami bisa selalu menyaksikan moment pertamamu, Nak ... Allahumma Aamiin. :-*



Finnally, I have a baby girl - be a mommy, Alhamdulillah ....

Akhirnya, bisa nge-blog lagi... hihihi, sok sibuk :-D

Setelah dua hari berada di ruang bersalin, Alhamdulillah karena pertolongan Allah, pada 23 Oktober 2013 dengan penuh semangat dan perjuangan,sa melahirkan putri pertama kami dengan selamat serta sehat *terharu

Kalau diingat-ingat waktu proses lahiran, rasanya campur aduk. Lucu, terharu, bahagia, nano-nano. Sebenarnya, usia janin baru masuk minggu ke-38, tapi usia kehamilan uda masuk minggu ke-41. Bingung kan, ya? Iya, ternyata usia kehamilan dan usia janin berbeda sekitar tiga mingguan. Pasalnya, usia kehamilan kan dihitung berdasarkan hari pertama dan terakhir (hpht) haid, sedangkan usia janin adalah usia kehamilan dikurangi dua minggu (kira-kira begitulah kata dokter kandungannya dulu, hihi).

Mendekati hpl(hari prediksi lahiran), sa sama suami (cie..) rajin periksa ke dokter. Kalau biasanya sebulan sekali, menjelang hpl jadi seminggu sekali. Nah, selama hamil kan kami sudah hunting tempat lahiran yang sesuai dengan kriteria kami (halah), seperti yang pro ASI, peralatan lengkap (ini mah maunya sa buat jaga-jaga kalau ada hal yang enggak diinginkan), pelayanan baik, tenaga medis standby.

Bukan apa-apa, di Jepara susaaaaah banget dokter. Kalau di Banda Aceh, Medan, atau Batam banyak pilihan dokter kandungan dan beberapa Rumah Sakit/Rumah Bersalin yang mudah dijangkau, di Jepara dokter kandungan cuma ada tiga orang yang tempat prakteknya dimana-mana. Jadi satu tempat, ntah klinik atau RS swasta jatahnya cuma sekitar satu jam doang dengan pasien yang banyaaaak. Boro-boro consult, kita belum kelar, pasien lain uda disuruh masuk, bayarnya mahal pakai banget, kita di ruangannya enggak sampai lima menit. (_ _!)

Di RSU perawatnya judes minta ampun, enggak pakai senyum. Pernah tuh ya dikatain "kalau enggak mau sakit ya jangan hamil" duuuh, siapa juga yang mau sakit,Mbak? saya juga maunya sehat-sehat aja :'(

Di Bidan, rada gimana gitu ... tapi mungkin enggak semua bidan "enggak asik" kali,ya? Pertama datang komunikatif banget. Duh, uda okey, uda sreg. Eh, kedua datang kayaknya lagi enggak mood bidannya. Perut sa ditekan-tekan sampai sakiiiit banget keluar air mata. Terus uda jelas di USG sama dokter hamil tiga bulan katanya masih sebulan. Ganti bidan lain, disuruh makan ARI- ARI KUCING. Gileeee, katanya sih biar janinnya kuat. Huhuhu, kenapa enggak makan ari-ari harimau aja sekalian, kan lebih garang (_ _!).

Akhirnya, dapat info dari teman yang istrinya juga orang Aceh, uda kenal sejak di Banda Aceh dan sekarang tinggal di Jepara juga. Di rekomendasikan dokter kandungan waktu istrinya hamil dulu. Kesanalah kami. Eng ing eng, agak grogi juga, duuuh, yang hamil kok masih muda-muda banget, usia bumil rata-rata 15th-20th. Sa bumil paling tua di situ, hihihi, tapi Alhamdulillah, dokternya ramah dan komunikatif banget, enggak buru-buru, jadi kami boleh tanya ini itu sampai puas, waktu USG beliau juga jelasin ke kami apa aja yang bisa dilihat dari monitor itu. Bayarannya juga enggak mahal. Pokoknya setiap pulang periksa selalu senang, hihihi. Sampai lahiran sama beliau juga di kudus.

Kenapa sampai ke Kudus? Ya, karena dr. Najib- dokter kandungan sa itu praktek utamanya di RS. Aisyiyah Kudus. Sekitar tiga minggu sebelum lahiran kami ke RS Aisyiyah Kudus periksanya. Pelayanannya ramah dan memuaskan. Peralatan lengkap. Bidan, perawat, dokter semua standby 24 jam, rumah sakitnya juga bersih. Klop deh.

Terakhir, sabtu itu kami ke Kudus periksa kandungan. Pulangnya sempat ngambek sama suami (huhuhu, maafkan istrimu ya, suamiku... ), gara-garanya kan dokter nyaranin rawat inap, karena baby-nya sudah masuk pinggul. Memang belum ada pembukaan, belum sakit, belum ada tanda-tanda mau lahiran. Tapi, mengingat pinggul sa sempit dan usia kehamilan sudah masuk minggu ke-41, khawatir sama baby-nya. Idealnya lahiran di minggu 38-40.

Memang sih, sa setuju sama suami,selama air ketuban masih bagus dan cukup, tali pusar masih baik, baiknya enggak usah rawat inap dulu. Tapi, emang dasar bumil itu sensitif, ya... (alesan), suami salah ngomong "ada kok yang hamil sampai tiga tahun baik-baik aja" (siapa ya waktu itu lupa sa, imam syafi'i apa,ya?). Waaa, entah kenapa dengarnya langsung sebeeeeel, "itu kan beda. Emang mau sa hamil sampai tiga tahun enggak lahir-lahir? bla..bla..bla.. " panjang sambil nangis-nangis, sebel sampai rumah :-D

Eh, enggak berapa lama sampai rumah, waktu ke kamar mandi, keluar darah banyaaak banget. Haduh, mau lahiran ini. Hihihi, malah nangis lagi. Alesannya sih karena malu sama suami, masa uda habis ngomel-ngomel ngambek, tiba-tiba minta tolong, jadi nangis karena enggak enak sama suami :-D

Singkat cerita, kami siap-siap, ambil tas berisi perlengkapan kami dan baby yang emang sudah disiapin jauh-jauh hari buat dibawa ke RS. Hubungi dr.Najib. Balik Lagi ke Kudus.

Eits, tapi kok perut sa enggak mules. ya? Malah semangat banget rasanya mau lahiran, hihihi. Akhirnya kami mampir ke hypermart dulu, beli kue bekal nanti di RS sekalian makan siang. Sampai RS, ternyata masih pembukaan dua. Suami ngurus kamar dan administrasi RS,sa tunggu di IGD. Masih bugar banget, tapi langsung diinfus sama perawatnya :'(

Sekitar setengah jam kemudian dibawa ke ruang bersalin. Sa kira ruang bersalinnya satu ruangan satu orang, ternyata satu ruangan ada sekitar sepuluh orang dan full. Waaa, bakal seru nih lahiran bareng-bareng. :-D

Pembatas masing-masing tempat tidur kan cuma gorden gitu. Sampai sore sa belum sakit, masih pembukaan dua. Padahal kiri kanan uda dari tadi nangis dan teriak-teriak. Duh, dari tenang jadi mulai horor juga. Sebelah kiri akhirnya lahiran dengan penuh kehebohan. Disusul sebelah kanan sa beda banget suasana lahirannya, ibu itu ngeden sambil sesekali bisa ngobrol sama dokternya, asik banget kayaknya. Malam, ganti pasien baru kiri-kanan, sa masih pembukaan dua. Besoknya, pagi, siang, sore, masiiiiih pembukaan dua enggak nambah. Enggak ngerasa sakit. Padahal sudah habis dua botol infus.

Menjelang maghrib, sa dipindah ke tempat tidur yang pas depan meja bidan jaga, biar mudah dikontrol gitu. Sa maunya jalan-jalan dulu, tapi karena uda pakai baju bersalin dan repot gotong-gotong tiang infus akhirnya tiduran lagi. dokternya sudah bolak-balik telepon bidannya tanyain sa. Tapi, ya masih pembukaan dua.

Akhirnya, tiba juga disesi cerita yang agak horor. Pembukaan enggak nambah-nambah, jadi "dipaksa" nambah sama bidannya pakai GUNTING. Huwaaaa, sakit sih, tapi masih bisa ditahan. Pfhh, dibantu sampai pembukaan empat. Dikasih lagi obat perangsang kontraksi, lama masih enggak berasa sakit. Gunting lagi sampai pembukaan enam, delapan, sepuluh bukan secara alami, tapi digunting. Hihihi.Alhamdulillah, selain sakit digunting itu, sa enggak ngerasa sakit banget waktu kontraksi mau lahiran. Bidannya bolak-balik lihatin kondisi sa di tempat tidur sekitar lima sampai sepuluh menit sekali. Sampai bilang "Bu, kok tenang sekali? Kalau mau nangis gapapa, Bu ..." Lha, gimana mau nangis, wong sakitnya cuma lebih sakit sedikit dari diare, gitu ... (hihihi, ini hikmah sering diare kali,ya?).

Setelah pembukaan sepuluh itu, baru berasa kayak muleeees banget. Sampai keluar keringat dingin. Alhamndulillah, suami ada di samping sa. Beliau menenangkan dan memberikan afirmasi positif, "melahirkan itu adalah proses alami, Insya Allah sa bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, lancar" berulang-ulang beliau sugesti sa hingga sa merasa rileks. Ketika sa merasa rileks, Subhanallah, sakitnya jadi jauuuh berkurang.

Dokter dan tiga orang bidan yang membantu sa lahiran. Rame pokoknya. Pasalnya, meski uda pembukaan sepuluh, bayinya belum turun juga. Sa uda makin mules ... uda miring biar bayinya cepat turun, enggak juga. Finally, perut sa ditekan dari atas ke bawah kuat banget sambil ngeden dua kali langsung bayinya keluar. Alhamdulillah, rasanya plooooooong banget.

Begitu lahir, langsung IMD (Inisiasi Menyusu Dini), Subhanallah walhamdulillah ... rasanya bahagiaaa sekali, I have a baby girl, be a mommy. Saking bahagianya, sa enggak ngerasa lagi dijahit. Padahal, sa dijahit sampai dua jam lebih, dari Pkl. 19.00wib sampai Pkl.21.30wib karena banyaknya robekan.

Buat teman-teman yang mau lahiran, sa mau berbagi tips berdasarkan pengalaman melahirkan pertama ini, jadi pelajaran juga buat sa melahirkan anak kedua dan seterusnya nanti :-D

-Tilawah. Sambil menunggu pembukaan bertambah, daripada galau jauh lebih baik waktunya dipakai buat tilawah, hati jadi tenang, pikiran jadi positif, dan perbanyak doa.
- Relaks. Ini penting banget waktu melahirkan. Meski mungkin terasa sakiiiit banget, tapi kalau kita ngerasa rileks, sakit yang dirasa akan jauuuuh berkurang.
- Sugesti Positif. Ini juga penting. Yakinkan diri berulang-ulang, kalau melahirkan adalah proses alami. Hal ini membantu tubuh dan pikiran kita menjadi tenang, sehingga kita Insya Allah bisa melahirkan dengan tenang, nyaman, dan lancar. Sugesti positif ini sa mulai sejak usia kehamilan masuk tujuh bulan, diulang-ulang setiap hari sesering mungkin, hingga masuk ke alam bawah sadar kita.
- 4T (Tasbih,Tahmid, Tahlil, Takbir). Daripada teriak-teriak enggak jelas, malah bikin heboh, panik, kacau,plus menguras energi yang harusnya dihemat buat ngeden nanti, lebih baik kita istighfar dan 4T. Selain membuat kita lebih bisa mengontrol diri dan rasa sakit, yang dengar juga lebih enak :-D
- Ikuti instruksi dokter atau bidan. Seberapa inginnya kita ngeden, jangan lakukan sebelum diinstruksikan dokter atau bidan. Seberapa pun susahnya menahan spontanitas mengangkat (maaf) pantat untuk mengurangi rasa sakit. Jangan lakukan, karena akan memperlebar robekan yang artinya membuat jahitan menjadi banyak. Dan ikuti instruksi lainnya, seperti jangan boros napas seolah habis lari ratusan kilo, dan lain-lain.


Semangat melahirkan dengan nyaman dan indah. A Special Moment.

Jumat, 04 Oktober 2013

Ngidam Salah Sasaran

Umumnya, saat hamil yang merasakan ngidam, ingin ini ingin itu adalah si calon ibu. Namun, dalam kasus rumah tangga saya pada kehamilan anak pertama ini, yang merasakan ngidam itu (sepertinya) justru suami saya, sedangkan saya kebagian huwek-huwek dan lemesnya saja .... :-D

Mungkin memang benar kata orang, ngidam itu adalah keanehan. Bagaimana tidak, saya kerapkali terheran-heran sampai tersenyum geli dengan "ngidam yang dirasakan suami saya". Mulai dari makan mangga muda, kepingin bubur mutiara, sampai kegemarannya selama saya hamil ini yang rada "aneh". Suka warna-warna cerah, seperti pink, merah, orange, ungu muda, OMG! Padahal, selama hamil ini saya lebih cenderung senang pada warna-warna netral, coklat, biru dongker, dan semua yang praktis. Daaaan, suami saya juga senang menguncir rambut yang sejumput rumput :-D *jangan-jangan anak kami perempuan nanti.

Banyak lagi ngidam anehnya yang enggak dapat saya ungkapkan di sini, yang pasti lucu dan bikin si suami tersipu malu kalau kami flashback ceritanya :-D

Sesuatu yang aneh juga terjadi pada saya, sejak anak dalam kandungan saya sudah mulai memberikan "gerakan", itu rasanya kompak banget sama ayahnya aka suami saya. Kalau suami saya tidur hadap ke kanan, saya ke kiri, tak lama kemudian calon anak kami ini seperti meminta saya hadap ke kanan juga, begitu pula sebaliknya, pokoknya maunya mengikuti arah tidur ayahnya. Mulai dari gerakan halus sampai gerakan heboh terjadi di dalam perut jika saya tidak ikut arah tidur ayahnya, begitu arah tidur sudah sama, langsung deh anteng si calon anak (_ _!)

Begitu pula jika sudah jam pulang kerja suami saya, calon anak kami akan bergerak-gerak, apalagi kalau mendengar suara salam suami saya dari pintu, tambah heboh. Kalau lagi anteng aka diam, dipanggil-panggil ayahnya, cepat banget responnya, apalagi kalau diajak ngobrol, berasa "nih anak kok masih dalam perut uda kompak banget sama ayahnya!" :-)

'Nak, nanti shubuh bangunin ayah sama bunda, ya!"
Dan, menjelang adzan shubuh, calon anak kami ini pasti sudah bergerak-gerak, kalau saya masih tidur, gerakannya akan bertambah heboh sampai saya benar-benar terbangun.

Kalau sudah lewat Pkl.22.00wib masih bergerak-gerak, lalu suami saya bilang : "Nak, uda malam, tidur yuk, jangan bergadang, biar besok pagi bunda lebih fresh (kayak ikan-fresh)"
langsung gerakannya mulai pelan dan kemudian anteng dalam perut. Weleh-weleh, luar biasa ....

Selamat menikmati proses menjadi ibu, hal yang benar-benar luar biasa, fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban, Alhamdulillah .... :-)

Genggaman Terakhir

Ketika melahirkan nanti, keinginan terkuat saya hanya ingin didampingi oleh suami saya ....

teruntuk suamiku,
Jika nanti di saat melahirkan adalah terakhir kalinya kita dapat bergenggaman tangan, mohon dimaafkan setiap kesalahan sa, maafkan jika selama perjalanan waktu mendampingimu ternyata sa belum bisa menjadi istri yang sempurna, maafkan ....

teruntuk suamiku,
Jika saat melahirkan nanti merupakan genggaman terakhir kita, harapan sa jadilah selalu ayah yang memberikan teladan yang baik untuk anak kita, contoh keshalihan, pembimbing yang bersahabat bagi anak kita, didiklah ia seperti yang sering kita musyawarahkan bersama, semoga ia menjadi amal jariyyah bagi kita, Aamiin ....

teruntuk suamiku,
Jika saat dirimu menguatkan kala persalinan adalah genggaman terakhir kita, tolong jangan berhenti mendoakan sa, semoga Allah mengampuni dosa-dosa sa yang tak terhitung banyaknya ini. Semoga Allah mengasihi sa, jangan lupakan sa, jangan berkurang menyayangi sa meski jasad tak pernah bertemu lagi.

teruntuk suamiku,
Jika hari itu menjadi genggaman terakhir kita, sa ridha jika kelak dirimu hendak mencari ibu pengganti untuk anak kita. Hanya saja amanah sa, carilah ibu pengganti yang shalihah, yang dapat menyayangi anak kita dengan tulus layaknya ibu kandung, dan yang terpenting bermufakatlah bersamanya sebelum memutuskan semuanya.


I Love You because of Allah,

Istrimu, Sarah.

H- 2w

Tak terasa 36 minggu sudah dilalui. Ya, menurut prediksi dokter, insya Allah lebih kurang tiga minggu lagi saya akan melahirkan anak pertama kami. Moment USG kali ini benar-benar membuat saya ingin menangis. Bagaimana tidak, selama tujuh bulan kehamilan, baru di bulan kedelapan ini BB (Berat Badan) calon bayi kami berada di garis normal, 2,3kg. Setelah sebelumnya, selalu bobotnya berada lumayan jauh dari garis normal, kurang 400gr-600gr. Sedih sekali. Di bulan kedelapan ini pula, Alhamdulillah, posisi kepala bayi saya juga sudah berada di bawah, setelah sebelumnya selalu berada di atas, membuat saya khawatir tidak dapat melahirkan secara normal.

Tak terasa 36 minggu sudah saya menjalani kehamilan ini. Rasanya? Amazing. Haru, bahagia, semua campur aduk jadi satu. Kehamilan yang membuat saya semakin mencintai orang tua, suami, dan sahabat-sahabat saya. Bagaimana tidak, mereka selalu menguatkan saya "tak semua ibu hamil bisa jadi super women".

Seringkali saya stres ingin bekerja, ingin punya penghasilan agar tak memberatkan suami saya, agar dapat membantu keluarga saya. Selalu berusaha untuk kuat, hasilnya ... selalu berujung KO. Semakin saya memaksakan diri, semakin membuat kondisi saya lebih parah, ujung-ujungnya saya tambah stres. Merasa depresi sendiri dengan kondisi saya.

Sejak awal kehamilan, bisa dibilang saya selalu bedrest, terutama empat bulan pertama, dimana berat badan saya seharusnya bertambah, saya malah kehilangan bobot hingga sepuluh kilogram karena hiperemesis. Seharian hanya bisa menghabiskan segelas teh hangat. Tak lebih. Muntah dari pagi sampai malam, banyak bergerak sedikit langsung keluar flek, tak bisa duduk akhirnya hanya bisa berbaring. Bulan-bulan pertama kehamilan, saya tak lepas dari obat penguat kehamilan, obat anti kontraksi, dan obat-obat lain yang membuat saya semakin semaput rasanya.

Pernah di semester pertama kehamilan, saya mengikuti suami ke Jakarta untuk suatu keperluan, alhasil, saya pendarahan. Saat itu saya benar-benar takut. Takut kehilangan buah hati kami. Suami tak kalah cemas. Meski berusaha ditutupi, saya dapat melihat dengan jelas kecemasan di wajahnya, merasakan hal yang sama. Alhamdulillah, setelah mendengar detak jantung calon buah hati kami saat di RS, rasanya bahagia dan lega sekali. Subhanallah... itulah pertama kalinya saya dan suami mendengar detak jantungnya. Haru ....

Hingga minggu ke-36 kehamilan ini, tak cukup hanya rasa terima kasih yang dapat saya berikan untuk suami saya. Mengingat selama menjalani kehamilan pertama ini, bisa jadi beliau-lah yang paling lelah. Lelah mengurusi saya. T_T

Mengurus semua keperluan saya, mengambil alih semua tugas-tugas saya, mencuci, menyetrika, memasak, mencuci piring, menyapu, merawat saya, menyuapi saya, sampai membersihkan muntah saya yang kadang tak terkontrol hingga mengotori tempat tidur *nangis

Setiap pagi sebelum ke kantor, beliau selalu menyuapkan teh hangat sesendok demi sesendok untuk saya, menyiapkan biskuit dan teh hangat cadangan selama ia di kantor, meletakkan di sisi tempat tidur yang bisa tangan saya jangkau tanpa harus duduk. Setiap istirahat siang, ia menempuh jarak tak kurang dari setengah jam perjalanan dari kantor ke rumah hanya untuk menyuapi saya makan, membantu saya berwudhu, menyiapkan nasi dengan sayur bening, menyuapkan saya meski seringkali semua kembali termuntah setelah selesai makan. Pulang kantor pun, beliau masih mengurusi saya, membersihkan badan saya, menyalin pakaian, memijit kaki dan kepala saya agar saya merasa lebih enakan. Beliau juga men-downlod berbagai film animasi yang lucu-lucu agar saya tak bosan. Hampir sembilan bulan sudah beliau melakukan semua itu untuk saya.Fabbiayyi alaa irrabbikuma tukadziban, ucapan terima kasih sungguh tak cukup rasanya untuk beliau, suami saya .... T_T


Sejak memasuki semester kedua, jantung saya mulai sering sakit. Di bulan ke-tujuh kehamilan saya lalu, saat bobot bayi kami masih 1040gram, posisinya sudah turun ke pinggul, saya diharuskan bedrest, tidak boleh banyak bergerak, khawatir jika lahir prematur bobotnya masih terlalu kecil. Namun, suami saya selalu menyemangati, meyakinkan saya, kalau saya pasti kuat, saya pasti bisa melalui masa-masa kehamilan ini. Dan ia benar, setiap kali merasakan gerakan calon bayi kami, semakin aktif, membuat saya semakin kuat karena perasaan bahagia. Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban .... :')

Insya Allah, satu atau dua minggu lagi buah hati kami dijadwalkan lahir, semakin hari ada rasa semakin khawatir, apakah saya mampu melahirkan normal? Suami saya kembali tak pernah bosan dan lelah meyakinkan kalau saya pasti bisa, senantiasa memberikan afirmasi positif, berbicara pada calon bayi kami, meng-sugesti saya bahwa melahirkan adalah proses alami, saya pasti bisa melahirkan dengan nyaman, sehat. Insya Allah, Allahumma Aamiin .... :-)

Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban ... Sujud syukur saya telah Allah anugerahkan seorang suami yang luar biasa kesabaran dan lembut hatinya, memberi saya kesempatan untuk merasakan menjadi calon dan seorang ibu, Insya Allah ... semoga saya dapat menjaga amanah dan anugerah indah ini dalam koridor keridhaan-Nya, Allahumma Aamiin.



Kamis, 09 Mei 2013

Catatan Pernikahan II : Kumis Sepotong

Alkisah, kami- saya dan suami (cie) belum memiliki cermin meski sepotong kecil. Bagi saya, tiada masalah, toh sejak sebelum nikah saya memang jarang bercermin. Namun, hal itu ternyata menjadi masalah serius bagi suami saya yang hobi bercermin :D
Pasalnya, untuk mencabut kumisnya, cermin adalah salah satu benda yang sangat dibutuhkan.

Singkat cerita, di suatu sore, suami saya sudah sangat tidak nyaman dengan keadaan kumisnya yang semakin subur dan lebat, mungkin khawatir berubah menjadi hutan rimba hingga dapat mengurangi kecakapan dalam berkomunikasi jika kumis tumbuh sampai menutupi bibir seperti tirai (:D *sang istri ngebayangi jika kumis sepanjang tirai jendela) , padahal beliau salah satu frontliner di kantornya.

Akhirnya, beliau pun meminta saya untuk mencabut kumisnya pakai genset eh pingset.
"Hah? Pakai pingset? Kenapa ga dicukur aja?"

"Ga enak, nanti cepat panjang lagi, biasa dicabut"

Setelah negosiasi harga (lho?) Akhirnya saya dengan ikhlas serta berlapang dada mencabutkan timbunan kumis suami saya.

....
1
5
10
... dst
Selesai sudah sebelah bagian kumisnya saya cabut.
Ketika akan mulai mencabuti bagian yang sebelah lagi, tiba-tiba saya merasa sangat mual, lemas, pandangan berkunang-kunang, dan menghentikan pekerjaan mulia tersebut dengan terpaksa. Buru-buru baringan sebelum pingsan lagi.

Sampai keesokan pagi saya masih kurang sehat hingga belum dapat melanjutkan penyelesaian tugas mulia tersebut. Kebetulan itu hari sabtu, Suami tak kerja jadi masalah sepotong kumis yang belum dicabut itu bukan menjadi masalah serius. Namun, ternyata kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Menjelang siang, ibu mertua saya, meminta suami saya untuk pergi ke beberapa tempat. Suami pun segera pergi dengan motor. Point nya, beliau lupa dengan sepotong kumisnya yang masih utuh belum dicabut. Saya pun tak teringat dengan nasib kumisnya tersebut. Tidur.

Kira-kira setengah jam kemudian suami saya pulang, masuk kamar, membangunkan saya sambil memegang pingset. Dengan wajah penuh pengharapan, suami saya meminta saya menyelesaikan kumis yang sisa sepotong lagi itu. Saya belum sadar penuh, hingga saat saya benar-benar membuka mata dengan jelas, saya baru menyadari innocent sekali wajah suami saya dengan sepotong kumisnya, sebelah lebat sebelah bersih. Ternyata, orang-orang pada senyum-senyum melihatnya. Suamiku, maafkanlah .... *sungkem



Tulisan ini sudah atas persetujuan suami *istri baik :P

Catatan Pernikahan I : Menikah dengan orang yang dicintai atau mencintai orang yang menikahi?

"Kamu bahagia, Sa?" Tanya seorang sahabat pada obrolan santai kami saat sebulan usia pernikahan saya.

Saat itu, saya menjawab "Ya" dengan keyakinan ... jujur, belum 100%

"Apakah saya bahagia?" Hati kecil saya mengulang pertanyaan teman saya.

Sahabat saya tersebut, mungkin bukan tanpa alasan menanyakan hal tersebut, beliau tahu ... pernah ada kisah sendu, rindu, pilu, ragu beberapa waktu sebelum saya memutuskan untuk menikah. Sebuah langkah besar, kilat, dan tak terduga. Bahkan, bagi saya pribadi.

Hati kecil saya tak hanya sekali mengulang pertanyaan tentang kebahagiaan tersebut. Hingga hari ini, siang ini, jam dan menit serta detik ini, saya semakin mantap dengan jawaban betapa bahagianya saya. Bahagia menjadi seorang istri, menantu,ipar, dan bahaia sebagai calon ibu, insya Allah ....

Bagaimana bisa saya tidak bahagia memiliki seorang suami yang begitu sabar, menyayangi saya, dan menerima saya apa adanya. Begitu banyak kekurangan saya, keburukan, masa lalu yang ternyata tak seindah surga. Meyakinkan saya, bahwa hari ini dan selanjutnya adalah melangkah ke depan, bukan ke belakang. Menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi, insya Allah .... tak menuntut saya untuk bisa melakukan ini-itu, menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi sempurna. Meyakinkan saya,meski saya tak sempurna, saya tetap bidadarinya .... fabiayyi alaa irrabbikuma tukadzdziban .... lantas, adakah lagi alasan bagi saya untuk tak bahagia hidup bersamanya?