Ada kebiasaan yang tak berubah sejak Aisyah bayi mungil. Dilakukan bergantian bersama ayah dan atau bunda. Semakin menyenangkan sejak aisyah sudah mulai bisa berbicara dengan lebih jelas. Apakah itu? Mari intip di Asyiknya hobi Aisyah
Setiap malam, aisyah menyodorkan buku yang ingin dibacakan pada ayahnya. Yup! Hanya pada ayah. Kenapa? Karena malam adalah waktunya ayah yang membacakan. Ini seperti peraturan tak tertulis yang dibuatnya.
Akhir-akhir ini, ada beberapa buku yang aisyah sukaaa sekali. Mungkin sudah lebih 20 kali dibacakan dari masing-masing buku tersebut. Buku "Wooly" karya Aleen Amidjaja dan "Elliot" karya Andrea Beck.
Buku Seri Elliot
Sepanjang hari, hanya buku "Wooly" dan "Elliot" yang diminta untuk dibacakan. Sampai Aisyah sendiri hafal sama ceritanyaπ
.
Seminggu kemarin, ayah libur cuti bersama lebaran. Aisyah senang bukan main sepanjang hari bersama ayah. Bunda sampai dicuekinπ
. "Bunda bobo aja" alasannya. Bunda Aisyah mah senang, kapan lagiiiii? π
Pagi selesai mandi langsung minta dibacakan buku sama ayah.
Siang bangun tidur ajak ayah baca cerita.
Malam mau tidur tak bisa dilewatkan nempel sama ayah sambil pegang buku.
Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Beberapa bulan yang lalu, aisyah dapat hadiah majalah bobo dari acara seminar buku anak yang saya ikuti. Membuka majalah bobo, ia langsung suka dengan serial "Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang". Semingguan ini, berkat si Bona, Wooly dan Elliot jadi sedikit terabaikan π
. Berhubung di Jepara susah dapat majalah bobo, saya mencari majalah bobo bekas, mau langganan ternyata mahal, tiap ekslempar tambah ongkos kirim Rp. 4000,- karena kami tinggal di Jepara. Sedangkan bobo bekas harganya Rp. 4000,- per majalah, kondisinya juga masih lumayan bagus.
Lagi dan lagi, ayah jadi sandaran buat dibacakan di Bona ini. Enggak cukup sekali, aisyah bisa minta diulang-ulang. Bahkan pernah sampai 10x dibacakan terus menerus, sampai ayahnya ngantuk, hihihihi, yang sabar ya, Ayah .... π
Aisyah dan ayah seperti punya waktu khusus berdua yang terjadwal tanpa kami sadar sejak kapan. Tak hanya malam, weekend pagi juga mau sama ayah belajar sepeda atau sekedar jalan pagi. Pergi bersama ayah beli es krim atau hal-hal lain yang aisyah hanya ingin melakukannya dengan ayah. Kadang bunda sampai cemburu juga π. Namun, bunda bersyukur sekali dengan kedekatan aisyah dan ayahnya. Barakallah, ayah aisyah... sudah membentuk bonding yang sangat baik dengan aisyah. πππππ
Noted : Kegemaran aisyah membaca buku menjadikan bunda menjual buku anak secara online di instagram @aische_store dan offline di rumah. Mari mampir π
Sabtu, 23 Juli 2016
Kamis, 21 Juli 2016
Aisyah, si fotografer cilik (?)
Pada dasarnya, Aisyah suka difoto. Jika kamera hp sudah siap, aisyah akan langsung berpose sambil bilang "cheesse". Tak lupa senyum manis dan tangannya ikut bergaya.
Sejak aisyah diizinkan memegang hp bundanya, satu fitur yang paling ia suka adalah camera. Setelah itu, tentunya album foto untuk melihat hasil jepretan sampai tersenyum lebar.
Suka berkali-kali, icon(?)camera kami pindah, namun ia tetap dapat menemukannya. Langsung deh, jeprat jepret sampai banyak sekali.
Saya selalu perhatikan hasil jepretan aisyah. Sesekali saya memberi saran aka tips agar jepretannya lebih bagus. Misalnya, agar hasil fotonya tidak kabur, aisyah pegang hp-nya yabg kuat, jangan goyang. Kadang saya sarankan untuk ambil objek tertentu secara fokus atau lebih dekat. Hanya obrolan ringan, tapi sepertinya aisyah cukup paham. Hasil jepretannya sekarang, menurut saya, mulai fokus, tidak goyang atau kabur lagi. π
Berikut beberapa hasil jepretan aisyah dari waktu ke waktu.
Bukunya yang sedang dibaca(kan).
Hippo hasil aisyah belajar mewarnai pakai cat air yang di oven.
Biku "Wooly" favoritnya dan raket badminton sepulang temani ayah latihan.
Potongan puzzle dari buku kesukaannya.
Terakhir, saat saya sedang ingin foto mawar di depan rumah yang sedang mekar, aisyah ingin ikutan. Maka, inilah hasilnya :
Hasil jepretan bunda
Hasil jepretan aisyah.
Alhamdulillah, Barakallah.... π
Sejak aisyah diizinkan memegang hp bundanya, satu fitur yang paling ia suka adalah camera. Setelah itu, tentunya album foto untuk melihat hasil jepretan sampai tersenyum lebar.
Suka berkali-kali, icon(?)camera kami pindah, namun ia tetap dapat menemukannya. Langsung deh, jeprat jepret sampai banyak sekali.
Saya selalu perhatikan hasil jepretan aisyah. Sesekali saya memberi saran aka tips agar jepretannya lebih bagus. Misalnya, agar hasil fotonya tidak kabur, aisyah pegang hp-nya yabg kuat, jangan goyang. Kadang saya sarankan untuk ambil objek tertentu secara fokus atau lebih dekat. Hanya obrolan ringan, tapi sepertinya aisyah cukup paham. Hasil jepretannya sekarang, menurut saya, mulai fokus, tidak goyang atau kabur lagi. π
Berikut beberapa hasil jepretan aisyah dari waktu ke waktu.
Bukunya yang sedang dibaca(kan).
Hippo hasil aisyah belajar mewarnai pakai cat air yang di oven.
Biku "Wooly" favoritnya dan raket badminton sepulang temani ayah latihan.
Potongan puzzle dari buku kesukaannya.
Terakhir, saat saya sedang ingin foto mawar di depan rumah yang sedang mekar, aisyah ingin ikutan. Maka, inilah hasilnya :
Hasil jepretan bunda
Hasil jepretan aisyah.
Alhamdulillah, Barakallah.... π
Senin, 18 Juli 2016
Kopeng, Destinasi Asik Penghilang Lelah
Perjalanan ke Yogyakarta kali ini sebenarnya di luar rencana, mendadak, namun berakhir sangat menyenangkan, Alhamdulillah.
Ceritanya, suami ada acara pada jumat pagi di Kanwil Yogya. Berhubung sabtu dan minggu libur, jadilah tiba-tiba beliau mengajak anak dan istrinya ikut serta, setelah tidak jadi berangkat bareng teman kantornya. Berangkatlah kami kamis pagi menuju Yogyakarta.
Sebelum menuju hotel, kami mampir ke Candi Borobudur. Sudah janji dengan Aisyah untuk lihat salah satu keajaiban dunia yang ada di Indonesia ini. Ayah Aisyah terakhir ke Candi Borobudur waktu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Kebayang kan ya sudah berapa puluh tahun berlalu, apakah candi-nya masih sama seperti dulu? Hihihi, masihlaaaah. π
Berhubung cuacanya panas banget dan wisatawan yang berkunjung sangat ramai sampai naik tangga candi berjubel-jubel, akhirnya kami memutuskan untuk tidak naik sampai ke puncak. Selain itu juga, bunda aisyah sudah ngos-ngos-an menaiki anak tangga yang lebar-lebar itu (ini alasan sebenarnyaπ). Faktor U dan BB emang enggak bisa bohong. ππ
Selesai foto-foto kami langsung cuuus ke hotel sebab sudah di WA dengan atasan ayah aisyah menanyakan posisi kami. Inginnya bisa naik kereta keliling candi tapi bisa lain kali. Oya, aisyah sempat naik kuda sebentar. Ini event yang belum pernah ketinggalan setiap pergi ke tempat wisata yang menyediakan jasa naik kuda. π
Singkat cerita,dalam rangka penghematan tiga malam di Jogja dihabiskan Bunda dan Aisyah sebagian besar di hotel, cuma main ke rumah Tante Ani doang. Hari minggu pagi kami check out dari hotel karena paling telat Pkl.13.00WIB sudah harus sampai di Kendal, menghadiri acara resepsi pernikahan Om Jevita, teman kantor ayah aisyah.
Senangnya, perjalanan pulang kali ini, ayah aisyah lewati rute yang belum pernah kami lalui, Kopeng! Awalnya, Bunda tidur. Tiba-tiba terbangun dan langsung sumringah lihat buah, sayir, dan bunga-bunga cantik di sepanjang jalan.
Bunda Aisyah : "Itu dijual?
Ayah Aisyah : "Iya. Mau mampir?"
Bunda Aisyah : "Mauuu"
Ini jual bibit dan tanaman sayur dan buah
Ini bunga-bunga yang dijual Subhanallah indahnya.
Bunda Aisyah rasanya senaaaaaang banget. Sayurnya segar-segar, baru dipanen. Secara di Kopeng sepanjang perjalanan kiri-kanan kebun sayur, buah, dan bunga mawar. Selain itu, harga sayurnya jauuuuuuuh lebih murah dari beli di Jepara.
Salah satu tempat penjual sayur dan buah yang kami singgahi
Alhasil, Bunda Aisyah borong sayur. Brokoli sekilo Rp.8.000,- dapat 4 bongkol besar. Kalau di Jepara, setengah bongkol kecil aja sudah Rp.5.000,-. Beli tomat buah sekilo Rp.5.000,- lobak, wortel, kol ungu, sampai se-plastik gede sekalian buat oleh-oleh untuk tetangga habis Rp.55.000,- saja. Bayangkan kalau beli bakpia, habis ratusan ribu.
Kayak gini nih kalau emak-emak nulis tentang belanjaan, murah atau mahal pasti menggebu-gebu. ππ
Selain beli sayur dan buah, ayah dan bunda aisyah juga beli beberapa tanaman sayur, buah, dan bunga. Harganya Rp.2000,-/polybag. Tanamannya masih kecil-kecil banget, tapi kami bertekad untuk merawatnya dengan sepenuh hati. π
Sampai di rumah, saking semangatnya sampai lupa sama yang namanya capek. Bunda aisyah langsung bongkar belanjaan, bagi-bagi tetangga yang disambut dengan bahagia, Alhamdulillah. Kemudian, beresi tanaman. Bismillah, mini garden siap beroperasi di halaman rumah kami. Semoga tumbuh subur semuanya. Aamiin. π
Ceritanya, suami ada acara pada jumat pagi di Kanwil Yogya. Berhubung sabtu dan minggu libur, jadilah tiba-tiba beliau mengajak anak dan istrinya ikut serta, setelah tidak jadi berangkat bareng teman kantornya. Berangkatlah kami kamis pagi menuju Yogyakarta.
Sebelum menuju hotel, kami mampir ke Candi Borobudur. Sudah janji dengan Aisyah untuk lihat salah satu keajaiban dunia yang ada di Indonesia ini. Ayah Aisyah terakhir ke Candi Borobudur waktu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Kebayang kan ya sudah berapa puluh tahun berlalu, apakah candi-nya masih sama seperti dulu? Hihihi, masihlaaaah. π
Berhubung cuacanya panas banget dan wisatawan yang berkunjung sangat ramai sampai naik tangga candi berjubel-jubel, akhirnya kami memutuskan untuk tidak naik sampai ke puncak. Selain itu juga, bunda aisyah sudah ngos-ngos-an menaiki anak tangga yang lebar-lebar itu (ini alasan sebenarnyaπ). Faktor U dan BB emang enggak bisa bohong. ππ
Selesai foto-foto kami langsung cuuus ke hotel sebab sudah di WA dengan atasan ayah aisyah menanyakan posisi kami. Inginnya bisa naik kereta keliling candi tapi bisa lain kali. Oya, aisyah sempat naik kuda sebentar. Ini event yang belum pernah ketinggalan setiap pergi ke tempat wisata yang menyediakan jasa naik kuda. π
Singkat cerita,
Senangnya, perjalanan pulang kali ini, ayah aisyah lewati rute yang belum pernah kami lalui, Kopeng! Awalnya, Bunda tidur. Tiba-tiba terbangun dan langsung sumringah lihat buah, sayir, dan bunga-bunga cantik di sepanjang jalan.
Bunda Aisyah : "Itu dijual?
Ayah Aisyah : "Iya. Mau mampir?"
Bunda Aisyah : "Mauuu"
Ini jual bibit dan tanaman sayur dan buah
Ini bunga-bunga yang dijual Subhanallah indahnya.
Bunda Aisyah rasanya senaaaaaang banget. Sayurnya segar-segar, baru dipanen. Secara di Kopeng sepanjang perjalanan kiri-kanan kebun sayur, buah, dan bunga mawar. Selain itu, harga sayurnya jauuuuuuuh lebih murah dari beli di Jepara.
Salah satu tempat penjual sayur dan buah yang kami singgahi
Alhasil, Bunda Aisyah borong sayur. Brokoli sekilo Rp.8.000,- dapat 4 bongkol besar. Kalau di Jepara, setengah bongkol kecil aja sudah Rp.5.000,-. Beli tomat buah sekilo Rp.5.000,- lobak, wortel, kol ungu, sampai se-plastik gede sekalian buat oleh-oleh untuk tetangga habis Rp.55.000,- saja. Bayangkan kalau beli bakpia, habis ratusan ribu.
Kayak gini nih kalau emak-emak nulis tentang belanjaan, murah atau mahal pasti menggebu-gebu. ππ
Selain beli sayur dan buah, ayah dan bunda aisyah juga beli beberapa tanaman sayur, buah, dan bunga. Harganya Rp.2000,-/polybag. Tanamannya masih kecil-kecil banget, tapi kami bertekad untuk merawatnya dengan sepenuh hati. π
Sampai di rumah, saking semangatnya sampai lupa sama yang namanya capek. Bunda aisyah langsung bongkar belanjaan, bagi-bagi tetangga yang disambut dengan bahagia, Alhamdulillah. Kemudian, beresi tanaman. Bismillah, mini garden siap beroperasi di halaman rumah kami. Semoga tumbuh subur semuanya. Aamiin. π
Jumat, 08 Juli 2016
Piagam Pertama Aisyah
Seminggu terakhir bulan Ramadhan, Aisyah mengikuti kegiatan pesantren kilat yang diadakan di Islamic Centre Al-Mizan kompleks perumahan yang kami tempati sekarang.
Sebenarnya, pesantren kilat ini diperuntukkan untuk anak minimal usia 5 tahun, SD, dan SMP. Aisyah pastinya enggak masuk dalam persyaratan. Namun, setiap lewat IC aisyah ingin ikut, jadilah tiap pagi bunda dan aisyah ikut kegiatan pesantren kilat dan aisyah pun diizinkan mendaftar resmi.
Kegiatan pesantren kilat-nya cukup padat. Selain diajarkan dasar-dasar rukun islam dan rukun iman dalam bentuk cerita dan lagu, ada juga materi tentang nabi dan rasul yang dikemas dalam nonton bareng dan dialog antara anak dan ustad/ah sebagai pemateri. Materi lain yang disampaikan juga cukup menarik dengan tambahan kuis berhadiah. Aisyah mungkin belum terlalu paham dengan apa yang disampaikan, tapi ia terlihat cukup enjoy mengikuti kegiatan pesantren kilat sejak Pkl. 09.00 WIB hingga Pkl. 11.00 WIB.
Di hari terakhir kegiatan pesantren kilat ini, anak-anak praktek wudhu dan shalat di Mesjid Al Mizan tak jauh dari Islamic centre. Aisyah sudah ada seorang teman sebaya yang juga ikut. Namanya Shena. Rumahnya tak jauh dari tempat kami tinggal.
Selama praktek shalat, aisyah mengikuti dengan tenang. Begitu pula dengan Shena. Sampai ustadzah-nya foto-foto-in mereka sebagai peserta termuda dan sepertinya beliau gemas π
Di hari terakhir kegiatan pesantren kilat ini, ternyata anak-anak diberi penghargaan berupa piagam dan piala bagi 3 (tiga) peserta paling aktif selama kegiatan berlangsung. Selain itu, juga dibagikan snack untuk berbuka puasa. Alhamdulillah, aisyah senang sekali. Ketika namanya dipanggil untuk mengambil piagam, wajah aisyah terlihat sumringah dan berjalan cepat ke arah panitiaπ.
Sesampai di rumah, langsung menunjukkan pada ayah.
Alhamdulillah, ramadhan ini Aisyah sudah bisa mengaji dari "Alif" sampai "Ya". Hafal beberapa doa dan mulai QS. Al Fatihah. Semoga senantiasa shalihah dan menjadi Qurrata'ayyun bagi keluarga ya, Nak... lebih baik dari Bunda. Indah akhlak dan ibadah. Aamiin Allahumma Aamiin.
Alhamdulillah, barakallah.... π
Sebenarnya, pesantren kilat ini diperuntukkan untuk anak minimal usia 5 tahun, SD, dan SMP. Aisyah pastinya enggak masuk dalam persyaratan. Namun, setiap lewat IC aisyah ingin ikut, jadilah tiap pagi bunda dan aisyah ikut kegiatan pesantren kilat dan aisyah pun diizinkan mendaftar resmi.
Kegiatan pesantren kilat-nya cukup padat. Selain diajarkan dasar-dasar rukun islam dan rukun iman dalam bentuk cerita dan lagu, ada juga materi tentang nabi dan rasul yang dikemas dalam nonton bareng dan dialog antara anak dan ustad/ah sebagai pemateri. Materi lain yang disampaikan juga cukup menarik dengan tambahan kuis berhadiah. Aisyah mungkin belum terlalu paham dengan apa yang disampaikan, tapi ia terlihat cukup enjoy mengikuti kegiatan pesantren kilat sejak Pkl. 09.00 WIB hingga Pkl. 11.00 WIB.
Di hari terakhir kegiatan pesantren kilat ini, anak-anak praktek wudhu dan shalat di Mesjid Al Mizan tak jauh dari Islamic centre. Aisyah sudah ada seorang teman sebaya yang juga ikut. Namanya Shena. Rumahnya tak jauh dari tempat kami tinggal.
Selama praktek shalat, aisyah mengikuti dengan tenang. Begitu pula dengan Shena. Sampai ustadzah-nya foto-foto-in mereka sebagai peserta termuda dan sepertinya beliau gemas π
Di hari terakhir kegiatan pesantren kilat ini, ternyata anak-anak diberi penghargaan berupa piagam dan piala bagi 3 (tiga) peserta paling aktif selama kegiatan berlangsung. Selain itu, juga dibagikan snack untuk berbuka puasa. Alhamdulillah, aisyah senang sekali. Ketika namanya dipanggil untuk mengambil piagam, wajah aisyah terlihat sumringah dan berjalan cepat ke arah panitiaπ.
Sesampai di rumah, langsung menunjukkan pada ayah.
Alhamdulillah, ramadhan ini Aisyah sudah bisa mengaji dari "Alif" sampai "Ya". Hafal beberapa doa dan mulai QS. Al Fatihah. Semoga senantiasa shalihah dan menjadi Qurrata'ayyun bagi keluarga ya, Nak... lebih baik dari Bunda. Indah akhlak dan ibadah. Aamiin Allahumma Aamiin.
Alhamdulillah, barakallah.... π
Jumat, 08 Januari 2016
Pengalaman Pertama Aisyah ke Dokter Gigi
Pagi ini, Aisyah dan Bunda sudah bersiap. Kemarin bunda sudah request appointment di Alia Dental Care. Yup, aisyah akan melakukan kunjungan dokter gigi pertamanya. Aisyah dapat nomor antri pertama, Pkl. 08.00 wib Alhamdulillah.
Kami tiba di Alia Dental Care Pkl. 07.50 WIB dan dokter sampai Pkl. 08.00 WIB. Meski beliau tepat waktu, begitu melihat kehadiran kami, beliau mengatakan "Maaf, saya terlambat" sambil tersenyum. Kesan pertama yang menyenangkan. π
Setelah mendapatkan kesan pertama dari dokter yang menyenangkan, selanjutnya lebih menyenangkan, lho. Jam konsultasi pasien tidak dibatasi. Aisyah sendiri ditangani selama 2 jam.
2 jam? Enggak salah, nih? Kok, lama banget? Gigi Aisyah bermasalah? Perlu tindakan serius?
Alhamdulillah, no... no... no... Gigi aisyah sejauh ini masih baik-baik saja. Lha,terus ngapain aja dong sampai 2 jam baru kelar?
Prosesnya. Proses yang menyenangkan.
Awalnya, Bunda mengisi form yang berisi beberapa pertanyaan seputar aisyah sebagai pasien. Ini juga nanti jadi bahan konsultasi dan evaluasi untuk bunda dari dokternya.
Bertemu dokter, aisyah enggak langsung diajak ke ruangan dokter, tapi main dulu sama bunda dan Bu Dokter. Yup, di sini ada ruangan bermai yang asik banget. Ada boneka, mainan edukatif, sampai buku anak yang bikin betah lama-lama.
Salah satu sudut "ruang konsultasi" di Alia Dental Care
Aisyah asyik sama buku anak yang ada di ruang konsultasi.
Di ruangan ini, sambil bermain dokter melakukan pendekatan dengan anak. Aisyah diajak mengobrol, meski awalnya diam, akhirnya aisyah menanggapi.
"Aisyah suka makan kue" kata Aisyah
"Wah, kue-nya enak ya" sahut dokter
"Iya" jawab Aisyah
Setelah makan kue, aisyah diberi sikat gigi dan diajari menyikat gigi yang benar di gigi boneka dulu.
Aisyah ikut praktek sikat gigi boneka. Ini saat boneka belum mau didekati π
Setelah Aisyah enjoy dan merasa nyaman sama dokter, mulut aisyah uda mau dibuka dan giginya uda mau dilihat sama dokter, kemudian aisyah diajak jalan-jalan ke ruangan dokter yangbunda suka, bunda suka ciamik.
Saking bunda ikut asik ngobrol tapi konsultasi, sampai lupa foto waktu aisyah duduk di kursi periksaπ π.
Awalnya Kami heran, sudah 30 menit berlalu, kok pasiennya hanya Aisyah? Belakangan kami baru menggetahui, kalau pasien nomor antri selanjutnya akan dihubungi perawat saat pasien sebelumnya telah selesai. Jadi, begitu aisyah selesai, perawat langsung menghubungi pasien selanjutnya.
Alia Dental Care khusus menangani pasien anak dari usia 0 tahun sampai 12 tahun.
Dari sini, bunda tahu kalau dokter ingin memberikan kesan pertama yang baik terhadap kunjungan ke dokter gigi. Tidak menimbulkan trauma. Ke dokter gigi itu menyenangkan. Ke dokter itu tidak menakutkan. Menurut bunda, ini penting. Aisyah sampai enggak mau pulang, lho! Aisyah cerita ke ayah, kalau ia pergi ke dokter gigi, main, baca buku, sikat gigi boneka, bu dokter baik, aisyah senang, dan lain-lain. Saat ditanya, "aisyah nanti kita ke dokter gigi lagi, ya?" Langsung dijawab "Okey!" sama Aisyah. Alhamdulillah. π
Daaaaaaan, inilah dokter gigi pertama Aisyah yang baik dan menyenangkan.
drg. Ayu Alia Sp.KGA (Pediatric Dentist)
Kita juga bisa baca artikel seputar kesehatan gigi anak di blog https://aliadentalcare.wordpress.com/author/pediatricdentistbatam/
Kami tiba di Alia Dental Care Pkl. 07.50 WIB dan dokter sampai Pkl. 08.00 WIB. Meski beliau tepat waktu, begitu melihat kehadiran kami, beliau mengatakan "Maaf, saya terlambat" sambil tersenyum. Kesan pertama yang menyenangkan. π
Setelah mendapatkan kesan pertama dari dokter yang menyenangkan, selanjutnya lebih menyenangkan, lho. Jam konsultasi pasien tidak dibatasi. Aisyah sendiri ditangani selama 2 jam.
2 jam? Enggak salah, nih? Kok, lama banget? Gigi Aisyah bermasalah? Perlu tindakan serius?
Alhamdulillah, no... no... no... Gigi aisyah sejauh ini masih baik-baik saja. Lha,terus ngapain aja dong sampai 2 jam baru kelar?
Prosesnya. Proses yang menyenangkan.
Awalnya, Bunda mengisi form yang berisi beberapa pertanyaan seputar aisyah sebagai pasien. Ini juga nanti jadi bahan konsultasi dan evaluasi untuk bunda dari dokternya.
Bertemu dokter, aisyah enggak langsung diajak ke ruangan dokter, tapi main dulu sama bunda dan Bu Dokter. Yup, di sini ada ruangan bermai yang asik banget. Ada boneka, mainan edukatif, sampai buku anak yang bikin betah lama-lama.
Salah satu sudut "ruang konsultasi" di Alia Dental Care
Aisyah asyik sama buku anak yang ada di ruang konsultasi.
Di ruangan ini, sambil bermain dokter melakukan pendekatan dengan anak. Aisyah diajak mengobrol, meski awalnya diam, akhirnya aisyah menanggapi.
"Aisyah suka makan kue" kata Aisyah
"Wah, kue-nya enak ya" sahut dokter
"Iya" jawab Aisyah
Setelah makan kue, aisyah diberi sikat gigi dan diajari menyikat gigi yang benar di gigi boneka dulu.
Aisyah ikut praktek sikat gigi boneka. Ini saat boneka belum mau didekati π
Setelah Aisyah enjoy dan merasa nyaman sama dokter, mulut aisyah uda mau dibuka dan giginya uda mau dilihat sama dokter, kemudian aisyah diajak jalan-jalan ke ruangan dokter yang
Saking bunda ikut asik ngobrol tapi konsultasi, sampai lupa foto waktu aisyah duduk di kursi periksaπ π.
Awalnya Kami heran, sudah 30 menit berlalu, kok pasiennya hanya Aisyah? Belakangan kami baru menggetahui, kalau pasien nomor antri selanjutnya akan dihubungi perawat saat pasien sebelumnya telah selesai. Jadi, begitu aisyah selesai, perawat langsung menghubungi pasien selanjutnya.
Alia Dental Care khusus menangani pasien anak dari usia 0 tahun sampai 12 tahun.
Dari sini, bunda tahu kalau dokter ingin memberikan kesan pertama yang baik terhadap kunjungan ke dokter gigi. Tidak menimbulkan trauma. Ke dokter gigi itu menyenangkan. Ke dokter itu tidak menakutkan. Menurut bunda, ini penting. Aisyah sampai enggak mau pulang, lho! Aisyah cerita ke ayah, kalau ia pergi ke dokter gigi, main, baca buku, sikat gigi boneka, bu dokter baik, aisyah senang, dan lain-lain. Saat ditanya, "aisyah nanti kita ke dokter gigi lagi, ya?" Langsung dijawab "Okey!" sama Aisyah. Alhamdulillah. π
Daaaaaaan, inilah dokter gigi pertama Aisyah yang baik dan menyenangkan.
drg. Ayu Alia Sp.KGA (Pediatric Dentist)
Kita juga bisa baca artikel seputar kesehatan gigi anak di blog https://aliadentalcare.wordpress.com/author/pediatricdentistbatam/
Label:
Aku Kamu Kita,
Diantara Kita,
Kesehatan
Minggu, 06 Desember 2015
Ulah Segelintir Oknum Perawat Perusak Citra Profesinya
Saya menulis ini karena rasa frustasi menghadapi beberapa perawat di RSUD Embung Fatimah yang terletak di Jalan Letjen Soeprapto, Batu Aji, kota Batam, Kepri.
Semalam, tanggal 6 Desember 2015 sekitar Pkl.03.00wib dini hari, ayah kami sesak nafas dan harus segera dibawa ke RS. Beliau dilarikan ke RS. Awal Bros dan mendapatkan penanganan yang sangat baik. Sesuai petunjuk team dokter di Malaysia, jika terjadi sesuatu ayah harus segera dilarika ke RS terdekat dan kami harus membawa semua records ayah beserta obatnya untuk ditunjukkan ke dokter yang menangani agar tidak salah penanganan. Hal itu yang kami lakukan semalam, dan dokter di RS. AWAL BROS membenarkan terapy yang telah dijalani di Malaysia dan obat yang digunakan sudah sesuai termasuk dosisnya, tidak perlu diganti obat lain.
Masalah muncul ketika ayah harus dimasukkan ke ICU dan kami wajib deposit sejumlah 20 juta rupiah per malam. Kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan membuat kami memindahkan ayah ke RSUD Embung Fatimah dan menggunakan fasilitas BPJS.
Dokter co.ass ada melihat obat dari RS.MMC malaysia dan mengatakan bahwasanya obat tersebut sama dengan yang akan diresepkan hanya beda merk. SAMA. Jika sama buat apa menebus obat lain yang SAMA? Kemudian datang perawat sudah ibu-ibu keukeuh kalau ayah harus minum obat yang diresepkan di RSUD. Awalnya kami nego dan menjelaskan panjang lebar tentang sakit ayah dan yang disampaikan team dokternya, namun ibu perawat itu keukeuh ayah harus minum obat yang baru diresepkan.
Yang membuat saya emosi, beliau yang awalnya mengatakan ingin melihat obat ayah dari RS MMC ternyata malah MENAHAN OBAT tersebut. Berkali-kali kami meminta dikembalikan, perawat di sana keukeuh bilang nanti mereka mau tunjukka ke dokter spesialisnya, pakai acara bilang "kami di sini dokternya itu dokter widya, obat apa ini, dosisnya kok rendah kali?"
Kami masih bersabar menjelaskan mengapa obat untuk infeksi parunya kecil karena ayah punya masalah di ginjal, bla...bla...bla... tapi obat kami tetap TIDAK DIKEMBALIKAN. Kami di bulliying sama perawat-perawatnya dikata mereka orang kesehatan lebih tau, kami sok mengerti. Saya tambah murka rasanya disampaikan kalau dokter di Malaysia yang tangani ayah itu dokter abal-abal.
Helloooo, buat apa kami jauh-jauh bawa ke Malaysia kalau dokternya abal-abal? Buang uang banyak cuma buat dokter abal-abal, gitu? Belum tahu bagaimana dokter di sana bersedia tampung pakai tangan ludah dan dahak pasien sedangkan situ yang perawat, pegang aja ogah-ogahan?
Stres berdebat akhirnya saya menghubungi kantor perwakilan RS MMC Di Batam dan disambungkan ke Malaysia. Intinya, dengan kasus sakit yang diderita ayah saya obat untuk infeksi paru itu dan dosis tersebut yang paling minimal efek sampingnya terhadap ginjal ayah saya. Karena obat tersebut bukan dikeluarkan dan tidak dibeli di RS yang bersangkutan maka tidak berhak untuk ditahan.
Astaghfirullah, kalau enggak ingat anak saya lagi tidur, ingin rasanya saya meluapkan emosi saya. Perawat-perawat begini ini yang ngerusak citra perawat lain yang bagus-bagus.
Sekarang ayah saya di ICU RSUD Embung Fatimah Batam. Alhamdulillah, perawat di ruang ICU baik, tidak seperti di ruang rawat tadi.
sediiiih, melihat badan beliau banyak selang terpasang, Ya Allah... syafahullah syifaan la yughadiru badahu saqaman....
note: tulisan ini saya edit dari postingan awal karena pesan kakak saya untuk menghindari semua perasaan negatif. Astaghfirullah...
Semalam, tanggal 6 Desember 2015 sekitar Pkl.03.00wib dini hari, ayah kami sesak nafas dan harus segera dibawa ke RS. Beliau dilarikan ke RS. Awal Bros dan mendapatkan penanganan yang sangat baik. Sesuai petunjuk team dokter di Malaysia, jika terjadi sesuatu ayah harus segera dilarika ke RS terdekat dan kami harus membawa semua records ayah beserta obatnya untuk ditunjukkan ke dokter yang menangani agar tidak salah penanganan. Hal itu yang kami lakukan semalam, dan dokter di RS. AWAL BROS membenarkan terapy yang telah dijalani di Malaysia dan obat yang digunakan sudah sesuai termasuk dosisnya, tidak perlu diganti obat lain.
Masalah muncul ketika ayah harus dimasukkan ke ICU dan kami wajib deposit sejumlah 20 juta rupiah per malam. Kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan membuat kami memindahkan ayah ke RSUD Embung Fatimah dan menggunakan fasilitas BPJS.
Dokter co.ass ada melihat obat dari RS.MMC malaysia dan mengatakan bahwasanya obat tersebut sama dengan yang akan diresepkan hanya beda merk. SAMA. Jika sama buat apa menebus obat lain yang SAMA? Kemudian datang perawat sudah ibu-ibu keukeuh kalau ayah harus minum obat yang diresepkan di RSUD. Awalnya kami nego dan menjelaskan panjang lebar tentang sakit ayah dan yang disampaikan team dokternya, namun ibu perawat itu keukeuh ayah harus minum obat yang baru diresepkan.
Yang membuat saya emosi, beliau yang awalnya mengatakan ingin melihat obat ayah dari RS MMC ternyata malah MENAHAN OBAT tersebut. Berkali-kali kami meminta dikembalikan, perawat di sana keukeuh bilang nanti mereka mau tunjukka ke dokter spesialisnya, pakai acara bilang "kami di sini dokternya itu dokter widya, obat apa ini, dosisnya kok rendah kali?"
Kami masih bersabar menjelaskan mengapa obat untuk infeksi parunya kecil karena ayah punya masalah di ginjal, bla...bla...bla... tapi obat kami tetap TIDAK DIKEMBALIKAN. Kami di bulliying sama perawat-perawatnya dikata mereka orang kesehatan lebih tau, kami sok mengerti. Saya tambah murka rasanya disampaikan kalau dokter di Malaysia yang tangani ayah itu dokter abal-abal.
Helloooo, buat apa kami jauh-jauh bawa ke Malaysia kalau dokternya abal-abal? Buang uang banyak cuma buat dokter abal-abal, gitu? Belum tahu bagaimana dokter di sana bersedia tampung pakai tangan ludah dan dahak pasien sedangkan situ yang perawat, pegang aja ogah-ogahan?
Stres berdebat akhirnya saya menghubungi kantor perwakilan RS MMC Di Batam dan disambungkan ke Malaysia. Intinya, dengan kasus sakit yang diderita ayah saya obat untuk infeksi paru itu dan dosis tersebut yang paling minimal efek sampingnya terhadap ginjal ayah saya. Karena obat tersebut bukan dikeluarkan dan tidak dibeli di RS yang bersangkutan maka tidak berhak untuk ditahan.
Astaghfirullah, kalau enggak ingat anak saya lagi tidur, ingin rasanya saya meluapkan emosi saya. Perawat-perawat begini ini yang ngerusak citra perawat lain yang bagus-bagus.
Sekarang ayah saya di ICU RSUD Embung Fatimah Batam. Alhamdulillah, perawat di ruang ICU baik, tidak seperti di ruang rawat tadi.
sediiiih, melihat badan beliau banyak selang terpasang, Ya Allah... syafahullah syifaan la yughadiru badahu saqaman....
note: tulisan ini saya edit dari postingan awal karena pesan kakak saya untuk menghindari semua perasaan negatif. Astaghfirullah...
Jumat, 04 Desember 2015
Penyakit Ginjal itu Menggerogoti Tubuh Ayah
Ayah kami saat ini berusia 63 tahun. Enam bulan yang lalu, beliau sosok yang masih sangat sehat di usianya yang senja. Masih bekerja normal, main dengan Aisyah-putri saya, mengajak jalan-jalan, bercerita, mengurus tanaman, hingga beres-beres di rumah. Yup! Beliau tipikal yang rajin melakukan ini itu.
Di minggu pertama bulan puasa lalu semua bermula. Beliau diare cukup parah karena makan rujak yang biasa beliau makan. Kondisi yang sangat lemah karena diare terus, akhirnya beliau dibawa ke IGD RS Budi Kemuliaan, Batam. Sesampai di IGD beliau langsung diinfus sebotol dan dibotol infus dimasukkan obat tiga ampul yangsialnya kami tak satu pun perhatikan nama obat itu.
Setelah infus botol pertama habis, ayah sudah merasa kuat dan minta pulang, namun oleh perawat saat itu tidak diijinkan karena harus tambah satu botol infus lagi. Ayah akhirnya menurut. Belum sampai botol infus kedua habis, seluruh badan ayah bengkak, mulai dari wajah hingga telapak kaki, ayah yang kurus menjadi gemuk. Ayah memaksa untuk dilepas infusnya, perawat menolak. Ayah sampaikan, bahwa ia merasa badannya sudah tidak fine. "kita kanbisa merasa bagaimana badan kita sendiri". Akhirnya, berkali-kali memaksa, perawat membuka infusnya. Di sini, sedih dan kecewa, dokter jaga sama sekali tidak melihat ayah saya. Sampai kami mengunjungi ke mejanya, menanyakan kenapa bisa bengkak, dokter menjawab "mungkin ada kelainan ginjal". Diminta check darah. Okey, saatitu juga ayah check darah. Kecewa kedua, ternyata itu hanya check darah secara umum, bukan check darah seperti yang pernah saya lakukan di semarang saat mengecek kondisi ginjal saya. Kemudian ayah saya disuruh pulang dengan biaya IGD satu malam sampai sejuta sekian.
Selanjutnya beliau dibawa ke Malaysia untuk general check up. Hasilnya, seluruh tubuh beliau sampai paru-paru sudah penuh dengan air,hasil rontgen, darah, dan lain-lain, semua bagus, fungsi organ laim bagus kecuali ginjal. Beliau di terapy, rawat jalan, control dua minggu sekali, Alhamdulillah, kondisi berangsur membaik, terlihat beliau makin sehat, kuat, mandiri. Beberapa kali kontrol, karena faktor usia, dokter menyarankan untuk operasi ginjal, membuang endapan di ginjal beliau. Balik control dan jadwal operasi sebulan lagi. Sebulan di rumah, seperti yang sudah-sudah, semua asupan beliau sangat dijaga oleh ibu. Semangat sembuh beliau juga kuat sekali. Dari awalnya cuma makan bubur, sudah mulai bisa maka nasi, walaupun semua masakan tanpa garam, masakan ibu tetap terasa enak. Sampai, tiba-tiba dua minggu jelang jadwal control kemarin, ayah batuk, diikuti radang tenggorokan, dan sariawan. Beliau jadi susah makan atau minum. Sakit saat mengunyah, ibu buat bubur lagi, sulit menelan karena radangnya, beliau jadi kurus sekali, terutama karena bengkak di badan sudah kempes, ditambah tidak bisa makan, lemas, kurus sekali. :'(
Batuk dan teman-temannya ini menjadi masalah serius bagi kesehatan beliau. Terlalu lemah membuat beliau butuh bantuan untuk berdiri, berjalam, hingga akhirnya beliau dibantu kursi roda untuk kemana-mana.
30 November 2015 kemarin, ayah dibawa ke Malaysia sesuai jadwal control dan persiapan operasi ginjalnya. Perjalanan yang cukup panjang dari Batam ke Malaka (ayah dirawat di RS MMC) benar-benar menguras tenaganya. Ingin menangis rasanya melihat beliau berusaha bertahan dari Pkl. 07.00 wib pagi sampai Pkl.17.00 sore dalam perjalanan, berpuasa karena harus kembali check darah, dan lain-lain yang mengharuskan beliau puasa dari malam, antrian di dokter konsulen, hingga masuk ke ruang rawat inap benar-benar membuat kondisinya sangat buruk. Malamnya, ayah harus dipindah ke ruangan sendiri karena kondisi beliau.
Keesokan paginya, dokter memanggil ibu dan adik, pendamping ayah, untuk berbicara. Dokter menyampaikan, kalau harapan ayah sedikit, sebaiknya dibawa pulang saja, karena faktor usia dan hasil rontgen paru-paru ayah sudah infeksi. Operasi tidak bisa dilakukan karena kondisi beliau sangat lemah. Dan intinya, dokter uda "angkat tangan", bukan masalah biaya, bla...bla...tapi kalau pun dirawat di RS hanya bisa "sekedarnya". Keluarga diminta bersiap-siap dengan kondisi terburuk. Dokter khawatir, jika lama di RS, kondisi ayah tidak memungkinkan lagi untuk dibawa pulang ke Batam.
Hopeless dengar penjelasan dokter, adik telepon saya, ibu tidak menyampaikan pada ayah apa yang disampaikan dokter karena semangat ayah tinggi sekali untuk sembuh. Ibu berusaha sebiasa mungkin depan ayah. Adik juga. Saya diminta datang karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kondisi ayah naik-turun. Berbagai alat dan selang mulai dipasang di tubuh beliau. Adik selalu mengabari via WA. Mohon doa, ayah bisa melewati masa kritisnya, mampu bertahan.
Hari ketiga di RS, dokter visite terkejut dengan kondisi ayah. Tekanan darah normal, nafas teratur, wajah cerah, dan semangat ayah untuk sembuh jelas sekali terlihat. Beberapa waktu kemudian, team dokter datang (ayah ditangani oleh beberapa dokter spesialis), menyampaikan kalau ayah disarankan menginap beberapa malam lagi karena telah menemukan solusi cara mengobati ayah, walaupun faktor umur dan kondisi terlihat tidak, tapi team dokter melihat semangat ayah untuk sembuh sangat tinggi.
Masalahnya sekarang, ayah yang berkali-kali minta pulang karena selang-selang di badannya membuat tidak nyaman, terutama kateter, jadi susah sholat, di rumah lebih nyaman. Deg! Langsung perasaan tidak enak menyergap. Dengan berbagai musyawarah, akhirnya ayah diizinkan pulang, dokter beri surat pengantar dan semua records ayah, jika terjadi apa-apa, segera bawa ke Rumah Sakit terdekat. Tunjukkan records agar tidak salah tindakan.
Utama menurun drastisnya kondisi ayah bukan karena ginjalnya, tapi infeksi parunya dan itu yang harus lebih dahulu disembuhkan. Finally, ayah dibawa pulang ke Batam.
Di rumah, kondisi beliau tidak lebih baik. Sedih, sedih,sangat sedih sekali melihat beliau. Sangat lemah dan kurus. Bahkan untuk menopang badan beliau saja, beliau tidak mampu. Duduk tak berapa lama, beliau ambruk, dan kami membantu beliau untuk perbaiki posisi jadi rebahan. Kulit beliau putiiih karena terkelupas, karena lemak/dagingnya bisa dibilang kayak enggak ada lagi. Bibir beliau seperti orang habis makan sirih atau minum fanta saking merah sekali karena sariawan besar-besar. Setiap sholat beliau tertidur. Ingin menangis rasanya setiap melihat ayah. Ketika salin pakaian beliau, saya terkejut ketika membalikkan beliau, kulit beliau kering terkelupas, tulang ekor menonjol saking kurusnya, sedih sekali. Berusaha sekuat mungkin untuk bersikap sebiasa mungkin.
Sudah dua hari ini beliau kesulitan untuk makan dan minum karena tenggorokannya radang, kami memasakkan bubur seperti MPASI dan kemudian buburnya diblender agar lebih mudah beliau makan. Sedih sekali melihat kondisi beliau.
Saat ini, dengan kerendahan hati, kami memohon siapa pun yang membaca ini, sungguh mohon doa bagi ayah kami Sugiono Salleh, agar Allah beri kekuatan, kemampuan, kesembuhan dan kesehatan. Senantiasa Allah ringankan lisannya untuk berdzikir dan menyebut asma Allah, senantiasa berada dalam kondisi iman terbaik. Sungguh mohon doanya. Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman dengan kebaikan yang lebih baik. Allahumma Aamiin.
Jazakumullah khair....
Di minggu pertama bulan puasa lalu semua bermula. Beliau diare cukup parah karena makan rujak yang biasa beliau makan. Kondisi yang sangat lemah karena diare terus, akhirnya beliau dibawa ke IGD RS Budi Kemuliaan, Batam. Sesampai di IGD beliau langsung diinfus sebotol dan dibotol infus dimasukkan obat tiga ampul yang
Setelah infus botol pertama habis, ayah sudah merasa kuat dan minta pulang, namun oleh perawat saat itu tidak diijinkan karena harus tambah satu botol infus lagi. Ayah akhirnya menurut. Belum sampai botol infus kedua habis, seluruh badan ayah bengkak, mulai dari wajah hingga telapak kaki, ayah yang kurus menjadi gemuk. Ayah memaksa untuk dilepas infusnya, perawat menolak. Ayah sampaikan, bahwa ia merasa badannya sudah tidak fine. "kita kanbisa merasa bagaimana badan kita sendiri". Akhirnya, berkali-kali memaksa, perawat membuka infusnya. Di sini, sedih dan kecewa, dokter jaga sama sekali tidak melihat ayah saya. Sampai kami mengunjungi ke mejanya, menanyakan kenapa bisa bengkak, dokter menjawab "mungkin ada kelainan ginjal". Diminta check darah. Okey, saatitu juga ayah check darah. Kecewa kedua, ternyata itu hanya check darah secara umum, bukan check darah seperti yang pernah saya lakukan di semarang saat mengecek kondisi ginjal saya. Kemudian ayah saya disuruh pulang dengan biaya IGD satu malam sampai sejuta sekian.
Selanjutnya beliau dibawa ke Malaysia untuk general check up. Hasilnya, seluruh tubuh beliau sampai paru-paru sudah penuh dengan air,hasil rontgen, darah, dan lain-lain, semua bagus, fungsi organ laim bagus kecuali ginjal. Beliau di terapy, rawat jalan, control dua minggu sekali, Alhamdulillah, kondisi berangsur membaik, terlihat beliau makin sehat, kuat, mandiri. Beberapa kali kontrol, karena faktor usia, dokter menyarankan untuk operasi ginjal, membuang endapan di ginjal beliau. Balik control dan jadwal operasi sebulan lagi. Sebulan di rumah, seperti yang sudah-sudah, semua asupan beliau sangat dijaga oleh ibu. Semangat sembuh beliau juga kuat sekali. Dari awalnya cuma makan bubur, sudah mulai bisa maka nasi, walaupun semua masakan tanpa garam, masakan ibu tetap terasa enak. Sampai, tiba-tiba dua minggu jelang jadwal control kemarin, ayah batuk, diikuti radang tenggorokan, dan sariawan. Beliau jadi susah makan atau minum. Sakit saat mengunyah, ibu buat bubur lagi, sulit menelan karena radangnya, beliau jadi kurus sekali, terutama karena bengkak di badan sudah kempes, ditambah tidak bisa makan, lemas, kurus sekali. :'(
Batuk dan teman-temannya ini menjadi masalah serius bagi kesehatan beliau. Terlalu lemah membuat beliau butuh bantuan untuk berdiri, berjalam, hingga akhirnya beliau dibantu kursi roda untuk kemana-mana.
30 November 2015 kemarin, ayah dibawa ke Malaysia sesuai jadwal control dan persiapan operasi ginjalnya. Perjalanan yang cukup panjang dari Batam ke Malaka (ayah dirawat di RS MMC) benar-benar menguras tenaganya. Ingin menangis rasanya melihat beliau berusaha bertahan dari Pkl. 07.00 wib pagi sampai Pkl.17.00 sore dalam perjalanan, berpuasa karena harus kembali check darah, dan lain-lain yang mengharuskan beliau puasa dari malam, antrian di dokter konsulen, hingga masuk ke ruang rawat inap benar-benar membuat kondisinya sangat buruk. Malamnya, ayah harus dipindah ke ruangan sendiri karena kondisi beliau.
Keesokan paginya, dokter memanggil ibu dan adik, pendamping ayah, untuk berbicara. Dokter menyampaikan, kalau harapan ayah sedikit, sebaiknya dibawa pulang saja, karena faktor usia dan hasil rontgen paru-paru ayah sudah infeksi. Operasi tidak bisa dilakukan karena kondisi beliau sangat lemah. Dan intinya, dokter uda "angkat tangan", bukan masalah biaya, bla...bla...tapi kalau pun dirawat di RS hanya bisa "sekedarnya". Keluarga diminta bersiap-siap dengan kondisi terburuk. Dokter khawatir, jika lama di RS, kondisi ayah tidak memungkinkan lagi untuk dibawa pulang ke Batam.
Hopeless dengar penjelasan dokter, adik telepon saya, ibu tidak menyampaikan pada ayah apa yang disampaikan dokter karena semangat ayah tinggi sekali untuk sembuh. Ibu berusaha sebiasa mungkin depan ayah. Adik juga. Saya diminta datang karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kondisi ayah naik-turun. Berbagai alat dan selang mulai dipasang di tubuh beliau. Adik selalu mengabari via WA. Mohon doa, ayah bisa melewati masa kritisnya, mampu bertahan.
Hari ketiga di RS, dokter visite terkejut dengan kondisi ayah. Tekanan darah normal, nafas teratur, wajah cerah, dan semangat ayah untuk sembuh jelas sekali terlihat. Beberapa waktu kemudian, team dokter datang (ayah ditangani oleh beberapa dokter spesialis), menyampaikan kalau ayah disarankan menginap beberapa malam lagi karena telah menemukan solusi cara mengobati ayah, walaupun faktor umur dan kondisi terlihat tidak, tapi team dokter melihat semangat ayah untuk sembuh sangat tinggi.
Masalahnya sekarang, ayah yang berkali-kali minta pulang karena selang-selang di badannya membuat tidak nyaman, terutama kateter, jadi susah sholat, di rumah lebih nyaman. Deg! Langsung perasaan tidak enak menyergap. Dengan berbagai musyawarah, akhirnya ayah diizinkan pulang, dokter beri surat pengantar dan semua records ayah, jika terjadi apa-apa, segera bawa ke Rumah Sakit terdekat. Tunjukkan records agar tidak salah tindakan.
Utama menurun drastisnya kondisi ayah bukan karena ginjalnya, tapi infeksi parunya dan itu yang harus lebih dahulu disembuhkan. Finally, ayah dibawa pulang ke Batam.
Di rumah, kondisi beliau tidak lebih baik. Sedih, sedih,sangat sedih sekali melihat beliau. Sangat lemah dan kurus. Bahkan untuk menopang badan beliau saja, beliau tidak mampu. Duduk tak berapa lama, beliau ambruk, dan kami membantu beliau untuk perbaiki posisi jadi rebahan. Kulit beliau putiiih karena terkelupas, karena lemak/dagingnya bisa dibilang kayak enggak ada lagi. Bibir beliau seperti orang habis makan sirih atau minum fanta saking merah sekali karena sariawan besar-besar. Setiap sholat beliau tertidur. Ingin menangis rasanya setiap melihat ayah. Ketika salin pakaian beliau, saya terkejut ketika membalikkan beliau, kulit beliau kering terkelupas, tulang ekor menonjol saking kurusnya, sedih sekali. Berusaha sekuat mungkin untuk bersikap sebiasa mungkin.
Sudah dua hari ini beliau kesulitan untuk makan dan minum karena tenggorokannya radang, kami memasakkan bubur seperti MPASI dan kemudian buburnya diblender agar lebih mudah beliau makan. Sedih sekali melihat kondisi beliau.
Saat ini, dengan kerendahan hati, kami memohon siapa pun yang membaca ini, sungguh mohon doa bagi ayah kami Sugiono Salleh, agar Allah beri kekuatan, kemampuan, kesembuhan dan kesehatan. Senantiasa Allah ringankan lisannya untuk berdzikir dan menyebut asma Allah, senantiasa berada dalam kondisi iman terbaik. Sungguh mohon doanya. Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman dengan kebaikan yang lebih baik. Allahumma Aamiin.
Jazakumullah khair....
Langganan:
Postingan (Atom)




























