Kamis, 09 Mei 2013

Catatan Pernikahan II : Kumis Sepotong

Alkisah, kami- saya dan suami (cie) belum memiliki cermin meski sepotong kecil. Bagi saya, tiada masalah, toh sejak sebelum nikah saya memang jarang bercermin. Namun, hal itu ternyata menjadi masalah serius bagi suami saya yang hobi bercermin :D
Pasalnya, untuk mencabut kumisnya, cermin adalah salah satu benda yang sangat dibutuhkan.

Singkat cerita, di suatu sore, suami saya sudah sangat tidak nyaman dengan keadaan kumisnya yang semakin subur dan lebat, mungkin khawatir berubah menjadi hutan rimba hingga dapat mengurangi kecakapan dalam berkomunikasi jika kumis tumbuh sampai menutupi bibir seperti tirai (:D *sang istri ngebayangi jika kumis sepanjang tirai jendela) , padahal beliau salah satu frontliner di kantornya.

Akhirnya, beliau pun meminta saya untuk mencabut kumisnya pakai genset eh pingset.
"Hah? Pakai pingset? Kenapa ga dicukur aja?"

"Ga enak, nanti cepat panjang lagi, biasa dicabut"

Setelah negosiasi harga (lho?) Akhirnya saya dengan ikhlas serta berlapang dada mencabutkan timbunan kumis suami saya.

....
1
5
10
... dst
Selesai sudah sebelah bagian kumisnya saya cabut.
Ketika akan mulai mencabuti bagian yang sebelah lagi, tiba-tiba saya merasa sangat mual, lemas, pandangan berkunang-kunang, dan menghentikan pekerjaan mulia tersebut dengan terpaksa. Buru-buru baringan sebelum pingsan lagi.

Sampai keesokan pagi saya masih kurang sehat hingga belum dapat melanjutkan penyelesaian tugas mulia tersebut. Kebetulan itu hari sabtu, Suami tak kerja jadi masalah sepotong kumis yang belum dicabut itu bukan menjadi masalah serius. Namun, ternyata kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Menjelang siang, ibu mertua saya, meminta suami saya untuk pergi ke beberapa tempat. Suami pun segera pergi dengan motor. Point nya, beliau lupa dengan sepotong kumisnya yang masih utuh belum dicabut. Saya pun tak teringat dengan nasib kumisnya tersebut. Tidur.

Kira-kira setengah jam kemudian suami saya pulang, masuk kamar, membangunkan saya sambil memegang pingset. Dengan wajah penuh pengharapan, suami saya meminta saya menyelesaikan kumis yang sisa sepotong lagi itu. Saya belum sadar penuh, hingga saat saya benar-benar membuka mata dengan jelas, saya baru menyadari innocent sekali wajah suami saya dengan sepotong kumisnya, sebelah lebat sebelah bersih. Ternyata, orang-orang pada senyum-senyum melihatnya. Suamiku, maafkanlah .... *sungkem



Tulisan ini sudah atas persetujuan suami *istri baik :P

Catatan Pernikahan I : Menikah dengan orang yang dicintai atau mencintai orang yang menikahi?

"Kamu bahagia, Sa?" Tanya seorang sahabat pada obrolan santai kami saat sebulan usia pernikahan saya.

Saat itu, saya menjawab "Ya" dengan keyakinan ... jujur, belum 100%

"Apakah saya bahagia?" Hati kecil saya mengulang pertanyaan teman saya.

Sahabat saya tersebut, mungkin bukan tanpa alasan menanyakan hal tersebut, beliau tahu ... pernah ada kisah sendu, rindu, pilu, ragu beberapa waktu sebelum saya memutuskan untuk menikah. Sebuah langkah besar, kilat, dan tak terduga. Bahkan, bagi saya pribadi.

Hati kecil saya tak hanya sekali mengulang pertanyaan tentang kebahagiaan tersebut. Hingga hari ini, siang ini, jam dan menit serta detik ini, saya semakin mantap dengan jawaban betapa bahagianya saya. Bahagia menjadi seorang istri, menantu,ipar, dan bahaia sebagai calon ibu, insya Allah ....

Bagaimana bisa saya tidak bahagia memiliki seorang suami yang begitu sabar, menyayangi saya, dan menerima saya apa adanya. Begitu banyak kekurangan saya, keburukan, masa lalu yang ternyata tak seindah surga. Meyakinkan saya, bahwa hari ini dan selanjutnya adalah melangkah ke depan, bukan ke belakang. Menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi, insya Allah .... tak menuntut saya untuk bisa melakukan ini-itu, menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi sempurna. Meyakinkan saya,meski saya tak sempurna, saya tetap bidadarinya .... fabiayyi alaa irrabbikuma tukadzdziban .... lantas, adakah lagi alasan bagi saya untuk tak bahagia hidup bersamanya?

Jumat, 08 Juni 2012

Event : Aceh Menulis

Dear, para ibu dan guru,calon ayah bunda, teman-teman mahasiswa, adik-adik pelajar, dan para ananda sekalian.. insya Allah, pada tanggal 16-17 Juni 2012, FLP (Forum Lingkar Pena), PIPEBI (Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia), dan IWABA (Ikatan Wanita Bank)akan mengadakan event ACEH MENULIS di Auditorium Bank Indonesia Banda Aceh yang berisi berbagai rangkaian acara istimewa, apa sajakah?

Rangkaian Acara :
1. Lomba menulis cerpen untuk tingkat SD kelas 4-6 dan SMP
2. Workshop menulis cerpen untuk tingkat SD kelas 4-6 dan SMP
3. Workshop menulis pictorial book untuk para ibu dan guru, mahasiswa/i, dan umum
4. Lomba mewarnai untuk anak usia 5-7 tahun
5. Lomba menggambar dengan latar Bank Indonesia untuk anak usia 8-12 tahun
6. Bazar buku, dan bazar lainnya

PERSYARATAN TEKNIS LOMBA MENULIS CERPEN
• Peserta yang mengikuti lomba menulis cerpen telah terdaftar sebagai peserta workshop menulis cerpen dengan membayar Rp50.000
• Peserta terbagi dua kategori; A: Kelas 4-6 SD
B: SMP
• Tema tulisan
a. Kategori A
– Peserta boleh memilih membuat cerita tentang segala hal yang disukai tentang Aceh, misalnya makanan kesukaan, wisata favorit yang oernah dikunjungi, tarian Aceh, pengalaman menjasi anak Aceh, atau apapun hal-hal yang dialami selama tinggal di Aceh.
- Peserta boleh membuat cerita tentang ayah bunda.

b. Kategori B
- Persahabatan
- Petualangan
*Lebih disukai cerita yang mengandung unsur kekhasan Aceh

Workshop anak akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Sabtu/16 Juni 2012
Waktu : Pukul 13.30-17.00WIB
Tempat : Auditorium Bank Indonesia
Pembicara : Ali Muakhir, penulis cerita anak. Pemegang rekor MURI dan peraih penghargaan IKAPI sebagai penulis paling produktif.

• Cerita boleh ditulis tangan ataupun diketik sebanyak 2-3 halaman A4
• Spesifikasi teknis pengetikan
- Huruf Times New Roman 12, spasi 1,5
- Panjang halaman 2-3 halaman kertas A4
- Sertakan nama, judul, dan kategori lomba.
• Karya dikirimkan paling telat tanggal 12 Juni 2012, diserahkan ke;
- TB PARAMITHA, jala Twk. Hasyim Banta Muda (jalan SMA 2- Depan Dinas Kebersihan), Kampung Mulia, Banda Aceh.
- Woroeng Multimedia, jalan T. Nyak Arief, Lorong PBB no. 3 & 5, Belakang BRI Darussalam, Banda Aceh.
- E-mail : aceh.menulis@gmail.com

- Hadiah lomba:
- Pemenang 1-6 akan mendapatkan trophy ,tabungan, paket buku keren dan my first Al-Qur’an. Lima belas cerpen terbaik berpeluang untuk dibukukan.


PERSYARATAN LOMBA MEWARNAI PICKBOOK DAN MENGGAMBAR
• Peserta lomba mewarnai pickbook adalah anak usia 5-7 tahun
• Peserta lomba menggambar adalah anak usia 8-12 tahun
• Membayar uang pendaftaran sebesar Rp15.000
• Membawa sendiri meja, crayon, dan alat gambar lain.
• Kertas gambar disediakan oleh panitia.
• Tema lomba menggambar merupakan suasana dan harus menyertakan gamabr gedung Bank Indonesia

• Lomba mewarnai diadakan pada:
Hari/tanggal : Sabtu/16 Juni 2012
Tempat : Gedung Bank Indonesia
Waktu : pukul 11.30-13.30WIB

• Lomba menggambar diadakan pada:
Hari/tanggal : Minggu/17 Juni 2012
Tempat : Gedung Bank Indonesia
Waktu : pukul 09-12.00WIB

• Hadiah lomba: pemenang 1-6 akan mendapatkan trophy, tabungan, dan bingkisan.


WORKSHOP MENULIS CERITA ANAK
• Peserta adalah ibu dan para guru, mahasiswa/I, dan umum.
• Biaya pendaftaran Rp75.000 untulk umum. Rp50.000 untuk guru dan mahasiswa/i.

• Workshop akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Minggu/17 Juni 2012
Waktu : Pukul 09.00-15.00WIB
Tempat : Auditorium Bank Indonesia
Pembicara : Ali Muakhir, penulis cerita anak. Pemegang Rekor MURI dan peraih penghargaan IKAPI sebagai penulis paling produktif.


Tempat Pendaftaran :
TB PARAMITHA
Jalan Twk.Hasyim Banta Muda/Jalan SMA 2-depan Dinas Kebersihan, Kampung Mulia-Banda Aceh

WAROENG MULTIMEDIA
Jl. T. Nyak Arief, Lorong PBB No 3 & 5 Belakang BRI Darussalam.


Jangan sampai ketinggalan yaaa..hayuu segera kabari teman-teman, tetangga, ponakan kita.. ^_^


Untuk info-info dapat meninggalkan comment atau menghubungi nomor panitia berikut;
CP :
Inge : 0812 69 88984
Aini : 0812 69 39344
Sarah:0812 69 30588




Minggu, 20 Mei 2012

Sepatuku, Saksi Semangatku..

Tak terasa, tahun ini aku sudah kelas 3 SMA. Itu artinya, hanya tinggal hitungan bulan aku mengenakan seragam sekolah dan sepatu ini. Sepatu kesayangan. Ingin rasanya, membeli sepatu baru di kelas tiga ini, “tapi tanggung, Insya Allah sudah mau lulus” pikirku. “Lagipula, uang darimana?” tanya hati kecilku. Ya, sepatu ini kubeli bersama ibu saat aku akan menempuh ujian akhir untuk menjadi seorang siswi SMA. Hingga akhirnya, Alhamdulillah, Allah perkenankan aku menjadi siswi di salah satu SMA terfavorit di kotaku.

Sepatuku adalah saksi semangatku. Bersamanya, kulalui perjuangan ujian akhir sekolah dengan baik, hingga menjadikanku salah satu siswi dengan nilai kelulusan terbaik di kotaku. Bersamanya pula, aku mendaftar ke beberapa SMA hingga akhirnya aku diterima menjadi siswi di salah satu SMA favorit yang kuharapkan.

Hari-hari di SMA begitu menyenangkan bagiku. Aku mulai mengenal dan aktif pada beberapa organisasi sekolah, mengikuti beberapa kegiatan eksakulikuler. Seperti FKRM (Forum Kreativitas Remaja Muslim), English club, Club mading dan fotografi, serta OSIS. Alhamdulillah, semua dapat terjalani dengan baik berkat Allah dan kesetiaan sepatuku yang selalu kukenakan setiap hari, seharian berjalan ke sana kemari, yang rela dilepas hanya ketika aku melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar.

Di tahun kedua SMA, teman-temanku tampak mengenakan sepatu baru, namun aku tidak. Masih loyal pada sepatuku. Toh masih bagus dan kuat. Masih sangat nyaman dikenakan. Akupun masih santai mengenakannya. Hingga saat musim hujan tiba, sepatuku kebasahan dan air mulai terasa membanjiri dalam sepatu. Walah, ternyata tapak sepatuku mulai ada bolongnya. Tak kelihatan dan tak terasa karena ukuran lubangnya kecil. Namun aku ingat benar, pagi itu kakiku kedinginan karena kaus kaki yang basah, tak bisa dilepas, ditempa dinginnya AC kelas.

Sepulang dari sekolah, ibu menjahitkan tapak sepatuku yang bolong. Wajar kata ibu, sudah tiga tahun dipakai terus seharian, kena panas dan hujan. Setelah dijahit, aku mulai lebih hati-hati mengenakan sepatuku. Mengupayakan sekali hindari jalanan becek agar air tak merembes masuk dan membasahi kaus kakiku.

Sepertinya, sekarang musim hujan terasa lebih panjang. Setiap pagi saat hendak berangkat ke sekolah, sering sekali hujan deras. Dan si sepatu, semakin lusuh. Sudah beberapa kali ibu menjahitkan tapaknya yang rusak, juga bagian atas sepatu yang mulai robek. Beruntung si sepatu berwarna hitam kelam tanpa corak. Kalau tidak tentu jahitan di sana-sini nya akan sangat kelihatan. Berkat ibu, sepatuku tetap tampak apik dan nyaman dikenakan.

Sepatuku adalah saksi perjalanan sejarahku. Meski makin hari makin tampak lusuh, namun bersamanya aku bertemu orang-orang penting, bertemu Bapak Presiden Susilo Yudhoyono beserta ibu Ani Yudhoyono dan bersalaman dengan beliau saat berkunjung ke Banda Aceh, juga mewawancarai Pak Sutiyoso yang saat itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sekaligus pendiri sekolah kami. Bersama sepatuku juga aku berbagi pengalaman dengan beberapa siswa dan mahasiswa University Sains Malaysia, serta ikut saat tampil di salah satu stasiun televisi lokal.

Sepatuku adalah saksi perjuanganku. Meski tapaknya kian menipis tergerus jalan, Mulai terasa panas di telapak kaki saat aspal terpanggang panasnya matahari, namun selalu menemani dan melindungi. Berjalan ke sana ke mari menyebarkan proposal berbagai kegiatan sekolah yang Insya Allah menebar manfaat, Alhamdulillah selalu berakhir dengan kesuksesan.

Sepatuku adalah bentuk rasa syukurku. Meski lusuh, namun aku tetap bahagia masih dapat dikenakan dengan aman. Hal itu kurasakan benar, saat melihat kejadian tapak sepatu temanku yang lepas tertinggal di belakangnya saat berjalan. Membuatku semakin bersyukur, memiliki seorang ibu yang begitu peduli padaku, yang tak pernah bosan menjahit tiap robekan di sepatu sekolahku agar tetap dapat dikenakan dengan nyaman.

Sepatuku adalah ciri khasku. Seperti tadi sore, saat aku bertemu dan bersapa dengan salah seorang guru SMP ku. “Bapak masih ingat dengan saya?” tanyaku. “Masihlah, sepatu kamu saja belum ganti-ganti” ujar beliau yang membuat kami tergelak bersama. :D


Noted :
Tulisan ini disertakan dalam lomba menulis kisah inspiratif, "Sepatu dahlan Iskan"yang diadakan oleh NouraBooks dengan alamat email promosi@noura.mizan.com. Berita lomba in dapat dilihat melalui link

http://noura.mizan.com/index.php?fuseaction=event_det&id=195

Kamis, 12 April 2012

Ibuku dimana?

Menjelang Ashar, saya baru saja melepas lelah di mesjid GKN usai berkumpul dengan beberapa anak. Radio mesjid tanda waktu Ashar akan masuk telah dinyalakan, saya pun memperbaharui wudhu, menggunakan mukena, dan sempat menelepon Kak Nieta menyampaikan kalau saya sedang di mesjid.

Tak lama setelah saya menutup percakapan via ponsel dengan Kak Nieta, berasa goyang. 'Mungkin karena belum makan' pikir saya. Namun semakin kencang dan menyadari kalau saya bukan sedang pusing,tapi gempa.

Karena seringnya merasakan gempa, saya sempat berpikir, 'mungkin sebentar lagi berhenti'
but no..no..no.. Semakin kencang. Kaca-kaca mesjid bergetar, lantai mesjid terasa benar bergoyang. Langsung saya melepas mukena dan bergegas keluar mesjid.

Saya berdiri di luar, terlihat beberapa orang berlari ke arah sp.surabaya. Wajah-wajah panik, orang-orang mengambil kendaraan dan pulang, teringat keluarga di rumah pasti. Cemas tergambar jelas dari raut wajah.

Yang ada di pikiran saya,
ibu dan adik saya. Harus segera pulang menjemput keduanya. Berulang kali saya menelepon, connection error. Rasanya air mata sudah berdesak-desakkan ingin keluar.

Sampai di taman makam pahlawan, lalu lintas sudah semrawut, mulai macet. Kecemasan membuat saya terasa lebih cepat menyelip dari tumpukan kendaraan.

Melewati SPBU Seutui menuju taman sari-gedung tsunami, itu arus kendaraan tak terkontrol, semua berebut ingin mendahului, dan saya? Menjadi minoritas kendaraan yang melawan arus. Semua menuju arah neusu-mata'ie, saya ke arah ulhe lheu. Pantai. *karena pulang lewat blouwer.

Rasanya semua terjadi begitu cepat. Pikiran saya cuma satu. Rumah. Jemput ibu dan adik kemudian segera ke tempat kakak di Mata'ie. Namun menjadi begitu sulit. Saya melawan arus di tumpukan kendaraan,nyaris tidak bisa bergerak maju.

Di tengah kekalutan saya, tiba-tiba bertemu teman. Rumahnya di Ulhe Lheu, anak-anak beliau masih kecil di rumah. Sempat bingung, bagaimana ini?
Saya memutuskan menjemput anak-anak teman saya di Ulhe Lheu. Maha Besar Allah, begitu teman saya naik di boncengan motor saya, bismillah, tujuan adalah Ulhe Lheu. Setelah itu, rasanya Allah membukakan sela-sela jalan untuk motor saya terus melaju meski melawan arus.

Teman saya terus mendoakan anaknya, suaranya terdengar mulai terisak, semoga kami masih diberi kesempatan menjemput anak-anak. Entah bagaimana ceritanya, saya bisa mengendarai motor di atas trotoar jalan dan melewati sela gerobak pisang bakar dengan cepat. Karena nggak akan bisa bergerak maju jika tetap berada di badan jalan. Di pandangan saya, tiba-tiba jalan begitu lempang. Allahu akbar..

Melewati jalan masuk menuju rumah, saya kuatkan hati, saya yakin, insya Allah, pasti Allah yang akan menjaga keluarga saya. 'Ya Allah, saya titipkan ibu dan adik padaMU' pinta saya berulang kali.

Langit cerah. Melewati pantai Ulhe Lheu, air laut tak tampak surut. Sedikit lebih tenang, namun tetap was-was.

Jemput anak-anak, bawa ke mata'ie lewat lambada. Padat luar biasa. Karena semua orang hanya ke satu tujuan yang sama. Sampai simpang dodi, sudah banyak polisi mengarahkan ke mata'ie-lambaro, jalan arah seutui-kota mulai ditutup. Mulai tambah cemas, 'Ibu dan adik saya sudah sampai mana? Sudah di mata'ie belum ya?'

sampai di simpang 3 lampu merah keutapang, makin cemas. Sepeda motor diarahkan polisi ke mata'ie, mobil diarahkan lurus ke lambaro-airport.

Satu jam-an kemudian baru sampai pemancar TVRI Mata'ie. Teman dan anak-anak turun tempat saudara. Saya bergegas ke tempat kakak.

Lewat toko kakak,tutup. Naik terus ke atas mata'ie, rumahnya kosong. Panik. Rasanya ingin menangis. Pada dimana mereka? T_T

Segera saya putar haluan. Saya harus pulang! Apalagi orang di mata'ie ada yang bilang mau ke bandara. Rasanya mau nangis saja mendengarnya.

Kembali melawan arus. Orang-orang ke Mata'ie, saya ke arah kota. Sendirian. Dengan memikul tas cukup berat. Sepanjang jalan, beberapa kali ditanya 'mengapa balik,dik?'
'jangan dulu, tinggal saja di sini dulu'

'mau jemput ibu dan adik' jawab saya selalu.

Sempat bercakap dengan seorang bapak saat terhenti sejenak. Dengan mata berkaca, bapak itu menyampaikan bahwa beliau juga tak bisa menjemput anaknya di Jambo Tape. Sedih, bapak itu juga nyaris menangis..:'( Rumah saya kosong. Daerah rumah saya sudah sepi banget. Nobody home. Tak ada tempat saya bertanya, di mana ibu dan adik saya. Luar biasa cemas. Airmata sudah berdesak-desakan hendak keluar. Ponsel nyaris mati lowbatt. Yang bisa connect malah jaringan internet, tapi untuk menelepon dan sms nggak bisa. Listrik mati.

Akhirnya saya ke Lampeunerut, tempat kakak sepupu saya. Ternyata ibu dan adik saya juga tidak ada. Kemana lagi saya harus mencari. Dimana mereka. Saya mulai tambah kacau perasaan.0
Saya pulang lagi, uda lemas. Alhamdulillah bertemu tetangga yang pulang. Katanya, ibu dan adik saya dibawa ke rumah di Mibo dengan keluarga om Budi. Alhamdulillah, lebih tenang rasanya hati saya.

Saya masuk rumah. Gelap. Lapar. Masak mie instan. Makan dalam gelap. Saat itu perasaan saya melow sekali. Terdengar suara helikopter mondar mandir memantau keadaan dari udara. Saya masukkan mukena, kaus kaki bersih,sikat gigi+odol, dan jaket dalam tas. Akhirnya, tertidur di sudut dinding ruang depan. Dan terbangun saat mendengar suara ibu dan adik saya. Alhamdulillah..malam ini saya masih berkesempatan bertemu mereka.

Pkl.22.00wib
Dalam gelapnya suasana malam tanpa listrik, pasca gempa, aroma 26 Desember 2004 silam masih tercium pekat. Tapi, langit malam ini sungguh sangat indah sekali. Begitu banyak bintang terang bertaburan memadati luasnya langit. Subhanallah.. :')

Doa..doa..doa.. *part 2

Berasa sudah lama banget nggak corat-coret notes. Doa..doa..doa.. part Dua, tapi ini berbeda jauh dengan part satunya. Yah, part satunya ditulis beberapa tahun silam, saat masih..masih..galau.. *halah.



Sungguh mukaddimah yang nggak penting, catatan ini juga nggak penting sih! :D



Selalu teringat kata-kata guru mengaji saya dulu, "Allah itu pasti akan mengabulkan doa kita, apa yang kita minta pasti diberi. Waktunya? bisa sekarang, bisa nanti, atau digantiNya dengan yang lebih baik."



Dan itu, absolutely benar. Saya pribadi merasakan kebenaran itu. Mulai dari hal-hal kecil aka sepele, mungkin. Hingga hal-hal besar yang saya minta dalam hidup saya. Yang dibisikkan "iseng" dalam hati, atau yang dipinta dengan sesungguh permohonan. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan pinta hambaNya, yakinlah.



Saya itu, susah banget ingat jalan, sudah berkali-kali menyusuri jalan yang sama, masih tetap saja bisa nyasar. Terutama kalau masuk komplek perumahan atau jalan yang banyak lorong-gang nya, bisa masuk, jarang bisa keluar. Berasa bingung dalam labirin. Disaat-saat bingung, saya suka bertanya-tanya dalam hati "Ya Allah, lewat kiri atau kanan ya? bantu saya melajukan kendaraan saya ke jalan yang benar ya Allah, semoga saya nggak telat, semoga saya nggak semakin nyasar, atau semoga saya bertemu orang yang dapat menunjukkan jalan, dst"



Dan Allah selalu membantu saya,

Saya bertemu orang yang saya kenal, atau Allah kuatkan felling saya melajukan kendaraan saya menuju jalan keluar, atau Allah ingatkan saya pada tanda jalan (bangunan, pohon atau palang jalan) yang saya ingat, hingga saya selamat sampai tujuan. Ini berarti sekali buat saya yang terkenal telatnya.



Lewat depan rumah makan, mencium harumnya aroma ayam bakar, dan saya sedang tak punya uang,

"Ya Allah, ingin sekali makan ayam"

Dan, esok siangnya saya ditraktir makan ayam bakar dengan seorang sahabat. Subhanallah.. :')



Di saat saya benar-benar dalam keadaan terjepit, disaat saya benar-benar bingung, gelisah, dan mulai dong..dong.. "Ya Allah, bagaimana ini?" dan tak lama, Allah beri solusinya di jam yang sama atau di hari yang sama. Subhanallah, sungguh pertolongaNya selalu berarti bagi saya.. :')



Atau ketika saya merasa tak ada yang dapat saya lakukan lagi untuk merubah suatu keadaan, saat air mata sudah berdesak-desakan hendak keluar, Allah selalu hadir dengan segala kemudahannya, dengan cara tak tak terduga oleh saya, Allahu Akbar..



"Ya Allah, jadikanlah rasa syukur menjadi bagian dari rezeki saya.." pinta saya kerapkalii.



di suatu ketika, saya melihat orang yang tidak saya kenal, "Ya Allah, saya ingin berkenalan dengannya"

beberapa hari kemudian, di tempat, waktu, dan moment yang unpredictable (halah), sering Allah pertemukan dengan orang yang mungkin terbesit dipikiran dan hati saya ingin mengenalnya, hingga berkenalanlah kami, beberapa diantaranya Alhamdulillah, Allah jadikan sahabat berbagi indahnya hidup.. :')



Pernah pula, berakhir setahun yang lalu. Lebih dari seribu malam tanpa jeda saya meminta satu hal yang sama pada Allah.. hanya satu hal itu saja yang saya ulang-ulang siang-malam dan di kala hujan. Untuk hal yang satu itu, saya meminta demikian spesifik, detail, jelas, lengkap. Hingga 3 tahun lebih berlalu yang kunjung menuai harapan. Kemudian saya mencoba menyadarkan diri, mungkin yang saya minta bukan sesuatu yang baik untuk saya, mungkin yang saya minta kelak akan membawa kemudharatan bagi saya. Dan saya pun berhenti berharap.



"Ya Allah, saya berserah diri padaMu, berilah saya yang terbaik menurutMu. Yang terbaik bagi saya, bagi keluarga saya, bagi agama saya, bagi keturunan-keturunan saya, bagi hari depan saya. Jangan beri yang terbaik menurut pandangan saya, namun berilah yang terbaik menurutMu, sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Mengetahui."



Dan,

Tepat sebulan yang lalu, di saat saya sudah melupakan dan tak menginginkannya lagi, doa yang saya panjatkan lebih dari 1000 malam yang berakhir setahun silam itu, Allah berikan. Persis seperti yang saya pinta. Lengkap dengan detail-detail yang sama. Sedikitpun tak berbeda. Membuat saya tergugu tak henti. "Ya Allah, benarkah ini yang terbaik bagi saya menurutMU? Jangan kabulkan pinta saya, jika ini hanya yang terbaik menurut ingin dan pandangan saya, beri saya yang terbaik MenurutMU."



Seringpula, saya yang pundungan dan kolokan ini suka tiba-tiba sensitif nggak jelas, nggak sabaran, dan nggak mau ngalah, meski dengan anak-anak sekalipun (haduh).



Misalnya gini..gini..



saya tuh punya benda yang saya buat dengan sepenuh jiwa dan raga (lebay). Susah payah, butuh waktu lama mengerahkan seluruh daya dan upaya saya untuk hasil maksimal seperti yang saya rencanakan, dan pastinya sangat saya sukai. Kemudian tiba-tiba, ada anak-anak yang memegangnya dengan khas anak-anak (kurang lembut maksudnya), HHHHH..NOOOOO..NGGA RELAAA.. :nangis



Kalau dulu, saya bisa langsung mengambil kembali sambil jelas, tegas mengatakan NO!



Kalau sekarang, berusaha menahan napas, memandang miris meski ingin menangis.. "Ya Allah, jadikanlah sabar menjadi bagian dari rezeki saya" sembari berpikir manis, "Ok, tenang sa, kamu kan bisa bikin lagi?" :senyum

*hihi, kok saya rasanya makin lebay ya? mungkin ke-lebay-an juga bagian dari rezeki saya.. :D



Bagi saya, apapun itu yang Allah berikan untuk saya adalah rezeki saya. Mata yang masih dapat melihat dengan jelas, pendengaran yang masih baik, tangan dan kaki yang berfungsi optimal, nafas yang lancar, keluarga, teman-teman, setiap kejadian, semuanya..semuanya.. semoga sabar dan syukur, semoga Allah tetapkan menjadi bagian dari rezeki saya pula.. :')



Dengan semua yang Allah berikan, kerapkali saya malu untuk meminta banyak hal, meminta terlalu sering.. tapi ternyata, saya tak pernah bisa berhenti untuk tak meminta padaNya. Apalagi kalau saya ingat, saya masih sering lalai, saya masih sering malesan beribadah padaNya, saya masih saja menunda waktu, padahal muadzin sudah mengingatkan jadwal meeting saya denganNya :malu :'(



Saya juga sekarang lebih hati-hati dalam berdoa, nggak berani minta "asal-asalan" lagi T_T

Misalnya ketika saya ada janji dengan teman mau kemana gitu, tapi saya malas keluar rumah, ntah karena cuaca yang panas, dan seabrek alasan lain yang sebenarnya nggak penting.

"Ya Allah, saya malas sekali keluar hari ini, semoga teman saya memaklum, tapi alasan apa yang harus saya beri?"

Alhasil, tak lama kemudian bisa jadi saya diare sampai lemas, pusing, atau sesuatu yang membuat saya memang harus benar-benar di rumah, hingga teman saya pun menjadi maklum.. (_ _!)



Allah sesuai prasangkan hambaNya.

Allah tak pernah mengabaikan pinta hambaNya, meski itu hanya tersirat sesaat..apalagi yang dipinta dengan kesungguhan hati. So, jangan pernah meragukan kepastian JanjiNYA.. :')



Oya, perkataan juga bagian dari doa, biasakanlah berkata yang baik, jangan sampai kita menyesal saat Allah mengabulkan perkataan buruk kita, yang mungkin tak sengaja kita lontarkan karena kesal, emosi.. take care!





Bingung mau nulis apa lagi, kok ini tulisan nggak jelas gini maksudnya apa ya? T_T


baca juga
Doa, dan...Doa..

(Seperti) Surel untuk Mba Siti..

Dear, mba Siti..

Barakallah fii umruki, semoga barakah usia,bahagia dunia akhirat.. :)



Mba Siti,

Mba Siti tahu nggak, Sa tuh sayaaaaang..banget dengan mba Siti, dengan Zaky, juga Ibu. Love..love..love..loveee.. :)



Kita bercanda, kita tertawa, kita berbagi apa yang bernama suka.

Tak hanya itu, kita juga berbagi duka. Ya,anggaplah duka saat airmata berdesak-desak keluar karena suatu sebab.



Tapi tahukah mba,

saat pertama kali melihat mba menangis dulu,

rasanya sa sediiih banget..sa sampai nggak tahu harus mengatakan atau berbuat apa. Sa bingung. Ingin rasanya mengusap airmata mba Siti, menghibur dengan kata-kata yang dapat menenangkan. Namun entah mengapa yang ada lidah menjadi demikian kelu, laku pun menjadi kaku. Maaf.. :'(



Terekam jelas dalam ingatan sa, setiap kalimat dari mba Siti saat Sa down, saat Sa merasa tak berarti, saat Sa merasa begitu kecil di antara luasnya kenyataan.. Mba Siti menguatkan. Mba Siti tidak meninggalkan Sa.. Semua itu berarti sekali bagi Sa, mba.. :')



Atau,

Ingatkah saat kita naik banana boat?

Saat merendamkan kaki dalam dinginnya air di irigasi?

Jalan-jalan ke toko buku?

Atau sekedar berbagi cerita dan canda saat berkumpul seru?

Selalu mencintai saat-saat itu.. :)





Mba Siti di mata Sa adalah sosok luar biasa. Tegar,kuat, meski suatu kali kita perlu menangis untuk mengungkapkan segala rasa. Mba Siti juga ibu yang hebat bagi Zaky.. :)



Kebahagiaan atasmu selalu pintaku padaNYA, semoga cinta ini tak hanya berlabuh dalam ikatan ukhwah di dunia, namun juga berkekalan hingga di JannahNYA. Allahumma Amin..



Mencintaimu seperti mencintai Surga, dan karenaNYA tentunya.. :')



Mungkin, Sa memang bukan yang terismewa,namun mencintai mba Siti adalah keistimewaan bagi Sa.. :)



yang nyayangi mba Siti,



Sarah :)