Karya Muhammad Amin ini memperkaya literatur Islam tentang perempuan utama yaitu putri Rasulullah. Keteladanannya sebagai seorang anak, istri dan pejuang yg dikisahkan dengan apik ini, patut menjadi bacaan sejarah yang penting bagi kita semua.
"Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku. Siapa yang menyakitinya ia telah menyakitiku."(Hadits Riwayat Bukhari)
Siapa sebenarnya Fathimah?? Mengapa Sang Nabi melalui lisan sucinya, berkali-kali mengingatkan kita untuk memuliakan Fathimah?? Mengapa Allah SWT memberikan keturunan pada Rasulullah melalui anak perempuannya ini??
Fathimah binti Muhammad tentu bukanlah wanita biasa. Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah banyak menarik perhatian orang. sebelum kelahiran Fathimah, suatu hari, ketika Nabi suci Muhammad saw duduk di tepi sungai dengan sahabat-sahabatnya, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan berkata, "wahai Muhammad, Allah Yang Maha Tinggi mengucapkan salam untukmu dan Dia menyuruhmu untuk memisahkan diri dari istrimu Khadijah selama 40 hari."
Setelah Jibril pergi, Nabi berkata kepada muridnya, Amar bin Yasir, "wahai Amar katakanlah kepada Khadijah, istriku, bahwa atas perintah Allah yang maha mulia, aku memisahkan diri darinya selama 40 hari. katakan kepadanya, "jangan menyangka aku benci atau akan pindah. Sesungguhnya Allah ta'ala membanggakan dirinya dihadapan Malaikat setiap hari berkali-kali. Jika malam telah gelap, beritahukan kepadanya agar menutup pintu dan tidur di ranjangnya. aku akan berada di rumah Fathimah binti Asad.
Khadijah memahami betul pesan ini. Fathimah sangat memahami kejujuran suaminya, Muhammad saw, karena itu Khadijah dengan sabar menunggu, meski hatinya sedih karena harus berpisah dengan suami tercinta.
Setelah 40 hari berlalu masa puasa Nabi, Malaikat Jibril turun dan berkata, "wahai muhammad, Allah Yang Maha Tinggi mengucapkan salam padamu dan Dia memerintahkanmu untuk bersiap-siap menerima penghormatan-Nya dan Anugerah-Nya.
Sesaat kemudian datanglah Mikail dengan membawa sebuah mangkuk indah, ditutupi sehelai kain sutera. "Wahai Muhammad, tuhanmu menyuruhmu agar engkau berbuka dengan makanan dalam mangkuk ini pada malam ini." setelah selesai makan, Nabi bermaksud melakukan shalat. Namun tiba-tiba Jibril menghalangi Nabi dan berkata, "untuk shalat kali ini, Allah melarangmu sebelum engkau mendatangi Khadijah. Karena sesungguhnya pada malam ini Allah ta'ala menginginkan keturunan yang baik tercipta dari sulbi yang baik."
Setelah peristiwa itu, Khadijah merasakan dirinya sedang hamil. Hari demi hari, bulan demi bulan, kandungan Khadijah semakin membesar. Khadijah merasa terhibur apalagi janin yang ada dalam kandungannya sangat istimewa, karena janin itu sama sekali tidak membebani Khadijah.
Kelahiran sayidah Fathimah diisyaratkan dalam surat al-kautsar, "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (Al-kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (abtar)."
Bayi perempuan suci itu diberi nama Fathimah yang artinya terlindung dari kejahatan. Nabi dan Khadijah sangat menyayangi Fathimah. Nabi menunjukkan kecintaannya kepada Fathimah dihadapan para sahabat dan kaumnya Nabi. Nabi sering menggendong fathimah dan menciuminya seraya berkata, "Jika aku rindu dengan harumnya Surga maka aku akan mencium putriku Fathimah. Karena dia diciptakan dari makanan surga."
Fathimah juga dijuluki sebagai al-Muhaddatsah (wanita yang diajak bicara) lantaran para malaikat datang dari langit dan memanggilnya, sebagaimana malaikat memanggil Maryam binti Imran. Para Malaikat berkata, "Hai Fathimah, sesungguhnya Allah memilih, menyucikan, dan mengutamakanmu atas segala wanita di semesta alam. Hai Fathimah, patuhlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang sujud dan ruku'.
Nabi saw bersabda, Surga merindukan empat wanita, yaitu Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim (istri Fir'aun), Khadijah binti Khuwalid dan Fathimah binti Muhammad."
Sejak ballita, Fathimahlah yang membantu dakwah ayahnya. Tangan kecil Fathimah-lah yang membersihkan kotoran yang dilemparkan kaum kafir Quraisy ke kepala suci ayahnya.
Ibadah Fathimah pun sangatlah luar biasa. Ketika menegakkan shalat, Fathimah selalu tersengal nafasnya karena takut kepada Allah. Membicarakan ibadahnya Fathimah, tiada akan ada habisnya, khususnya doanya kepada Allah ta'ala. Fathimah menyadari makna mendalam ibadah dan berdoa kepada Allah dan menikmati shalat di hadapan Sang Maha Perkasa. Hal ini tidaklah aneh, sebab untuk ayahnyalah al-Quran memaktubkan firman-Nya, "Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu untuk agar kamu menjadi susah." Karena Nabi shalat dengan lama, Allah ta'ala mewahyukan ayat ini baginya sebagai kelapangan dan kemudahan.
Hasan putra Fathimah berkata, "suatu kali, pada jumat malam, aku menyaksikan ibuku, Fathimah, salat sepanjang malam. Beliau terus-menerus rukuk dan sujud hingga fajar. kudengar beliau berdoa bagi para Mukmin dengan menyebut nama mereka. Namun tak kudengar beliau berdoa untuk dirinya sendiri. Karenanya aku bertanya, Ibunda, mengapa ibunda tak berdoa untuk dirinya sendiri sebagaiman ibunda berdoa untuk orang lain? Beliau menjawab, Putraku, Dahulukan tetanggamu dari dirimu sendiri."
Diriwatkan, seperti halnya Maryam (Ibunda Nabi Isa AS), Allah SWT kerap menurunkan hidangan dari langit ketika Fathimah beribadah di mihrabnya.
Sebagai seorang putri Nabi, Fathimah adalah pemilik kepribadian yang sempurna. Tidak ada yang meragukan ketaqwaannya kepada Allah SWT, demikian juga dengan kecerdasan, keberanian, dan kesigapannya. Fathimah memperoleh pengetahuan Ilahiyanya dari benderangnya kenabian dan menerima kecemerlangan kebenaran dari rumah wahyu. Hatinya berhias kebijakan risalah. Nalar cemerlangnya adalah wujud kecerdasannya. karenanya kebenaran setiap realitas hadir dalam wujud Fathimah Az-Zahra. Dialah guru pertama para perempuan yang datang kepadanya untuk bertanya tentang Islam yang diajarkan ayahnya.
Seorang perempuan menemui Fathimah dan bertany, "Aku mempunyai seorang ibu lemah. Dia menjadi bingung tentang sebuah masalah terkait dengan shalatnya. Dia mengirimku agar menanyakan kepada anda tentang hal itu."
Mendengar jawaban Fathimah, perempuan itu merasa terpuaskan. Setiap kali dia memilki masalah, setiap itu pula dia mendatangi Fathimah dan mendapatkan jawaban. Demikianlah hingga berulang-ulang. Dan Fathimah selalu dengan ramah menjawabnya. Hingga suatu hari, perempuan itu menanyakan pertanyaan lain dari ibunya dan dengan tidak enak hati dia berkata, "Aku tidak akan mengusikmu lagi, wahai putri Rasulullah".
Fathimah menjawab, Bertanyalah kepadaku tentang apa saja yang terlintas di benakmu. Karena ibarat seorang laki-laki yang telah disewa untuk mngangkut beban ke puncak sebuah gunung dengan bayaran seribu dinar, apakah hal itu akan memberatkannya??"
Fathimah melanjutkan, "Upahku untuk menjawab setiap pertanyaan lebih aripada mutiara yang memenuhi ruang antara bumi dan Arasy. Karena itulah aku harus lebih cekatan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu."
Bahwa Rasulullah bersabda, "Ketika para ulama pengikut kita dikumpulkan (pada hari kebangkitan), mereka akan dianugerahi jubah-jubah kehormatan yang setar jumlahnya dengan pengetahuan dan perjuangan mereka untuk membimbing hamba-hamba Allah, sampai ke titik setiap orang dari mereka akan dihadiahi satu juta jubah cahay. Lalu, penyeru Allah SWT akan berkata, "Wahai para wali anak-anak yatimnya Muhammad. Kalian yang mengilhami mereka ketika mereka dipisahkan dari ayah-ayah mereka, yang menjadi imam-imam mereka, inilah murid dan para yatim yang kalian lindungi dan ilhami. karena itu anugerahilah mereka dengan jubah-jubah pengetahuan tentang kehidupan. Maka mereka akan menganugerahi satu juta jubah. Selanjutnya para yatim menganugerahi orang-orang yang belajar dari mereka.
Diantara ajaran-ajaran Islam yang mendapat perhatian khusu adalah melindungi kehormatan perempuan, kecantikan perempuan ketika dia mentaati aturan berbusana muslimah. Sebagai contoh, Fathimah melakukan tindakan terpuji sebagai wujud nyata identitas sseorang muslimah. Dikisahkan bahwa suatu hari Nabi bertanya pada para sahabat. "Apakah yang terbaik bagi kaum perempuan?" Para sahabat tidak tau bagaiman menjawab pertanyaan Nabi itu. Lalu Ali mengabarkan hal itu pada Fathimah, FAthimah menjawab "Yang terbaik bagi mereka adalah tidak melihat laki-laki (selain suaminya) dan tidak mengizinkan laki-laki (selain suaminya) melihat mereka. Kemudian Ali kembali kepada Rasulullah dan membawakan jawaban FAthimah. Ketika beliau mendengar jawban itu, Nabi berkata "Sungguh dia telah mengucapkan kebenaran, karen dia bagian ari diriku."
Fathimah juga gadis yang pemberani. Bersama saudara-saudara perempuannya, beliau berada dibarisan belakang pertempuran pasukan ayahnya, merawat pasukan Islam yang terluka.
Jika kaum Muslimin bisa mencontoh Rasulullah, maka kaum muslimah dengan segala aspeknya yang berbeda dengan pria, mempunyai Fathimah sebagai teladan nan sempurna.
Begitu sering nama Fathimah kita dengar, namun begitu banyak sisi kemuliannya yang mungkin belum kita ketahui. Inilah sebuah kisah wanita telada termulia; seorang putri tercinta dari Sang Musthafa dan Khadijah Al Kubra.
Tampilkan postingan dengan label Siraah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siraah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 April 2011
Rabu, 16 Maret 2011
Sang Pemimpin
Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: "Lepaskan aku! Siapa ini?" Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: "Siapa mau membeli budak saya ini?"
Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya.
Lalu katanya riang: "Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual."
"Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;" sahut lelaki yang memeluk dan 'menawarkan' dirinya seolah budak itu
yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.
Zahir Ibn Haram dari suku Asyja', adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, "Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia."
***
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW.
Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh –tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden-bupati Anda? Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu. Sekarang pengandainya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda 'sampai hati' bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu? Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia.
***
Kharqaa', perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, "Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa'; kemana gerangan perempuan itu?"
Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: "Lho, Kharqaa' sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah." Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa' tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ' kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: "Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?".
Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu.
***
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas.
Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun.
***
Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: "Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, 'Mengapa kau lakukan itu?' Tidak pernah beliau mencelaku."
"Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;" cerita Anas lagi, "Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, 'Aku tidak akan pergi.' Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, 'Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?' Aku pun buru-buru menjawab, 'Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.'"
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada 'majikan'nya itu.
Waba'du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini. Amin.
Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya.
Lalu katanya riang: "Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual."
"Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;" sahut lelaki yang memeluk dan 'menawarkan' dirinya seolah budak itu
yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.
Zahir Ibn Haram dari suku Asyja', adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, "Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia."
***
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW.
Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh –tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden-bupati Anda? Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu. Sekarang pengandainya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda 'sampai hati' bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu? Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia.
***
Kharqaa', perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, "Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa'; kemana gerangan perempuan itu?"
Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: "Lho, Kharqaa' sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah." Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa' tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ' kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: "Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?".
Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu.
***
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas.
Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun.
***
Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: "Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, 'Mengapa kau lakukan itu?' Tidak pernah beliau mencelaku."
"Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;" cerita Anas lagi, "Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, 'Aku tidak akan pergi.' Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, 'Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?' Aku pun buru-buru menjawab, 'Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.'"
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada 'majikan'nya itu.
Waba'du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)